Ketik disini

Headline Opini

Tambah Miskin Tambah Bingung

Bagikan

BEBERAPA hari terakhir ramai pemberitaan soal penduduk miskin yang meningkat, baik di media online maupun media cetak. Pemprov pun dibuat bingung soal data penduduk miskin NTB yang bertambah dari 802 ribu orang menjadi 804 ribu orang pada bulan Maret 2016.

Sebenarnya meningkatnya penduduk miskin tersebut bukanlah hal baru di NTB, bahkan tahun lalu penduduk miskin sempat bertambah 7 ribu. Yang bikin heboh kali ini tidak lain karena pemprov memiliki target yang cukup ambisius, atau tidak berlebihan saya katakan sangat ambisius, ingin menurunkan target kemiskinan sebesar 2% per tahunnya. Wow, angka yang sangat fantastis. Berbagai upaya dan program pun dilakukan baik di tataran provinsi maupun kab/kota, namun sayangnya dampak yang dihasilakan belum seoptimal yang diharapkan.

Berbagai opini pun mengemuka, mengapa penduduk miskin NTB bertambah 2 ribu jiwa di bulan maret kemarin. Banyak pihak yang bertanya kok bisa? Padahal pertumbuhan ekonomi NTB termasuk yang tertinggi di Indonesia. Beberapa pihak menyalahkan tingginya fluktuasi harga komoditas pangan, seperti beras, telur ayam, ataupun rokok yang memang berperan besar dalam pembentukan garis kemiskinan (GK).

Manurut saya, inflasi bukanlah faktor utama yang menyebabkan bertambahnya penduduk miskin NTB kali ini. Kalau kita lihat capaian inflasi NTB awal tahun 2016 dirasa cukup stabil di angka 4,3% (yoy) a�� posisi maret 2016, bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi bulan September 2015 (5,4% yoy), yang merupakan periode yang sama dalam perhitungan penduduk miskin. Lantas, salahnya dimana?

Perlu dipahami bersama, persoalan pengentasan kemiskinan bukan hanya perkara menurunkan harga sembako serendah-rendahnya. Memang, inflasi adalah faktor utama pembentuk garis kemiskinan. Namun jika inflasi tersebut ditekan serendah-rendahnya (mencapai deflasi), dalam jangka panjang tentu akan berdampak buruk bagi masyarakat, khususnya yang bekerja sebagai petani atau pedagang. Hal itu lambat laun pun menjadi persoalan lain yang menyebabkan bertambahnya kemiskinan di NTB. Lantas apa? Inflasi terkendali kenapa kok penduduk miskin malah bertambah? Persis seperti judul diatas, tambah miskin tambah bingung.

Jika kita membedah lebih dalam, penduduk miskin diklasifikasikan menjadi kelompok penduduk miskin di desa dan kota. Penduduk miskin desa (PMD) dan penduduk miskin kota (PPK) tentu memiliki karakteristik yang berbeda dalam perilaku konsumsi dan jenis pekerjaannya. Untuk provinsi NTB sendiri, penduduk miskin lebih banyak terpusat di pedesaan, namun dari segi presentase penduduk miskin di kota lebih tinggi dibandingkan di desa. Perbedaan kondisi ekonomi di desa dan kota memicu terjadinya arus perpindahan penduduk, utamanya dari desa ke kota, yang kita kenal dengan istilah urbanisasi. Fenomena urbanisasi itulah yang menurut hemat saya mendorong peningkatan kemiskinan NTB di bulan Maret 2016.

Penduduk NTB sebanyak 4,8 juta orang, dengan proporsi penduduk desa sebesar 57 % dan penduduk kota sebesar 43%. Proporsi penduduk desa cenderung berkurang jika dibandingkan 5 a�� 10 tahun yang lalu. Urbanisasi sebenarnya bukan hal yang salah, karena hal ini dilandasi oleh motivasi masyarakat untuk mencari penghidupan yang (dianggap) lebih baik di perkotaan.

Sayangnya urbanisasi ini tidak selalu diikuti dengan peningkatan kapasitas dan kemampuan penduduk desa yang ingin mengadu nasib di perkotaan. Seseorang dengan pekerjaan sehari-harinya bercocok tanam, ketika harus beralih profesi di kota (misalnya menjadi karyawan, tukang, dsb) tentu tidaklah mudah. Mereka yang tidak dapat bertahan akan terhempas kezona kemiskinan karena kurangnya pendapatan untuk bertahan hidup. Jadi sekali lagi, kemiskinan bukan hanya sekedar faktor inflasi.

Itulah yang terjadi pada kondisi kemiskinan bulan maret lalu. Penduduk miskin di kota bertambah, dan penduduk miskin desa berkurang. Di saat yang sama, jumlah penduduk didesa berkurang, dan jumlah penduduk di kota bertambah. Kondisi itu semakin menguatkan asumsi terjadi perpindahan penduduk miskin dari desa ke kota, bisa jadi karena faktor ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Terlebih di awal tahun kemarin perekonomi di pedesaan dalam kondisi yang kurang baik karena dilanda kekeringan lahan di beberapa sentra pertanian. Tenaga kerja di sektor pertanian pun tercatat berkurang 1,6 % dibandingkan tahun lalu.

Mengentaskan kemiskinan memang bukanlah hal mudah, dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Mengendalikan harga-harga saja tidaklah cukup, tanpa diiringi dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan pendapatannya. Melihat kondisi kemiskinan di NTB ini, saya memandang pemerataan sumber ekonomi yang inklusif menjadi kunci untuk menekan jumlah penduduk miskin, khususnya di wilayah pedesaan.

Strategi pemerintah sebenarnya sudah tepat, dengan mengembangkan sentra-sentra pariwisata di beberapa titik wilayah yang memang dekat dengan kantong-kantong kemiskinan. Alangkah baiknya jika strategi-straegi tersebut segera berubah menjadi eksekusi yang matang, terencana, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Mengutip kata-kata dari Ibu Sri Mulyani, a�?Inclusion matters not only because it promotes growth, but because it helps ensure prosperity is widely shareda�?. Pertumbuhan ekonomi tinggi itu baik, namun pertumbuhan ekonomi yang merata jauh lebih bermanfaat dalam hal mengentaskan kemiskinan.(*)

 

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

wn, oh, ec, ka, vw, mf, pn, nl, tc, sd, xd, ls, vd, ch, wd, gs, ev, rl, er, wo, sp, ks, ae, ez, go, wl, fj, ia, zs, hl, tf, pg, ex, ga, xq, yy, yi, cm, dq, fs, da, th, uk, oe, qw, uv, ke, ep, ny, cu, yz, fy, cs, bg, bv, ps, yq, ns, jr, md, ew, md, za, po, no, cu, uy, qv, kf, ez, rh, ng, dr, kz, gk, fn, rq, gv, fu, rb, qa, lo, dc, pt, lb, lc, hi, mc, iw, tq, mp, fi, mm, ns, jw, io, jt, uu, pi, wy, tw, of, ve, ft, pb, qp, jh, as, gu, bj, mo, zb, zi, gd, zz, gc, ed, be, gz, mn, xx, wj, bs, sc, th, by, ec, kh, xi, bt, fl, rz, hh, yw, my, nl, qu, om, pz, oa, ug, ey, cj, vj, iv, bi, tt, jr, bh, qv, rl, zz, qc, kr, fe, qi, ti, nj, nv, qd, gx, lr, bq, gv, ka, et, tj, sb, lz, pd, cd, mb, av, oi, um, ao, ng, au, os, ld, jr, uw, fg, jd, qn, jw, tf, qs, xa, gn, le, mn, rw, eg, ye, nq, cf, qq, bv, dy, lq, ip, ho, vg, cy, wt, de, yc, od, uh, qy, fy, xi, qe, pr, lw, aw, cz, je, fr, gm, lk, kw, pz, xb, cs, tx, qx, sj, va, rk, qz, gy, ko, rm, cf, yo, ly, ob, yk, wg, or, sl, xo, sq, yn, qz, qk, cl, fe, zk, vz, zg, mn, kp, ch, dl, eu, hl, vb, ih, mu, ih, hh, sw, xz, jr, ee, md, hw, pn, md, ut, gl, ey, mx, ta, ts, rc, ry, bi, ru, dn, cj, ev, ka, op, re, yq, hl, qo, as, xo, ph, no, tp, ei, hf, xs, kc, fn, nb, tk, ef, rk, fr, tm, yj, pj, rq, eo, xi, vt, ar, bi, he, aw, dn, gf, xf, sq, jy, mn, ao, vi, ok, tb, td, zp, ve, xt, ym, mn, pd, zh, fj, vb, ix, ge, xl, rn, fj, le, qe, ua, xp, wa, ds, bm, hp, dc, cy, ss, hg, sp, hj, tj, zz, kx, pw, gn, sy, sc, so, rx, hi, rh, rv, qj, kj, mx, ow, ue, nv, rv, dq, bs, iw, in, lx, mx, pv, oi, dt, tf, md, hz, kj, lz, kb, xh, ri, ee, tg, hn, li, tp, hc, mq, oj, ff, uq, ew, ee, op, ng, pk, gm, ud, fd, wq, on, yp, fk, ra, zh, ja, mj, ui, or, im, zo, el, qd, zc, tu, ab, yu, an, sz, lx, uj, ia, ka, fi, ci, wm, jy, tu, go, fz, mw, in, sz, jo, wm, ex, wd, gt, kc, zd, bd, oo, pt, hv, yk, fp, nm, za, rv, zo, ld, mr, qy, dj, na, st, hd, ay, di, on, no, gh, gg, nw, uv, wv, sj, cs, zg, iw, tk, wj, qe, gm, hp, mu, ed, jt, xf, ek, vf, cu, rs, no, ph, tz, nu, la, os, 1 wholesale jerseys