Ketik disini

Praya

1.320 Warga Menenun Masal di Sukarara

Bagikan

Pelaksanaan Festival Begawe Jelo Nyesek, di Desa Sukarara,A� Jonggat Lombok Tengah (Loteng), berjalan sukses. Pemkab pun menghadirkan 1.320 penyesek (penenun tradisional, red) di tempat itu.

***

SEPANJANG jalan di Kantor Desa Sukarara, penuh sesak. Para penyesek atau penenun tradisional di desa itu, mulai menempati area masing-masing, yang disediakan pemerintah.

Begitu Wakil Bupati Lalu Pathul Bahri dan Kepala Disbudpar NTB Lalu Muhammad Faozal, membuka festival, suara khas nyesek terdengar serentak.

Para ibu-ibu dan remaja di desa tersebut nampak antusias mengikuti festival hingga akhir acara. Mereka pun, mampu menyelesaikan nyesek dalam hitungan puluhan jam. Karena, secara kebetulan panjang benang yang ditenun, disesuaikan dengan waktu dan motif.

Puncak festival digelar pada Selasa, kemarin (29/7). Pemkab melibatkan 1.320 penyesek di 10 dusun di Desa Sukarara. Pemkab melalui Dinas Budpar berencana, kegiatan semacam itu menjadi agenda rutin setiap tahunnya.

a�?Begawe jelo nyesek ini adalah, upaya kita melestarikan warisan nenek moyak kita,a�? ujar Pathul.

Kegiatan tersebut, diakuinya tidak serta merta untuk warga Desa Sukarara saja. Tapi, warga Gumi Tatas Tuhu Trasna dan NTB. Apalagi, kerajinan yang satu itu berkembang pesat di beberapa desa. Kendati demikian, Desa Sukarara sendiri merupakan salah satu pusat industri tenun tradisional di NTB. Hasilnya, menyebar ke seluruh hingga ke mancanegara.

a�?Untuk itu, kedepannya festival seperti ini diperluas dan diperbesar lagi, harus menjadi agenda rutin setiap tahun,a�? seru Pathul.

Dinas Budpar pun, harap Pathul harus menjadi garda terdepan mensukseskannya. Tidak saja melalui dukungan material, namun yang tidak kalah pentingnya adalah, moral.

Caranya, menggalakkan promosi besar-besaran, melibatkan pelaku pariwisata dan pihak yang berkepentingan lainnya. Jika promosi berjalan maksimal, menurutnya maka kualitas produksinya pun baik.

a�?Saya melihat, kegiatan semacam ini dilaksanakan dengan nekat. Tapi, hasilnya luar biasa. Terbukti, jumlah penyeseknya mencapai ribuan orang,a�? sambung Kepala Dinas Budpar NTB Lalu Muhammad Faozal.

Kalau berbicara anggaran, ia merasa festival tersebut bisa menghabiskan biaya sebesar Rp 500 juta.

Namun, dengan anggaran seadanya, pemerintah desa dan Pemkab mampu melaksanakan kegiatan itu dengan sukses a�?Festival nyesek di Desa Sukarara ini adalah, salah satu jawabannya. Kita berharap desa lain, mengikuti, bahkan lebih besar lagi,a�? serunya.(Dedi Shopan Shopian/r3)

Komentar

Komentar