Ketik disini

Headline Opini

Anak Jadi Korban dan Kekerasan, Salah Siapa? (2-Habis)

Bagikan

TERLEPAS berat atau ringannya kasus-kasus yang terjadi, akan tetapi dengan angka yang sangat fantastis tersebut patut kita bertanya siapa yang salah dengan kasus-kasus tersebut? Beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak misalnya:

kasus Yuyun yang sangat tragis setelah diperkosa 14 ABG sampai tewas, Salah siapa? Kasus pembunuhan Eno Farihah, salah siapa? Kasus Anwar si predator anak yang memperkosa dan membunuh korbannya, salah siapa? Bahkan kasus kaburnya sang predator anak, meskipun bisa ditangkap kembali, salah siapa? Dan banyak lagi kasus-kasus yang terkait semua itu patut dipertanyakan, salah siapa?

Pertanyaan a�?salah siapa?a�� ini tentu bukan bermaksud untuk menunjuk oknum tertentu selain pelaku yang sudah menjadi tersangka. Akan tetapi pertanyaan a�?salah siapaa�� ini juga sebagai sebuah refleksi untuk kita semua bahwa sesungguhnya kita semua bertanggung jawab terhadap setiap kasus kekerasan seksual terhadap anak sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Anak menjadi Tersangka Kekerasan Seksual

Terkejut seolah tak percaya ketika membaca berita koran melansir berita tentang keterlibatan anak pendidikan dasar menjadi tersangka pemerkosaan. Terlebih berita tersebut menjadi berita hangat media pertelevisian, semua chanel berita hampir dilengkapi dengan berita keterlibatan anak sekolah dasar menjadi tersangka. Keterkejutan yang dirasakan adalah keterkejutan tak biasa bila mendengar atau membaca berita ketika anak menjadi pelaku pemerkosaan.

Berita-berita anak menjadi korban itu seperti sudah akrab di telinga, pelakunya pun orang terdekat dari korban. Akan tetapi ketika media melansir keterlibatan anak menjadi pelaku pemerkosaan tentu ini suatu peristiwa yang absurd tapi nyata.

Ketika perbuatan asusila semacam itu terjadi dengan anak menjadi korban dan terdakwa sekaligus, maka sepertinya semua elemen kehidupan di tengah masyarakat ini telah gagal baik itu pendidikan, sosial, ekonomi maupun budaya setempat.

Kegagalan itu pun tidak cukup dengan alasan pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya bahkan kegagalan itu menyangkut dengan kegagalan manusia sekitarnya, baik itu orang tua, guru maupun anggota masyarakat secara umum.

Semua kita gagal dan keterlibatan anak sebagai korban dan terdakwa itu telah membuktikan kegagalan tersebut.

Peristiwa keterlibatan anak menjadi tersangka pemerkosaan seolah mematahkan semua teori perkembangan anak.

Dikaji dari perspektif apa pun baik perkembangan fisik, biologis, tugas perkembangan dan sebagainya maka peristiwa keterlibatan anak dalam skandal seksual tidak sesuai akal sehat.

Secara fisikly maka anak sekolah dasar masih menunjukkan geliat pertumbuhan dan perkembangan sensorik motorik lainnya kecuali daya seksual. Secara biologis maka pertumbuhan dan perkembangan anak belum menunjukkan ke arah perubahan alat-alat vital melainkan masih pada perubahan fisik. Sekali lagi keterlibatan anak ke dalam skandal seksual sangat tidak sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak melainkan itu lebih disebabkan oleh hasil pergaulan sehari-hari. Karena itu kasus-kasus semacam itu yang melibatkan anak sebagai pelaku patut kita bertanya, salah siapa?

Anak menjadi korban pelecehan seksual lebih rentan terjadi karena adanya pemaksaan dari orang dewasa ke anak-anak. Akan tetapi anak menjadi tersangka pelecehan seksual menjadi kasus yang sangat luar biasa menunjukkan betapa rusaknya tatanan sistem kehidupan anak baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat. Terjadinya kasus-kasus pelecehan yang melibatkan anak-anak ini menunjukkan terputusnya sosialisasi atau daya belajar mandiri anak untuk mengenal dan menghayati nilai dan norma kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat.

Maraknya kasus pelecehan seksual pada anak sehingga mengakibatkan anak menjadi korban bahkan menjadi tersangka pelecehan seksual tersebut, timbul pertanyaan reflektif terhadap diri kita masing-masing, ini semua salah siapa? Apakah ini salah anak sebagai korban maupun sebagai pelaku itu sendiri? Ataukah semua itu kesalahan orang tua dan guru? Salah lingkungan atau sistem yang terbangun di tengah masyarakat? Jujur saja pertanyaan yang sangat mudah diutarakan akan tetapi sangat sulit untuk dijawab karena bisa jadi jawaban itu akan membunuh diri kita masing-masing atas kesalahan yang terjadi. Sepatutnya kita berani mengatakan bahwa itu semua kesalahan kita semua. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka