Ketik disini

Headline Praya

Tuding Sopir Travel Peras Wisatawan

Bagikan

PRAYA – Kunjungan wisatawan A�di air terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu di Desa Aik Berik, Batukliang Utara (BKU) Lombok Tengah (Loteng), membuat sjumlah pihak mengambil keuntungan.

Kasus terakhir menimpa sekelompok wisatawan asal Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka batal berkunjung karena diminta membayar tiket masuk melebihi tarif normal.

Warga setempat justru menuding hal itu dilakukan oleh sejumlah oknum sopir travel yang membawa penumpang.

Caranya meminta tamunya tidak turun dari mobil, saat memasuki pintu masuk area parkir Benang Stokel. Konon sopir meminta petugas menaikkan tarif melebihi sekitar Rp 50 ribu per orang.Padahal tarif resmi hanya Rp 3 ribu sesuai Perdes setempat.

a�?Yang jelas, kasus yang menimpa wisatawan asal Jakarta beberapa waktu lalu itu, diduga dilakukan sopir travel. Bukan siapa-siapa,a�? A�tuding salah satu tokoh masyarakat Desa Aik Berik Marwi pada Lombok Post, kemarin.

a�?Itu kami ketahui, setalah kami mengumpulkan seluruh petugas di tempat itu,a�? lanjutnya.

Penjelasan ini berbeda dari kabar yang sebelumnya menyebut sopir travel berbalik arah karena enggan membayar Rp 50 ribu per penumpangA� yang diminta oleh sejulah oknum di kawasan tersebut.

a�?Ini yang kami ingin luruskan, kasus yang menimpa wisatawan asal Jakarta itu, bukan dari warga kami,a�? sambung tokoh masyarakat lainnya, Abdul Kadir Maklum, singkat.

Sementara itu, kepala desaA� Aik Berik Musleh Hudin menegaskan, seluruh biaya retribusi yang ditarik petugas di area wisata alam kaki Gunung Rinjani itu, sudah memiliki dasar hukum. Sehingga, para petugas tidak akan berani melanggar. a�?Ketentuan biaya sudah jelas secara rinci,a�? katanya.

Kendati demikian, ia berharap, agar TNI/Polri, dibantu Satpol PP dan badan keamanan desa (BKD) ikut berperan aktif membantu pemerintah desa, menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan. Dengan cara, menempatkan personilnya masing-masing, di luar maupun di dalam area wisata.

a�?Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Ditengah kita mempromosikan pariwisata, justru ada yang menjatuhkan,a�? sambung ketua Ketua PHRI Loteng Lalu Fathurrahman, terpisah.

Untuk itulah, pihaknya meminta agar Pemkab lebih tegas lagi menerapkan aturan. Begitu pula pemerintah desa.

a�?Kami di Disbudpar menyerahkan sepenuhnya pengelolaan dua air terjun itu ke pemerintah desa,a�? kata Kepala Dinas Budpar Loteng HL Muhammad Putrie.

Terhadap adanya pemalakan itu, pihaknya meminta para petugas yang ditunjuk pemerintah desa, sesuai tugas dan fungsinya masing-masing, agar menjaga kekompakan.

Khususnya, memerangi yang namanya pemalakan dan aksi kejahatan lainnya. a�?Mari kita ciptakan sapta pesona,a�? seru Putrie.(dss/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka