Ketik disini

Headline Sumbawa

Soal Cetak Sawah, Hasil Perhitungan TNI-Dinas Pertanian Beda

Bagikan

SUMBAWA – Proyek cetak sawah baru di Kabupaten Sumbawa ada sedikit masalah. Perhitungan presentase pengerjaan antara TNI dan Dinas Pertanian Sumbawa berbeda.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, Dinas Pertanian menggelar pertemuan dengan TNI di aula kantor dinas setempat, kemarin (28/7). Kepala Dinas Pertanian Talifuddin mengungkapkan, ada perbedaan perhitungan sekitar 300 hektar. Karena itu, akan dilakukan rapat kembali antara kedua belah pihak.

”Setelah itu akan dilakukan turun lapangan lagi untuk diukur secara bersama-sama,” katanya, kemarin.

Perhitungan akan dilakukan di sejumlah lokasi yang terdapat perbedaan hasil. Pihaknya juga belum mengetahui secara pasti di mana saja wilayah yang berbeda.

”Perbedaan perhitungan ini masih secara keseluruhan,” jelasnya.

Menurut hasil perhitungan Dinas Pertanian, baru sekitar 1.567 hektar yang sudah selesai. Sementara menurut hasil perhitungan TNI 1.895,3 hektar.

”Ada perbedaan sekitar 328,3 hektar. Sudah kami sepakati tadi, perbedaan ini akan dilakukan pengukuran bersama. Antara tim pelaksana dan konsultan kami,” ujarnya.

Talif mengatakan, kemungkinan ada perbedaan teknis pengukuran antara pihaknya dan TNI. Dicontohkan, kemungkinan pengukuran dilakukan keliling. Sementara pihaknya melakukan perhitungan per kelompok. Nanti saat perhitungan bersama ini, sambung dia, menggunakan satu metode untuk menghasilkan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

”Tidak akan ada kelebihan dalam pengukuran ulang nanti. Sebab, pelaksanaannya belum mencapai 2.700 hektar,” sebutnya.

Saat ini sudah ada wakil yang bisa menjembatani pelaksana dengan dinas, sehingga komunikasi lebih lancar. Talif mengaku, optimis pengerjaannya bisa tepat waktu, bahkan lebih cepat dari tenggang waktu akhir Agustus mendatang.

”Kita yakin bisa rampung sesuai waktu,” tandasnya.

Kepala Pelaksana Lapangan Cetak Sawah Baru NTB Kolonel CZI Ita Jayadi mengatakan, perbedaan ini karena pihaknya dan Dinas Pertanian belum bersinergi. Seharusnya hasil realisasi cetak sawah dilaksanakan secara bersama-sama, karena aturannya seperti itu.

”Contoh, Dinas Pertanian mau mengecek, kita dikasi tahu. Dikeluarkanlah surat perintah atau pemberitahuan, agar kita di lapangan ini tahu,” kata dia.

Dengan adanya perbedaan data ini, pihaknya sepakat untuk melakukan perhitungan secara bersama-sama. Benar atau tidaknya, lanjut dia, nanti hasil tersebut yang akan digunakan.

”Perbedaan yang ada sekarang ini juga tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Ita mengaku, pihaknya sudah pernah menyampaikan kepada dinas bahwa yang disepakati adalah hasil perhitungan bersama. Dinas Pertanian memang memiliki konsultan. Namun dalam proyek ini ada institusi lain yang mengerjakan.

”Hasil pengukuran bersama yang disepakati,” terangnya.

Perbedaan hasil pengukuran ini karena kesalahan persepsi. Dengan pertemuan ini akan disinkronkan. Ita tidak menyalahkan dinas, apalagi sampai menyebut lalai.

”Yang jelas kita sudah sering rapat di provinsi. Bahwa nanti hasil realisasi itu diukur secara bersma-sama. Itulah yang jadi tolak ukur,” terangnya.

Ita menganggap, ada koordinasi yang terputus antara TNI dan Dinas Pertanian. Ia berharap misskomunikasi ini tidak berlarut-larut, sehingga pelaksanaanya bisa tepat waktu.

”Salah satu lokasi yang terjadi perbedaan mencolok di Kecamatan Plampang,” katanya.

Ia mencontohkan, pihaknya sudah mengerjakan sekitar 100 hektar tapi di dalam catatan Dinas Pertanian hanya tercatat sekitar 50 hektar. ”Saya sudah kerjakan 100 persen. Saya ini dirugikan makanya harus diukur ulang,” timpalnya.

SUMBAWA-Proyek cetak sawah baru di Kabupaten Sumbawa ada sedikit masalah. Perhitungan presentase pengerjaan antara TNI dan Dinas Pertanian Sumbawa berbeda.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, Dinas Pertanian menggelar pertemuan dengan TNI di aula kantor dinas setempat, kemarin (28/7). Kepala Dinas Pertanian Talifuddin mengungkapkan, ada perbedaan perhitungan sekitar 300 hektar. Karena itu, akan dilakukan rapat kembali antara kedua belah pihak.

”Setelah itu akan dilakukan turun lapangan lagi untuk diukur secara bersama-sama,” katanya, kemarin.

Perhitungan akan dilakukan di sejumlah lokasi yang terdapat perbedaan hasil. Pihaknya juga belum mengetahui secara pasti di mana saja wilayah yang berbeda.

”Perbedaan perhitungan ini masih secara keseluruhan,” jelasnya.

Menurut hasil perhitungan Dinas Pertanian, baru sekitar 1.567 hektar yang sudah selesai. Sementara menurut hasil perhitungan TNI 1.895,3 hektar.

”Ada perbedaan sekitar 328,3 hektar. Sudah kami sepakati tadi, perbedaan ini akan dilakukan pengukuran bersama. Antara tim pelaksana dan konsultan kami,” ujarnya.

Talif mengatakan, kemungkinan ada perbedaan teknis pengukuran antara pihaknya dan TNI. Dicontohkan, kemungkinan pengukuran dilakukan keliling. Sementara pihaknya melakukan perhitungan per kelompok. Nanti saat perhitungan bersama ini, sambung dia, menggunakan satu metode untuk menghasilkan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

”Tidak akan ada kelebihan dalam pengukuran ulang nanti. Sebab, pelaksanaannya belum mencapai 2.700 hektar,” sebutnya.

Saat ini sudah ada wakil yang bisa menjembatani pelaksana dengan dinas, sehingga komunikasi lebih lancar. Talif mengaku, optimis pengerjaannya bisa tepat waktu, bahkan lebih cepat dari tenggang waktu akhir Agustus mendatang.

”Kita yakin bisa rampung sesuai waktu,” tandasnya.

Kepala Pelaksana Lapangan Cetak Sawah Baru NTB Kolonel CZI Ita Jayadi mengatakan, perbedaan ini karena pihaknya dan Dinas Pertanian belum bersinergi. Seharusnya hasil realisasi cetak sawah dilaksanakan secara bersama-sama, karena aturannya seperti itu.

”Contoh, Dinas Pertanian mau mengecek, kita dikasi tahu. Dikeluarkanlah surat perintah atau pemberitahuan, agar kita di lapangan ini tahu,” kata dia.

Dengan adanya perbedaan data ini, pihaknya sepakat untuk melakukan perhitungan secara bersama-sama. Benar atau tidaknya, lanjut dia, nanti hasil tersebut yang akan digunakan.

”Perbedaan yang ada sekarang ini juga tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Ita mengaku, pihaknya sudah pernah menyampaikan kepada dinas bahwa yang disepakati adalah hasil perhitungan bersama. Dinas Pertanian memang memiliki konsultan. Namun dalam proyek ini ada institusi lain yang mengerjakan.

”Hasil pengukuran bersama yang disepakati,” terangnya.

Perbedaan hasil pengukuran ini karena kesalahan persepsi. Dengan pertemuan ini akan disinkronkan. Ita tidak menyalahkan dinas, apalagi sampai menyebut lalai.

”Yang jelas kita sudah sering rapat di provinsi. Bahwa nanti hasil realisasi itu diukur secara bersma-sama. Itulah yang jadi tolak ukur,” terangnya.

Ita menganggap, ada koordinasi yang terputus antara TNI dan Dinas Pertanian. Ia berharap misskomunikasi ini tidak berlarut-larut, sehingga pelaksanaanya bisa tepat waktu.

”Salah satu lokasi yang terjadi perbedaan mencolok di Kecamatan Plampang,” katanya.

Ia mencontohkan, pihaknya sudah mengerjakan sekitar 100 hektar tapi di dalam catatan Dinas Pertanian hanya tercatat sekitar 50 hektar. ”Saya sudah kerjakan 100 persen. Saya ini dirugikan makanya harus diukur ulang,” timpalnya. (run/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka