Ketik disini

Headline Opini

Anak Jadi Korban dan Kekerasan, Salah Siapa? (1)

Bagikan

STATUS darurat kekerasan seksual terhadap anak patut ditetapkan pemerintah mengingat rentetan kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia dari ujung ke ujung. Kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia seperti penomena gunung es di tengah lautan dalam arti bahwa kekerasan seksual terhadap anak yang terungkap oleh media tidak seberapa jumlahnya dibanding dengan realitasnya di tengah masyarakat (yang belum terungkap). Sikap yang sangat mungkin dilakukan oleh orang tua adalah terus menerus melakukan kontrol terhadap anak. Jangan sampai kejadian yang sama kembali terjadi dan menyisakan luka yang sangat mendalam terhadap para orang tua.

Kasus-kasus yang menjadikan anak sebagai objek kekerasan seksual mencerminkan lemahnya daya kontrol para orang tua, situasi kondisi keluarga yang labil, pembiaran pergaulan terhadap orang dewasa bahkan bisa jadi sampai jenis sanksi yang diterima oleh pelaku kekerasan seksual tersebut tidak mampu memberikan efek jera dan sanksi tersebut tidak juga menakutkan bagi orang-orang dewasa yang berpotensi melakukan kekerasan seksual terhadap anak. Bahkan sangat ironis bila kita menyaksikan tayangan TV beberapa hari yang lalu memberitakan salah satu predator anak kabur dari rutan. Meskipun predator anak tersebut dapat ditangkap kembali namun cukup menyisakan pertanyaan terhadap kinerja sipir yang menangani pelaku-pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati tanggal 23 Juli setiap tahunnya harus menjadi momentum untuk memutar kembali rentetan-rentetan kasus kekerasan seksual yang menjadikan anak sebagai korban dan tersangka. Pemutaran kembali dalam arti mengingat-ingat kembali kasus-kasus tersebut guna dipelajari apa yang salah sehingga kasus yang serupa semakin tahun semakin bertambah, selanjutkan kita semua dapat mengambil ibrah guna menghindari terjadinya kasus-kasus yang sama di tahun depan.

Hari Anak Nasional (HAN) juga harus dijadikan momentum evaluasi semua pihak terhadap kepedulian anak, jangan-jangan negeri ini secara umum belum memberikan kepedulian terhadap anak sebagaimana mestinya, belum memberikan hak-hak anak, belum memfasilitasi apa saja yang menjadi kebutuhan anak. Selain itu evaluasi dapat menyentuh daya keamanan dan kenyamanan anak dan penanganan kasus anak. Jadi, perhatian dan kepedulian terhadap anak bukan saja menjadi tanggung jawab orang tuanya melainkan juga tanggung jawab negara ini, sehingga bila maraknya terjadi kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak patut kita bertanya, salah siapa?

Anak menjadi Korban Kekerasan Seksual

Anak menjadi objek kekerasan sudah berlangsung lama dan jumlahnya pun tidak sedikit. Kekerasan seksual terhadap anak cenderung menjadikan anak perempuan sebagai objek. Karena disebut sebagai kekerasan maka pelakunya adalah orang-orang dewasa yang memiliki otot lebih besar dan lebih kuat.

Pada tahun 2014 tercatat sebanyak 32 kasus keterlibatan anak dalam kasus kekerasan, seksual, pencurian dan narkoba. Selanjutnya pada tahun 2015 tercatat sebanyak 37 kasus keterlibatan anak dalam kasus kekerasan, seksual, pencurian dan narkoba. Sedangkan pada tahun 2016 ini rentang bulan Januari sampai April ini saja sudah terekam 3 kasus kekerasan seksual oleh anak. Dari jumlah kasus yang terekam ini patut Indonesia menyatakan darurat seksual pada anak.

Bahkan jumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak bila mengutip apa yang pernah dirilis oleh KPAI maka jumlahnya semakin bertambah yakni pada tahun 2011 sampai tahun 2014 kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan signifikant. Tahun 2011 terjadi 2.178 kasus kekerasan, tahun 2012 ada 3.512 kasus, tahun 2013 ada 4.311 kasus dan 2014 ada 5.066 kasus (Suara Muhammadiyah, 1-15 Juni 2016, hlm. 7).(bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka