Ketik disini

Feature

Abdul, Guru BK yang Jago Karya Tulis Ilmiah Alquran

Bagikan

Tafsir Alquran sudah menjadi makanan sehari-hari Abdul Kadir Jailani. Sejak duduk di Tsanawiyah Pondok Pesantren Darussalam, Bermi, tidak ada hari yang dilewati tanpa kajian Alquran. Ini menjadi modal berharga untuk terjun dalam cabang Musabaqah Menulis Ilmiah Alquran di MTQ tahun ini.

***

MENULISA�merupakan aktivitas menyulitkan bagi sebagian orang. Apalagi jika tulisan tersebut harus menggunakan metode ilmiah. Ditambah memakai kajian dan harus menafsirkan Alquran. Tentu kesulitannya berlipat ganda.

Tetapi, menulis ilmiah Alquran sudah tak asing lagi bagi Abdul. Tahun ini, menjadi tahun keenam dirinya mengikuti mata lomba yang ada dalam MTQ ini. Satu kali di tingkat kabupaten dan dua kali di tingkat nasional.

Padahal, Abdul adalah sosok seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMKN 1 Lembar. Yang hari-harinya lebih banyak bersinggungan dengan psikologi anak-anak remaja. Bukan pada hal-hal ilmiah.

Pria kelahiran 24 tahun lalu ini mengaku, tidak ada pembelajaran secara khusus yang ia ikuti untuk bisa menulis ilmiah Alquran. Dirinya pun hanya sesekali membaca.

Namun pengalamannya selama mondok, secara tidak langsung memudahkannya untuk bisa menafsirkan Alquran. Ia kemudian menuangkannya ke bentuk tulisan ilmiah.

a�?Bisa di bilang kalau kajian tafsir Alquran sudah menjadi hobi,a�? aku Abdul.

Sebelumnya Abdul tidak pernah membayangkan bisa mewakili NTB dua kali berturut-turut. Sebab pengalamannya kali pertama di MTQ bukan di cabang menulis ilmiah Alquran, melainkan kaligrafi.

MTQ memang bukan barang baru bagi Abdul. Meski hanya tingkat kabupaten, sekitar 10 tahun lalu saat Tsanawiyah, Abdul mengikuti lomba untuk cabang kaligrafi.

Kemampuannya menulis indah ayat-ayat Alquran membuatnya berhasil bersaing di tingkat nasional ketika duduk di bangku Aliyah.

Lama-kelamaan, rasa bosan melanda pria berkacamata ini. Abdul merasa capek dan stress saat bergelut dengan kaligrafi. Hingga akhirnya ia memutuskan pindah haluan ke cabang lain, yakni menulis ilmiah Alquran.

a�?Kebetulan saat itu, menulis ilmiah Alquran masih cabang baru di MTQ, jadi tertarik,a�? kata dia.

a�?Setelah digeluti, ternyata lebih sulit menulis ilmiah Alquran daripada kaligrafi,a�? tambahnya lantas tertawa.

Kesulitan itu, disebabkan karena menulis adalah ide-ide yang ada di kepala yang harus dituangkan dalam bentuk tulisan. Berbeda dengan kaligrafi yang hanya mencontoh ayat-ayat Alquran dan membuatnya lebih indah.

a�?Tapi ini bukan sekedar pelarian. Niat awal memang ingin belajar bagaimana menulis itu,a�? cetusnya.

Perjalanannya hingga berhasil mewakili NTB kali kedua di MTQ Nasional, terbilang tidak mudah. Sempat a�?dibantaia�� saat final MTQ tingkat kabupaten 2010 silam oleh dewan juri. Ketika itu, dewan juri mengkritik habis isi tulisannya.

Salah satu juri bahkan mempertanyakan sejumlah referensi yang ia gunakan di karya tulisnya. Seakan-akan tidak mempercayai bahwa tulisan tersebut murni karyanya. Mempertanyakan apakah analisa yang ia berikan mampu diimplementasikan di kehidupan.

Namun, itu semua tak membuatnya patah arang. Sebaliknya pertanyaan dan kritikan dewan juri semakin membuatnya bersemangat. Menjadi pemicu untuk bisa membuat tulisan lebih baik lagi.

a�?2010 itu pertama kali ikut di cabang ini, memang tidak juara, kalah di final. Tapi jadi pengalaman yang berharga untuk bisa memperbaiki kualitas tulisan,a�? aku alumni IKIP Mataram ini.

Menulis ilmiah Alquran, menurut Abdul memang tidak mudah.A� Lebih-lebih tulisan tersebut digunakan untuk memecahkan sebuah masalah dengan menggunakan konsep Alquran. A�Tantangannya sangat berat. Sebab Alquran merupakan konsep umum, yang tidak bisa ditafsirkan secara bebas.

Referensi yang digunakan pun tidak bisa sembarangan. Harus dari buku dan kitab tafsir yang dibuat ulama besar dan diakui keilmuannya.

Selain itu, isi tulisan pun bukan melulu ayat-ayat Alquran. Kalau seperti itu maka tulisan terlihat seperti isi khotbah Jumat. Harus ada teori-teori dari barat dan ayat Alquran serta analisa dari penulis.

a�?Kita harus bisa mengkontekstualkan dalil dan ayat di Alquran dengan kondisi yang terjadi di zaman sekarang ini. Tapi a�?seksinyaa�� di sana, karena kita menganalisa lewat Alquran,a�? jelas ayah satu anak ini.

Berbekal pengalamannya masuk dalam 10 besar di MTQ Batam 2014 lalu, Abdul yakin bisa memberikan hasil maksimal.

Ya, menghadapi MTQ tahun ini, Abdul bertekad untuk bisa menjadi juara. Membuat bangga orangtuanya yang berprofesi sebagai pedagang sayur.

Apalagi NTB menjadi tuan rumah. Ia tak ingin menanggung malu ketika pulang nanti. Segala persiapan terus dimatangkan.

Terutama membaca buku-buku yang berkaitan dengan tema yang akan diberikan saat perlombaan nanti. a�?Ingin memberikan yang terbaik bagi NTB,a�? janji Abdul.( Wahidi Akbar Sirinawa/Giri Menang/Bersambung/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka