Ketik disini

Headline Praya

Kasus Pencabulan Anak di Loteng Meningkat

Bagikan

PRAYA – Anggota Komisi IV DPRD Lombok Tengah (Loteng), angkat bicara melihat sederetan kasus dugaan pencabulan anak di bawah umur. Mereka memandang, salah satu penyebabnya adalah, minimnya pengawasan orang tua di rumah.

Anak dibiarkan bermain sesuka hati, tanpa diberikan peringatan.

a�?Ibu dan bapak, harusnya berperan aktif menjaga anak-anaknya, dimana pun dan kapan pun. Jangan dibiarkan begitu saja,a�? kata Ketua Komisi IV DPRD Loteng Lalu Muhiban pada Lombok Post, kemarin(28/7).

Menurut Muhiban tidak bisa pola pengawasan anak diserahkan sepenuhnya kepada lingkungan, apalagi sekolah dan pemerintah. Ketika anak berpergian kemana pun, lanjutnya orang tua harus memberikan peringatan.

Misalnya, jam berapa harus pulang, dengan siapa bermain dan dimana. Bukan sebaliknya cuek saja.A� a�?Tolong ini diperhatikan serius bagi para orang tua. Belajarlah dari kasus yang terjadi akhir-akhir ini,a�? seru Muhiban.

Dari catatan koran ini, di bulan Juli ini saja ada dua kasus dugaan pencabulan anak di bawah umur terjadi. Pertama, pada 3 Juli lalu, di salah satu musala di Dusun Montong Bolok Desa Montong Gamang, Kopang. Terakhir, pada 24 Juli, kemarin di Dusun Karang Dalem Desa Montong Sapah, Praya Barat Daya.

a�?Sederetan kasus dugaan pencabulan itu, membuat kita merasa khawatir dengan keamanan anak-anak kita semua,a�? lanjut anggota Komisi IV DPRD Loteng Ahmad Supli.

Untuk itulah, pihaknya menyarankan agar aparat hukum memberikan hukuman seberat-beratnya kepada siapa pun pelaku dugaan pencabulan tersebut, tanpa pandang bulu maupun usia. Yang tidak kalah pentingnya, dalam perjalanan penyelidikan, hingga penyidikan aparat hukum harus terbuka.

Karena selama ini, pihaknya menilai aparat hukum terlalu menutup-nutupi kasus hukum yang menyangkut dugaan pelecehan seksual terhadap anak. Keterbukaan, kata Supli bukan berarti menyoroti korban, melainkan pelaku. Dengan cara seperti itu, ada efek jera dan pelajaran bagi siapa pun.

a�?Hal ini dimulai dari kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Bila perlu di ekspos besar-besaran. Karena ini, sudah keterlaluan, tidak bisa diberikan kata maaf,a�? saran Supli.

Hukuman penjara bertahun-tahun atau berpuluh tahun, diakuinya tidak membuat pelaku jera. Sehingga, penerapan hukuman kebiri, hingga hukuman mati patut dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Khususnya, di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan beberapa bulan kedepan, kasus yang sama terjadi di tempat lain.

a�?Tolong para orang tua di rumah, peringati dan awasi anak. Bila perlu awasi mereka 24 jam, tidak saja di rumah atau sekolah, tapi di lingkungan,a�? seru Supli.(dss/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka