Ketik disini

Headline Sumbawa

Pendidikan Wajib Mendahului Zaman

Bagikan

SUMBAWA – Wakil Presiden HM Jusuf Kalla menggelar kunjungan ke Tana Samawa kemarin (20/1). Wapres antara lain meletakkan batu pertama pembangunan Bale Dea Guru “Bait Kalla” dan masjid Saidah di Pondok Pesantren modern Internasional Dea Malela, di Dusun Pemangong, Desa Lenangguar, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa.

Selain itu, Wapres juga mengunjungi tambang PT Newmont Nusa Tenggara di Batu Hijau, yang baru saja berganti pemilik ke pengusaha nasional Arifin Panigoro. Kunjungan ke NNT setelah Wapres memberikan kuliah umum di Institut Teknologi Sumbawa.

Dalam sambutannya saat peletakan batu pertama bangunan Bait Kalla yang akan menjadi asrama oleh para kiai di Ponpes yang dibina Prof Din Syamsuddin ini, Wapres berharap Ponpes Dea Malela dapat menerapkan kurikulum untuk kebutuhan di masa yang datang.

Wapres menekankan bahwa pondok pesantren tersebut akan mengusung pendidikan yang modern dan menerapkan pola pendidikan internasional.

a�?Modern itu artinya pendidikan yang ada di saja harus melampaui zamannya,a�? kata Wapres menyampaikan harapannya.

Menurut Wapres, pendidikan di Pesantren yang mengusung nama modern dan internasional tentu mempunyai suatu beban berat.

Maka tegas JK, pendidikan harus selalu mendahului zamannya. Pasalnya, pendidikan baru bermanfaat 20 tahun ke depan. Sehingga, jangan mengajarkan hal-hal yang sudah lama tidak laku lagi.

Terkait dengan lokasi Ponpes yang berada jauh dari kota, bahkan berada di kaki gunung di sebuah desa terpencil, Wapres mengatakan tidak masalah.

“Tentu kita merasa berbangga, pendidikan itu sama dengan restoran. Orang tidak memilih tempat tapi memilih mutu. Kalau di lorong gang tapi enak makan, orang masuk. Gedung tidak penting, tapi mutu yang diperhatikan,a�? tandas Wapres.

Dia melanjutkan. a�?Dulu orang di Gontor hanya pakai kuda, tapi orang datang. Sekarang tempat ini memang belum diketahui orang, tapi kalau sudah bermutu maka susah menolaknya masuk.”

Wapres menekankan, Indonesia akan didorong jadi pusat baru pendidikan Islam yang modern dan toleran. Pemerintahpun mendukung upaya swasta untuk pendirian lembaga pendidikan modern bertaraf internasional.

Wapres menyebutkan dulu yang jadi kiblat Islam itu selalu Timur Tengah. Termasuk soal pendidikannya. Tapi, sekarang hampir mustahil menjadikan Timur Tengah sebagai cerminan Islam yang baik dan damai. Lantaran di negeri Arab itu sedang kacau. Mulai dari perang saudara hingga pemboman.

“Peradaban dan ahlak menjadi sulit dirumuskan di Timur Tengah,” ujar dia.

Maka pemerintah Indonesia pun mengambil inisiatif untuk mendirikan Universitas Islam Internasional. Kampus tersebut akan membuka program khusus pendidikan tingkat magister dan doktoral. Lokasinya berada di Cimanggis, Jawa Barat. Peraturan presiden untuk pendirian kampus itu juga sudah terbit.

JK menuturkan selama ini Indonesia bangga menjadi negara yang menduduk mayoritas muslim dan toleran. Tapi, hanya dua hal itu saja. Sedangkan secara keilmuan belum terlihat. “Hampir 90 persen buku yang terbit juga terjemahan,” kata dia.

Pria kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan itu pun mendukung upaya dari swasta untuk mendirikan lembaga pendidikan yang punya misi sama. Yakni, pendidikan Islam yang mengajarkan beragama yang toleran. Karena itu juga akan menekan radikalisme dan terorisme.

Sementara itu, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan bahwa bumi Sumbawa sangat kaya dengan pertambangan. Untuk itu, tinggal bagaimana manusianya agar lebih berilmu dan berakhlak.

Untuk itu sambungnya, keberadaan Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela menjadi sebuah ikhtiar untuk menjadikan Sumbawa, tidak hanya perutnya yang berlimpah kekayaan tapi juga punggungnya diisi manusia berkualitas.

Ketua Dewan Pembina Pondok Pesantren Dea Malela, Din Syamsuddin, mengatakan pendirian pondok pesantren tersebut merupakan ide atau niat yang sebenarnya sudah lama sekali, namun baru terealisasi sekarang.

Din menjelaskan, nama Dea Malela adalah gelar, tidak untuk kultus. Dea Malela hanya untuk dijadikan inspirasi dan semangat dari tokoh Ismail Dea Malela sebagai ulama yang berasal dari tanah Gowa Makassar bersama saudaranya.

“Tidak berada di pusat kesultanan tapi ke pelosok dusun yang hanya dicapai dengan berjalan kaki, untuk bergabung dengan pamannya Dea Tuan yang sudah menjadi ulama di dusun Pamangong ini,” kata Din Syamsuddin.

Ia menegaskan, keberadaan pondok pesantren bertaraf internasional seharusnya berada di Ibu kota dan sekitarnya. “Tapi kami ingin berkiprah dari Desa.

Dari Tana Samawa ikut membangun peradaban dunia, ini kami niatkan dan rancang menjadi salah satu pusat keunggulan pendidikan islam di dunia islam,” cetus Din Syamsuddin.

Dari tempat ini (Pamangong, red) ujarnya, akan menajdi salah satu tempat keunggulan di dunia islam di tingkat internasional.

Santri dari banyak negara islam dan negara lain di Asia Tenggara seperti Timor Leste, Kamboja, Vietnam, Singapura. Bahkan ada yang berasal dari Beijing, Moskow, London termasuk Jepang.

Din di hadapan Wapres menyampaikan rencana peresmian operasional pondok pesantren Dea Malela tersebut diharapkan dibuka oleh Presiden pada tanggal 31 Juli setelah membuka MTQ di Mataram tanggal 30 Juli malam.

Sementara itu, usai serangkaian kunjungan ke Kabupaten Sumbawa, Wapres melanjutkan kunjungan singkat tambang PTNNT di Batu Hijau, Sumbawa Barat.

Dalam kunjungan singkat tersebut, Wapres melakukan pertemuan dan menyampaikan arahan kepada manajemen PTNNT, selaku operator tambangA� Batu Hijau.

Presiden Direktur PTNNT Rachmat Makkasau dalam keterangan tertulis pada Lombok Post kemarin menyatakan, pihaknya menyambut baik kedatangan Wapres di Batu Hijau.

a�?Ini merupakan kunjungan yang pertama kalinya sejak Batu Hijau mulai beroperasi tahun 2000,a�? kata dia.

Dikatakan, pihaknya sangat gembira bisa bertatap muka langsung dan mengucapkan terima kasih karena kami bisa mendapatkan arahan secara langsung dari Wapres.

Sejak mulai operasi tahun 2000, tambang Batu Hijau telah memberikan kontribusi positif. Tambang emas dan tembaga tersebut diharapkan ke depannyaA�akan bisa terus berkontribusi dan memberikan kesejahteraan bagi Indonesia dan khususnya pembangunan di NTB.

Selain kinerja di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang diakui sebagai tambang dengan kinerja keselamatan yang baik, PTNNT juga terus konsisten menunjukkan kinerja luar biasa di bidang pengelolaan lingkungan.

Berbagai prestasi seperti penghargaan Trophy Emas ADITAMA, Sertifikat Emas dan juga PROPER Hijau berkali-kali diperoleh oleh PTNNT.

a�?Ini tentunya tidak lepas dari dukungan karyawan dan semua pemangkuA� kepentingan seperti pemerintah, mitra bisnis karyawan dan masyarakat,a�? kata Rachmat. Pihaknya berharap pencapaian tersebut bisa terus berlanjut. (jar/kus/JPG/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka