Ketik disini

Metropolis

H Mohan Roliskana, Percantik Kota Lewat Jalur Anti Mainstream

Bagikan

Wakil Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana benar-benar nekat! Menyerahkan a�?wajaha�� kota dipermaks seniman Airbrush! Padahal seni ini, kerap lekat dengan kesan Vandalisme. Akankah kota berubah jadi cantik? Atau sebaliknya, terlihat a�?menora�� dan memalukan!

***

PANAS sekali. beberapa orang memilih, kabur ke bawah rindangnya pohon-pohon di tepi jalan. Atau para pengendara, tancap gas, buru-buru ingin sampai ke tempat tujuan. Tapi, tidak dengan sembilan anak muda itu.

Mereka bertahan dibawah terik matahari sambil a�?mencorat-coreta��, tembok di sebelah selatan jalan Pejanggik, dekat dengan Eks RSUP Provinsi NTB.

Aksi Vandalisme kah? Bukan! Mereka tengah mempercantik wajah kota. Memang tak lazim. Jika anak muda memegang cat semprot kaleng. Stigmanya, selalu saja negatif. Kalau bukan vandalisme, ya corat-coret kelulusan. Meski tak selamanya seperti itu. Sebab, pegang kaleng cat semprot, bisa saja ia tengah mengecat ulang body mobil atau motor.

a�?Pak Wakil (H Mohan Roliskana) yang meminta kami melakukan ini,a�? kata Komandan karya seni graffiti di bidang mural itu. Namanya, Altha Rivan. Dia adalah, Art Director dari Paerstud. Grafic Design & Illustration yang beralamat di Pajang Timur, Mataram.

a�?Saya juga nggak nyangka beliau (Wakil Wali Kota), mau menerima karya kami untuk mempercantik kota. Ini benar-benar penghargaan yang luar biasa,a�? imbuhnya.

Memang agak aneh. Bahkan bagi Altha yang menekuni seni graffiti itu pun seakan tak percaya, jika itu Wakil Wali Kota sendiri yang meminta padanya. a�?Kalau soal bayaran sebenarnya tidak seberapa. Tidak usahlah disebut. Yang jelas, tawarannya ya masih di bawah permintaan Swasta, tapi kesan vandalisme yang kerap melekat dengan seni yang kami tekuni, seperti terangkat ketika beliau mau menghargai karya kami untuk mempercantik kota,a�? ulas Altha bangga.

Altha dan rekan-rekanpun berjanji membayar kepercayaan Mohan, dengan karya terbaik yang bisa mereka hasilkan. Karena itu, meski siang itu sangat panas hingga membuat kulitnya yang legam semakin mengkilat, Altha dan rekan-rekan tak peduli.

a�?Kami ditarget tanggal 26 (Juli)A� harus selesai, kami siap mengerjakan sebaik-baiknya,a�? ungkapnya.

Memang ini seperti pertaruhan reputasi. Sebuah media publik atau rakyat, diserahkan pada seniman tak lazim. Akankah jadi cantik atau justru tambah membuat wajah kota morat marit?

a�?Teman-teman di sini punya pandangan artistik yang berbeda, tapi agar hasilnya tidak liar dan sulit dinikmati orang lain, saya arahkan mereka menggambar pola yang aman yang dirasa bisa dinikmati banyak orang,a�? jawab pria yang mengaku beristri orang Gunung Sari, Lombok Barat itu.

Spesifik idenya adalah, mereka akan menggambar beberapa ikon kebanggaan Provinsi yang ada di Kota Mataram. Seperti Islamic Center. Lalu, melukis rumah ibadah agama-agama yang ada di Kota Mataram. Seperti Masjid, Pura, Gereja hingga Vihara.

a�?Ini perwujudan dari moto Kota Mataram yang maju, religius dan berbudaya,a�? kata dia.

Altha lagi-lagi tak mau berbagiA� cerita, berapa duit yang dikeluarkannya untuk membeli cat dan cat semprot kaleng. Namun demi memenuhi ekspektasi Wawali, Altha sampai bela-belain mendatangkan cat semprot kaleng khusus, untuk mendapatkan varian warna yang lebih kompleks dan segar.

Sebelumnya, Mohan juga sudah menantang Altha dan kawan-kawannya. Mengecat sekaligus semua tembok milik pemerintah Kota Mataram dengan gaya dan kreatifitas seni mereka.

a�?Tapi saya harap beliau lihat dulu pilot project kita, seperti apa hasilnya. Kalau beliau suka, kita siap warnai seluruh kota,a�? ujarnya.

Sebenarnya, Altha dan rekan-rekannya bukan kali ini saja dipercaya mengerjakan karya seni Graffiti. Mereka juga berulang kali, a�?mencoret-coreta�� dinding kamar berbagai hotel di Jakarta dan Bali. Terakhir, mereka mengerjakan proyek graffiti, di Lombok Interntional Airport (LIA). Tapi, ini kepercayaan pertama dari pemerintah.

a�?Aku melihat seni graffiti ini punya masa depan yang bagus. Memang saat ini, baik image dan peminatnya masih sedikit, tapi lambat laun orang akan familiar dan mulai menikmatinya,a�? ulasnya.

Bahkan, dalam kacamata Altha, pemuda di Lombok, ternyata memiliki talenta seni graffiti. Sayang, selama ini mereka a�?sembunyia�� karena beberapa hal. Pertama, karya mereka jarang diapresiasi positif oleh orang lain. Kedua, seni graffiti butuh media besar, seperti tembok. Tentu, tak banyak orang yang mau temboknya a�?dicorat-coreta��, kecuali bagi yang mencintai seni ini.

a�?Makanya ketika aku coba open rekruitmen, untuk masuk dalam tim kerjaku, hanya menggunakan media sosial, respon ternyata luar biasa. Mereka yang selama ini sembunyi-sembunyi keluar dan menunjukan portofolio hasil karya mereka yang keren-keren,a�? pujinya.

Altha dan timnya, masih terus berkarya. Mereka berjanji kerja siang malam demi kesempurnaan hasil. Menyiapkan pemandangan wajah kota, yang tak biasa bagi kafilah MTQ.

a�?Ini benar-benar pertaruhan yang besar,a�? tandasnya, sembari kembali melanjutkan pekerjaanya.(Lalu Muhamad Zainudin/Mataram/r6)

Komentar

Komentar