Ketik disini

Metropolis

Tim Terpadu Tak Bernyali

Bagikan

MATARAM – Rencana penertiban bangunan liar tidak kunjung terealisasi. Pemkot Mataram seperti tidak punya nyali untuk bertindak tegas. Padahal sebelum memasuki bulan puasa, pemkot berulangkali mengancam akan membongkar.

Tapi setelah lebaran, tim terpadu yang diisi pemerintah dan aparat penegak hukum tidak kunjung action. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Tata Kota Mataram H Lalu Junaidi mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengajukan surat perintah penertiban dan pembongkaran kepada wali kota.

”Begitu turun surat perintah pembongkaran, kami dari tim langsung menyikapi dalam bentuk eksekusi,” katanya.

Eksekusi akan dilakukan terhadap bangunan yang melanggar dan diberikan teguran tapi tidak memberikan respon apapun terhadap surat teguran. Junaidi menyebutkan, dari 118 pelanggaran hampir setengahnya sudah merespon.

Ada yang secara langsung melakukan perbaikan sesuai arahan, ada juga yang minta waktu setelah puasa. Dengan catatan membuat surat perjanjian hitam di atas putih akan menertibkan sendiri bangunanya. Mereka diberikan deadline dua kali 14 hari, dan setelah lebaran mestinya sudah ditertibkan.

”Ada yang pada peringatan pertama bereaksi, ada yang setelah peringatan kedua baru bereaksi, sekarang mungkin kurang dari 50 persen sisanya,” kata mantan kepala Inspektorat ini.

Karena yang merespon mencapai 50 persen, diperkirakan jumlah bangunan yang akan dieksekusi tidak sebanyak jumlah awal. Yakni 118 pelanggaran. Ada juga beberapa pemilik bangunan meminta kebijakan tidak dibongkar.

Seperti toko yang memasang genset di depan ruko. Di samping karena berat untuk memindahkan, juga mengenai tempat terbatas. Jika tidak ada tempat untuk menaruh genset itu maka dinas tata kota meminta agar diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kepentingan publik. ”Khususnya yang berjualan di ruang publik, tidak ada toleransi yang seperti itu,” katanya.

Pemkot Mataram memiliki target penertiban sudah harus dilakukan sebelum pelaksanaan MTQ Nasional 30 Juni mendatang. Sehingga minggu depan penertiban sudah akan dimulai.

Pedagang yang berjualan di trotoar tidak akan susah ditertibkan, tapi bangunan permanen agak sulit untuk ditertibkan. Jumlahnya sekitar 10 bangunan, dan terhadap bangunan ini butuh tindakan yang lebih tegas.

”Tapi nanti kita lihat, kalau dia sanggup melakukan perbaikan sendiri, kita tidak akan eksekusi,” ujarnya.

Meski demikian, Junaidi membantah dianggap memberikan toleransi terhadap pelanggaran tata ruang. Hanya saja, teknis penanganan masing-masing pelanggaran yang akan berbeda. (ili/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka