Ketik disini

Metropolis

Sarjana Ekonomi yang Ogah Jadi PNS

Bagikan

Puluhan bahkan ratusan kilo daging di Kota Mataram dihasilkan dari Rumah Potong Hewan (RPH) Majeluk. Di sana, para tukang jagal memasok kebutuhan daging untuk dipasarkan. Bagaimana kisah para penjagal ini?

***

SUASANA masih gelap. Waktu menunjukkan sekitar pukul 05.15 wita. Azan subuh sudah mulai berkumandang. Meskipun masih gelap, suasana di area RPH Majeluk sudah mulai ramai. Dengan penerangan yang ada, beberapa orang terlihat sibuk mondar-mandir melakukan aktivitasnya.

Di area RPH Majeluk, darah bercecer di mana-mana. Sehingga, lantai teras yang ada di RPH ini seolah baru saja selesai dicat warna merah.

Ceceran darah itu terlihat masih segar. Darah ini  merupakan darah sapi yang baru saja dipotong. Sementara bau tak sedap berasal dari bagian daging, maupun organ sapi yang sudah dicincang dan dipisah-pisah.

Ya, lokasi ini merupakan pusat perdagangan daging di Kota Mataram selain di Sekarbela. Para pedagang daging maupun masyarakat yang ingin membeli daging untuk konsumsi pribadi, berburu di sini. Mereka ingin mendapatkan daging segar dari para tukang jagal yang menyembelih beberapa ekor sapi.

Setiap harinya ada sekitar 16-20 ekor sapi yang dipotong di sini. Menjelang lebaran bisa mencapai 30 lebih. Sehingga untuk waktu sekitar seminggu saja, Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan H Mutawalli mengungkapkan sebanyak 475 ekor sapi disiapkan untuk dipotong di sini.

Ada belasan tukang jagal yang beroperasi di RPH ini. Beberapa diantara tukang jagal ini menyembelih dua hingga tiga ekor sapi. Kemudian, dagingnya dipisahakan dengan bagian tulang maupun organ tubuh lainnya.

Sebagian besar tukang jagal ini merupakan pria. Namun, beberapa diantara mereka dibantu oleh perempuan. “Saya dibantu sama orang tua, istri dan anak untuk membagi daging ini dan menjualnya,” kata Muhammad Ibnu Sina, salah seorang penjagal di RPH Majeluk.

Penampilan Ibnu Sina cukup stylish, menggunakan celana pendek dan kaos omblong warna hitam. Sina, sapaan akrab pria ini mengaku berasal dari Seganteng Cakranegara. Ia terlihat melayani permintaan beberapa konsumen yang merupakan pedagang daging maupun warga biasa.

Setelah tawar menawar mencapai kata sepakat, ia pun kemudian menimbang daging untuk diketahui beratnya. Agar bisa menentukan harga. “Kami sudah punya langganan atau agen yang memasarkan daging ini,” aku dia.

Sina merupakan tukang jagal yang sudah beroperasi sekitar 15 tahun di RPH Majeluk. Ia mulai menekuni bisnis ini sejak lulus dari bangku kuliah. Diungkapkannya, usaha sebagai tukang jagal merupakan usaha turun temurun yang dilakoni keluarganya. Ia sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada usaha ini sejak masih kecil.

“Mungkin kalau orang yang baru masuk (ke area RPH Majeluk, Red), pasti akan merasa jijik atau risih dengan darah dan bau tak sedap. Tapi karena sudah biasa dari kecil makanya saya sih nggak apa-apa,” akunya.

Diceritakan Sina, ia tertarik untuk menekuni usaha sebagai tukang jagal ini karena melihat peluang keuntungannya cukup menjanjikan. Ditambah, background keluarganya sebagai pengusaha diungkapkanya membuatnya memiliki pengalaman di bidang ini. Sehingga, tamat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Mataram, ia tanpa pikir panjang untuk menekuni usaha ini.

“Saya kuliah di STIE AMM Mataram jurusan ekonomi. Selesai kuliah saya langsung terjun ke bidang ini. Saya tidak tertarik jadi PNS atau pegawai kantoran,” aku dia.

Menurutnya, menjadi PNS atau pegawai kantoran akan membatasi potensi yang dimilikinya. Sehingga, ia mengaku tidak bisa berkembang dan memaksimalkan jiwa usaha yang ada dalam dirinya. Ditambah, penghasilan sebagai PNS atau pegawai menurutnya masih kalah dibandingkan sebagai tukang jagal.

“Nggak ada cita-cita jadi pegawai kantoran. Saya kuliah hanya untuk menuntut ilmu. Toh ilmu yang saya dapatkan di kuliah bisa saya manfaatkan untuk usaha,” bebernya.

Sehingga, anggapan orang kalau pekerjaan sebagai tukang jagal merupakan pekerjaan kasar, tak dihiraukannya. Baginya, pekerjaan ini adalah pekerjaan halal yang memberi keuntungan cukup menjanjikan.

Bayangkan saja, dalam sehari, ia mengaku bisa meraup keuntungan Rp 3-5 juta. Itu didapat dari tiga ekor sampi yang dipotongnya di RPH Majeluk.

“Tergantung bagiamana kita pintar-pintar menaksir harga sapi di pasar hewan kemudian menjualnya kembali ke pedagang daging,” ungkapnya.

Satu ekor sapi dibelinya dengan harga Rp 12 juta. Dengan tiga ekor yang biasa ia potong, otomatis ia harus menyediakan uang sebesar 36 juta bahkan lebih. Kemudian, setelah dipotong dan dipisahkan dagingnya dan organ lainnya, sapi tersebut bisa dijual hingga 13 juta lebih per ekor. “Kita cepat lihat hasil (uang, Red) kalau usaha ini,” akunya.

Namun demikian, tentunya untuk terjun ke dunia ini butuh modal yang cukup besar. Yakni kisaran Rp 200 juta lebih. Karena, meski keuntungannya cukup besar, pada pedagang juga tak jarang mengalami kerugian. Itu diakibatkan harga sapi yang dibeli dan ditaksir memiliki harga jual kembali tinggi. Tapi, setelah dipotong ternyata malah sebaliknya.

“Sering juga sih rugi kalau harga taksirannya meleset. Itu makanya banyak tukang jagal yang gagal menekuni usaha ini,” tuturnya.

Menurutnya tidak semua orang bisa berhasil menekuni usaha sebagai tukang jagal. Butuh bakat. Mengingat, saat memebeli sapi di pasar hewan, seorang tukang jagal harus punya kemampuan menaksir harga. Karena saat membeli sapi tidak ada takaran atau ukuran pasti menggunakan alat atau yang lainnya.  Untuk itulah keahlian menaksir harga sapi sangat dibutuhkan seorang tukang jagal. Agar tidak rugi.

Di samping tergiur dengan keuntungan dari usaha ini, Sina mengungkapkan beberapa hal lain yang membuatnya senang sebagai tukang jagal. Ia menilai pekerjaan ini banyak multiplier effect-nya.

“Kulitnya kan bisa dibuat usaha kerupuk. Usaha kerupuk itu ditekuni kakak saya. Dia berhenti kerja dari Bank dan sekarang lebih memilih menekuni usaha kerupuk dari kulit sapi,” ungkapnya. (Hamdani Wathoni/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka