Ketik disini

Metropolis

Tegang Hadapi Anak yang Mau Bunuh Diri

Bagikan

Mengobati trauma anak korban kekerasan bukan perkara mudah. Butuh waktu dan kesabaran ekstra untuk memulihkan kondisi mereka. Di sinilah peran seorang pendamping dibutuhkan. Mereka tidak hanya dituntut pandai memberikan nasehat tapi juga rela berkorban.A�

***

MAWARA�(nama samaran) seorang anak korban kekerasan seksual inses (hubungan sedarah) di Lombok Tengah mengamuk. Kepalanya dibenturkan ke tembok rumah. Rambutnya acak, air mata membasahi wajahnya. Putus asa, anak perempuan itu memukul-mukul perutnya yang bunting. Ia hendak mengakhiri hidupnya, bersama cabang bayi dalam kandungan.

Ketegangan menyelimuti Agnes Rosalia dan tim pendamping yang datang menengok anak itu. Beruntung, dengan cekatan anggota tim dari PSMP Paramita Mataram berhasil menenangkan dan menyelamatkan nyawa anak malang itu.

Pengalaman tahun 2015 lalu itu tidak pernah dilupakan Agnes. Sebagai pendamping anak-anak korban kekerasan ia sudah terbiasa melihat perilaku para korban kekerasan. Dan tidak mudah untuk mendekati mereka. Mengajaknya bicarapun susah. Sebab trauma mendalam masih mereka rasakan. Terutama anak korban kekerasan seksual, mereka enggan bicara dengan teman disekelilingnya. Mereka malu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Tidak heran, banyak anak-anak korban kekerasan di pelosok-pelosok tidak mendapat penanganan. Akhirnya mereka tumbuh menjadi remaja yang tidak stabil. Korban sodomi misalnya, mereka yang tidak mendapat penanganan akan trauma, bahkan cenderung menjadi pelaku bila sudah dewasa.

Agenes Rosalia mengaku, ia sudah turun mencari anak-anak korban kekerasan hingga ke pelosok-pelosok. Hal itu dilakukan karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang cara menangani anak korban kekerasan. Bahkan tidak jarang, korban mendapat perlakuan yang diskriminasi dari lingkungannya.

Seorang anak yang menjadi korban kekerasan butuh perlindungan dari orang dewasa, orang tua dan lingkungan mereka. Tapi hal ini kerap tidak didapatkan di lingkungan mereka sendiri. Untuk turun ke desa-desa, Agnes mengaku dibantu oleh tim baik dari pekerja sosial, relawan hingga tim dokter.

Ia selama ini bekerja sama dengan tim yang terdiri dari psikolog, pekerja sosial, dokter bila diperlukan pengobatan. Sebelum anak tersebut mendapat penanganan, pekerja sosial mengidentifikasi masalah yang dihadapi anak, mencari keterangan dari warga dan kepolisian. Baru setelah itu, diketahui penanganan apa yang dibutuhkan anak. Apakah hanya pemulihan fisik atau hanya psikis saja.

a�?Kita memberikan semangat sampai anak punya semangat lagi,a�? katanya.

Menurutnya, mengobati anak korban kekerasan tidak hanya dari segi fisik, tetapi bagaimana mengembalikan kepercayaan diri mereka di lingkungan sosial. Untuk itu diberikan konseling dan pemulihan kesehatan secara berkesinambungan.

a�?Rata-rata mereka secara sosial bisa kembali lagi beradaptasi dan punya semangat dan masa depan, jarang mereka trauma sampai sakit jiwa. Yang sekolah juga banyak,a�? tutur Agnes. (SIRTUPILLAILI/Mataram/r4)

Komentar

Komentar

Tags:
Berikutnya

Anda mungkin juga suka