Ketik disini

Praya

Stop Kekerasan dan Pelecehan Seksual Anak

Bagikan

Pesan yang diharapkan dalam gelar Hari Anak Nasional di Lombok Tengah (Loteng) adalah, mereka harus berprestasi, stop kekerasan pada mereka, apalagi pelecehan seksual.

***

SEDERETAN persoalan menimpa anak-anak di bawah umur, di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Rata-rata mereka merupakan, korban pelecehan seksual. Namun kasusA� tersebut seolahA� cerita biasa yangA� tidak pernah selesai. Kemudian datang silih berganti, menghilang begitu saja dan muncul lagi di kemudian hari

Dari catatan Lombok Post, sejak awal tahun ini hingga sekarang, ada tiga kasus dugaan pelecehan seksual pada anak yang mencuat ke permukaan.

Sebut saja.A� peredaran foto bugil sejumlah siswi Sekolah Menegah Atas (SMA) di Facebook, yang melibatkan terduga pelaku inisial RZ warga Dusun Perantas, Desa Muncan, Kecamatan Kopang.

Jumlah korbannya pun tidak main-main, mencapai 23 orang. Tiga diantaranya, menjadi korban hasrat bejat terduga pelaku. Kini, sang pelaku mendekam di balik jeruji besi. Kasus itu terjadi pada Januari lalu
Kemudian, dugaan pelecehan seksual bocah 5 tahun di Desa Bunkate, Jonggat. Terduga pelakunya TB (inisial-red) warga desa setempat, yang merupakan mantan residivis curanmor. Korbannya tak lain keponakan korban. Kejadiannya, pada April lalu.

Terakhir, pencabulan di Dusun Montong Bolok Desa Montong Gamang Kopang, 3 Juli lalu. Serangkaian kasus ini menuntut segenap masyarakat turun tangan. a�?Sehingga, disinilah pentingnya sinergitas pemerintah dengan orang tua,a�? ujar Anggota Komisi IV DPRD Loteng Ahmad Supli.

Sederetan kasus itu, menurut Supli karena adanya beberapa kelemahan yang terjadi. Meliputi, pengawasan orang tua, penyelenggaraan pendidikan, faktor lingkungan, intervensi pemerintah dan regulasi.

a�?Sejak dugaan kasus pencabulan terjadi di daerah kita, saya belum pernah mendengar ada hukuman, yang menimbulkan efek jera,a�? sindir politisi PKS tersebut.

Diperparah lagi, kata Supli pergaulan anak-anak akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Tidak sedikit mereka memanfaatkan teknologi untuk melakukan hal-hal amoral. Di sisi lain, pengawasan orangtua terhadap aktivitas anak mereka masing-masing rendah.

a�?Sehingga, kami berharap melalui hari anak nasional tahun ini, kita bisa merubah ahlak mereka,a�? sambung Sekda HL Supardan.

Paling tidak, tambah orang nomor satu dijajaran birokrasi Loteng tersebut, pada puncak hari anak nasional, yang digelar di Bencingah Tastura, Sebtu, besok dapat menghasilkan satu deklarasi untuk meminimalisir kasus kekerasan terhadap anak maupun pelecehan seksual.

a�?Caranya, kenapa tidak kita kembali ke masa lalu. Dulu, waktu saya kecil, saya disibukkan dengan mengaji, zikir, salat dan membantu orang tua. Tidak ada namanya telepon genggam,a�? ujar Supardan.(Bersambung/Dedi Shopan Shopian a�� Lombok Tengah/r3)

Komentar

Komentar