Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Pilih Perusahaan Asuransi yang Tepat

Bagikan

MATARAM – Kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi dalam melindungi keuangan keluarga semakin meningkat. Ini terdorong karena semakin tinggi gaya hidup dan tingkat ekonomi yang dicapai.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran tersebut, banyak perusahaan asuransi jiwa yang tumbuh, menawarkan beragam pilihan asuransi. a�?Namun ada beberapa dari masyarakat juga mengalami kesulitan memilih asuransi jiwa yang tepat,a�? kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB Yusri, kemarin (22/7).

Menurut Yusri, cara untuk menghindari kesalahan dalam memilih asuransi adalah mengenali perusahaan asuransi yang sesuai kebutuhan. Mengacu pada rambu-rambu yang dikeluarkan oleh OJK, kata dia, ada beberapa cara untuk mengenali perusahaan asuransi tersebut.

Pertama, perusahaan telah terdaftar di OJK. Masyarakat bisa mengecek nama perusahaan yang terdaftar di OJK melalui website OJK yaitu di www.ojk.go.id. Kedua, memeriksa laporan keuangan. OJK menerapkan aturan bagi perusahaan asuransi agar membuat laporan tata kelola perusahaan setiap tahun. Seperti mewajibkan laporan keuangan, laporan operasional, dan laporan lainnya sesuai jadwal yang ditetapkan.

a�?Jika kurang paham, bisa bertanya pada agen yang menjual produk asuransi tersebut,a�? jelasnya.

Ketiga, masyarakat bisa menanyakan kepada perusahaan asuransi apakah mereka memiliki underwriter berpengalaman dan ahli. Yaitu orang yang bertugas menganalisis risiko, menetapkan syarat dan ketentuan asuransi. Serta menetapkan besarnya premi di sebuah perusahaan asuransi.

Terakhir, mengetahui rekam jejak perusahaan asuransi juga penting dilakukan. Sebagai contoh, berapa lama proses penerbitan polis oleh perusahaan tersebut. masyarakat bisa bertanya pada agen penjual produk. Atau tanyakan servis tambahan apa yang ditawarkan dan kualitas rekanan yang ditunjuk.

Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) NTB Juniartha menambahkan, memilih perusahaan asuransi yang tepat dapat dilihat dari kondisi Risk Based Capital (RBC). Yaitu kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi.

Dalam pasal 2 dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi menyebutkan, perusahaan wajib memenuhi tingkat solvabilitas paling sedikit 120 persen dari risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban.

a�?Jika kondisi RBC di bawah 120 persen, maka perusahaan tersebut tidaklah sehat,a�? katanya.

Sejauh ini, sambungnya, kondisi RBC dari anggota asuransi jiwa di NTB berada di atas 120 persen. Ini terjadi karena pemahaman masyarakat untuk berasuransi mengalami peningkatan. Terlepas apakah hanya berasuransi ataupun sekaligus berinvestasi.

a�?Masyarakat sudah mampu memilah tujuan ia berasuransi,a�? tandas Kepala Cabang PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia Mataram ini. (ewi/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka