Ketik disini

Metropolis

Kak Seto: Jangan Buat Generasi Robot!

Bagikan

MATARAM – Aktivis Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau kerap dipanggil kak Seto, menilai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli di Mataram lalu, harus dimaknai sebagai keinginan anak-anak bangkit, diayomi dan tumbuh secara baik.

a�?Jangan lagi ada kekerasan pada anak, jadi stop apapun bentuknya,a�? kata Seto.

Ada empat isu penting yang disampaikan anak-anak saat itu. Diantaranya, stop kekerasan pada anak, jauhkan dari ekspolitasi, hindarkan dari pernikahan dini dan berikan konten hiburan terutama di televisi yang mendidik dan edukatif.

a�?Saya rasa isu itu muncul dari hasil rumusan yang dilakukan teman-teman LPA di NTB,a�?ulasnya.

Sampai saat ini, Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak memang tengah terus digodok. Terutama, bagaimana agar UU tidak sampai berbenturan dengan kultur, budaya dan adat istiadat masyarakat setempat. Ia tak memungkiri adanya perbedaan parameter terutama definisi kekerasan bagi anak.

a�?Tapi ketika kekerasan itu, juga ditolak oleh anak sendiri dan dampaknya buruk bagi pertumbuhan mereka, saya rasa adat-istiadat juga tidak boleh kaku,a�? ujarnya.

Ia mencontohkan, kasus anak-anak di pedalaman suku Papua. Adat mereka justru mengharuskan anak-anak wajib berperang demi marwah dan kejayaan suku masing-masing.

Tapi, karena anak-anak Papua sendiri yang meminta untuk dihindarkan dari bentuk kekerasan itu, maka Lembaga Perlindungan Anak setempat sebagai LSM harus bisa mengakomodir harapan itu.

a�?Saya melihat LPA di NTB ini ya, salah satu yang terbaik diantara sekian yang terbaik di Indonesia, jadi coba berikan kesempatan pada mereka (LPA, Red) untuk menyelaraskan rumusan yang tepat antara UU Perlindungan Anak dengan adat istiadat yang ada,a�? paparnya panjang lebar.

Ia menegaskan, segala bentuk kekerasan pada anak sejatinya adalah bentuk pembelajaran yang salah dari bangsa Kolonial ketika menginjakan kaki di Indonesia. Cara-cara kekerasan itu lalu diserap begitu saja dan ironisnya lagi, diteruskan pada anak-anak mereka.

a�?Bisa. Loh saya membuktikan, kok. Anak-anak jalanan, anak-anak pengungsi di Atambua waktu itu yang sangar-sangar dengan senyuman, bisa berubah, jadi salah kalau beranggapan kita butuh kekerasan untuk mendidik anak,a�? tukasnya.

Seto lalu mengutip konklusi hasil latihan kungfu Jet Lee yang menyebut jika kekuatan senyum jauh lebih hebat dari senjata apapun.

Harusnya, jika ini dipahami dengan baik, orang tua dan guru tidak perlu harus melakukan tindakan-tindakan kekerasan untuk melunakan anak-anaknya.

a�?Justru anak-anak semakin dikerasi justru melawan. Cara itu, hanya akan menciptakan (anak) robot saja,a�? tandasnya.(cr-zad/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka