Ketik disini

Sumbawa

PLTU Kertasari Taliwang Terkendala Tenaga Asing

Bagikan

TALIWANG – Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang ditargetkan beroperasi awal tahun 2017. Tapi, rencana itu tampaknya akan sulit terwujud.

Pasalnya, sejumlah pekerjaan penting pada PLTU ini belum rampung. Karena, perusahaan masih bergantung pada tenaga kerja asing (eks patriat). Terutama tenaga teknis pemasangan instalasi listrik.

Sejauh ini, PLTU sepenuhnya mengandalkan tenaga asal Tiongkok. Project Manager PT Twink Indonesia Satrio Heri mengatakan, sebagai kontraktor pelaksana pembangunan PLTU, pihaknya sudah bekerja sesuai waktu dalam kontrak. Untuk penyelesaian pengerjaan itu belum bisa dipastikan. Karena, masih terkendala tenaga teknis pemasangan instalasi mesin.

”Kami kesulitan mendatangkan tenaga teknis asing dari Tiongkok,” jelasnya.

Ketergantungan akan tenaga asal Tiongkok, kata dia, karena mesin yang digunakan PLTU berasal dari negeri Tirai Bambu itu. Untuk menginstal mesin ini, tentu membutuhkan tenaga dari Tiangkok pula.

”Tenaga memang didatangkan khusus dari perusahaan tempat di mana mesin itu dipesan dan dibuat,’’ ujarnya.

Untuk menyelesaikan proyek itu, PT Twink telah berupaya mendatangkan 30 tenaga asal Tiongkok. Hanya saja, mereka terkendala proses perizinan yang cukup sulit. Sehingga, perusahaan belum bisa mendatangkan tenaga teknis tersebut.

”Kami bahkan menggunakan jasa penyalur tenaga kerja, untuk membantu kami mendatangkan tenaga kerja asing itu,’’ akunya.

Hingga saat ini, lanjut dia, hanya enam orang tenaga teknis yang mendapat izin bekerja di proyek pembangunan PLTU tersebut. Pihaknya tidak ingin menggunakan tenaga  atau mekanik yang tidak ahli merakit mesin tersebut. Alasannya, sambung dia, jika satu komponen saja salah dipasang, dikhawatirkan mesin itu tidak bekerja optimal.

”Mudah-mudahan, dalam waktu dekat, kebutuhan tenaga teknisi instalasi mesin PLTU terpenuhi sesuai kebutuhan,” harap dia.

Kendala lainnya, Twink harus menyesuaikan beberapa item pekerjaan yang sebelumnya dilaksanakan PT Zug Industi Indonesia. Terutama pada desain PLTU.

”Rencananya, operasional PLTU ini menggunakan dua mesin dengan kapasitas daya 2×7 Mega Watt (MW),’’ tambahnya. (is/r1)

TALIWANG-Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang ditargetkan beroperasi awal tahun 2017. Tapi, rencana itu tampaknya akan sulit terwujud.

Pasalnya, sejumlah pekerjaan penting pada PLTU ini belum rampung. Karena, perusahaan masih bergantung pada tenaga kerja asing (eks patriat). Terutama tenaga teknis pemasangan instalasi listrik.

Sejauh ini, PLTU sepenuhnya mengandalkan tenaga asal Tiongkok. Project Manager PT Twink Indonesia Satrio Heri mengatakan, sebagai kontraktor pelaksana pembangunan PLTU, pihaknya sudah bekerja sesuai waktu dalam kontrak. Untuk penyelesaian pengerjaan itu belum bisa dipastikan. Karena, masih terkendala tenaga teknis pemasangan instalasi mesin.

”Kami kesulitan mendatangkan tenaga teknis asing dari Tiongkok,” jelasnya.

Ketergantungan akan tenaga asal Tiongkok, kata dia, karena mesin yang digunakan PLTU berasal dari negeri Tirai Bambu itu. Untuk menginstal mesin ini, tentu membutuhkan tenaga dari Tiangkok pula.

”Tenaga memang didatangkan khusus dari perusahaan tempat di mana mesin itu dipesan dan dibuat,’’ ujarnya.

Untuk menyelesaikan proyek itu, PT Twink telah berupaya mendatangkan 30 tenaga asal Tiongkok. Hanya saja, mereka terkendala proses perizinan yang cukup sulit. Sehingga, perusahaan belum bisa mendatangkan tenaga teknis tersebut.

”Kami bahkan menggunakan jasa penyalur tenaga kerja, untuk membantu kami mendatangkan tenaga kerja asing itu,’’ akunya.

Hingga saat ini, lanjut dia, hanya enam orang tenaga teknis yang mendapat izin bekerja di proyek pembangunan PLTU tersebut. Pihaknya tidak ingin menggunakan tenaga  atau mekanik yang tidak ahli merakit mesin tersebut. Alasannya, sambung dia, jika satu komponen saja salah dipasang, dikhawatirkan mesin itu tidak bekerja optimal.

”Mudah-mudahan, dalam waktu dekat, kebutuhan tenaga teknisi instalasi mesin PLTU terpenuhi sesuai kebutuhan,” harap dia.

Kendala lainnya, Twink harus menyesuaikan beberapa item pekerjaan yang sebelumnya dilaksanakan PT Zug Industi Indonesia. Terutama pada desain PLTU.

”Rencananya, operasional PLTU ini menggunakan dua mesin dengan kapasitas daya 2×7 Mega Watt (MW),’’ tambahnya. (is/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka