Ketik disini

Giri Menang Headline

Penyertaan Modal Puluhan Miliar, Rugi yang Didapat

Bagikan

Logika a�?bisnisa�� Pemkab Lombok Barat dipertanyakan lembaga legislatif. Bagaimana tidak, tahun ini pemkab memberikan gelontoran dana untuk penyertaan modal kepada tujuh perusahaan. Namun, bukan untung yang diraih, pemkab bahkan berpotensi mengalami kerugian akibat jumlah dividen yang jauh lebih kecil dari modal yang dikeluarkan.

***

AWAL tahun ini, Pemkab Lombok Barat kembali memberikan suntikan modal untuk tujuh perusahan. Antara lain PDAM Giri Menang, Bank NTB, Tripat, BPR Lobar, Pesisir Layar Berkembang, Jamkrida, dan Indotan.

Jumlah uang yang dikeluarkan cukup banyak, yakni Rp 13 miliar. Harapannya, modal tersebut bisa berkembang dan memberikan keuntungan bagi perusahaan dan Pemkab Lobar tentunya.

Sesuai kesepakatan dalam target raihan dividen di APBD 2016, pemkab seharusnya menerima Rp 14 miliar dari Rp 13 miliar modal yang dikeluarkan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sejumlah perusahaan meminta penurunan dividen hingga Rp 9 miliar di tahun ini.

Rencana tersebut kontan saja ditolak DPRD Lobar. Anggota Komisi II Indra Jaya Usman, menolak keras jika perusahaan meminta penurunan dividen.

Dia melihat semangat pemkab mengeluarkan modal adalah untuk mendapatkan keuntungan. Bukan untuk rugi. Apalagi saat pengajuan modal, sejumlah direksi berjanji akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, jika pemkab mau menambah modal mereka.

a�?Ini kan sudah tidak sesuai janji mereka saat ekspose meminta suntikan modal,a�? kata IJU.

Menurutnya, permintaan penurunan dividen ini berbanding terbalik dengan kinerja perusahaan. Misalnya saja PT Tripat. Perusahaan tersebut terus bertambah unit usahanya, namun dividen yang diberikan terus mengalami penurunan.

Begitu pula dengan PDAM Giri Menang. Indra mengatakan deviden perusahaan air minum ini mengalami penurunan. Perusahaan lainnya seperti Indotan Lombok Barat Bangkit (ILBB) bahkan tidak jelas keberadaannya.

a�?Pernah tidak ada deviden sama sekali dari PT Tripat. Padahal mereka mengelola Taman Narmada dan juga LCC,a�? ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Lobar Sulhan Muchlis Ibrahim mengatakan penurunan deviden paling drastis terjadi di Bank NTB, yakni sebesar Rp 2,5 miliar tahun ini. Padahal puluhan miliar diberikan sebagai penyertaan modal.

Sulhan lantas membandingkan dengan penyertaan modal pemkab kepada BPR Lumbung Perkreditan Rakyat (LKP) NTB. Penyertaan modal ke BPR LKP kurang dari Rp 10 miliar, jauh lebih sedikit dari modal ke Bank NTB selama beberapa tahun terakhir. Namun secara persentase, deviden yang diberikan BPR LKP lebih besar dari Bank NTB.

a�?Yang bagus malah di BPR LKP, padahal modal kita lebih sedikit,a�? ungkap Sulhan.

Karena itu, Sulhan melihat perlu bagi pemkab untuk melakukan evaluasi penyertaan modal kepada sejumlah perusahaan daerah. Masih banyak perusahaan lain yang bisa memberikan keuntungan bagi pemkab.

a�?Kita minta ditarik saja saham-saham di BUMD yang negatif pertumbuhan devidennya,a�? tegas Sulhan.

Dengan rencana permintaan target penurunan deviden, lanjut Sulhan, belum disetujui lembaga legislatif. Rencana itu sendiri tertuang dalam draft Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS).

a�?Harus diperjelas kenapa minta penurunan, jadi kita belum setuju. Kalau perlu malah kita naikkan (target deviden, Red),a�? ungkap kader PKB ini.

Sementara itu, Sekda Lobar Mochammad Taufiq mengatakan, BPK melihat ada kejanggalan dalam penyertaan modal yang diberikan pemkab karena mendapat keuntungan lebih rendah.

Bukan saja dalam penyertaan modal, BPK pun melihat keanehan porsi kepemilikan saham di LCC. Di mana saham pemkab hanya sebesar tiga persen saja, bukan lima atau 10 persen.

a�?Hasil evaluasi BPK menyatakan seperti itu, deviden yang kita terima terlalu kecil,a�? ungkap Taufiq.

Sementara untuk total kucuran dana sebagai modal perusahaan daerah, Taufiq mengaku tidak hafal. Pastinya dari seluruh anggaran yang disertakan, pemkab hanya menerima deviden sebesar lima persen.

a�?Itu yang juga membuat heran provinsi, dari penyertaan modal yang besar, kok dapatnya cuma segitu,a�? kata mantan Asisten III Setda Lobar ini. (Wahidi Akbar Sirinawa)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka