Ketik disini

Headline Oase

Sepenggal Cerita dari Ampenan

Bagikan

MEMANDANG Kota Tua Ampenan kini seperti melihat kembali potongan mosaik sejarah pertarungan kuasa bangsa-bangsa. Di masa lalu kota pelabuhan ini pernah menjadi yang tersibuk di timur Nusantara. Di sinilah kapal-kapal dari berbagai belahan dunia hilir mudik melakukan pertukaran. Ia, tumbuh sebagai sebuah kota metropolitan, tempat dimana ragam bangsa hidup berdampingan.

Di sini naturalis Inggris, Alfred Russell Wallace singgah antara bulan Juni-Juli 1856 dan merangkai temuannya yang fenomenal mengenai batas sebaran fauna Australia-Asia yang kita kenal dengan Garis Wallace. Temuan ini juga yang memberi andil dalam rumusan besar Charles Darwin mengenai Teori Evolusi.

HJ de Graff mencatat di permulaan Abad 17, ketika kuasa Kerajaan Selaparang surut, Ampenan menjadi rebutan sejumlah Kerajaan Bali dan Makassar. Tapi Bali yang lebih dekat menjadikan Ampenan pintu masuk sebelum meneguhkan kekuasaannya hingga satu setengah abad kemudian. Koloni ini tumbuh menjadi sebuah kerajaan agraris dalam tatakelola Hindu Bali. Kerajaan ini sempat pecah menyusul meninggalnya Gusti Wayan Tegah tahun 1775.  Empat kepangeran Cakranegara, Pagesangan, Pagutan dan Mataram berebut kuasa dan saling menentang. Hasilnya lewat serangkaian perang saudara,  tahun 1849, Raja Mataram naik tahta sekaligus menyatukan Lombok dengan Karangasem, Bali dalam satu negara.

Selepas ini Ampenan tumbuh  menjadi sumber kemakmuran yang membuat  Lombok menjadi salah satu kerajaan terkaya di Nusantara. Tapi kekayaan yang melimpah bukan tanpa risiko. Kedekatan Ampenan dengan bangsa Eropa lainnya di semenanjung Malaya membuat Belanda khawatir.

Dengan berbagai alasan 5 Juli 1894 Jenderal JA Vetter dan Residen Bali-Lombok, M.C Dannenbargh memimpin ribuan pasukan Belanda dalam iring-iringan armada kapal perang menuju Ampenan. Sejarah kemudian mencatat perang yang tak seimbang itu membuat dinasti ini Lombok-Karangasem tumbang.

Sekali lagi Ampenan menjadi saksi. 23 November 1894, dalam kesedihan yang tak terperikan Ratu Agung-Agung Ngurah Karangasem, raja Lombok terakhir  menggenggam erat pasir pantai ini sebelum naik ke kapal HMSS Prins Hendrik menuju pembuangannya di Batavia. Dari tempat itu ia mengenang apa yang telah hilang di Ampenan. Ia terusir dari kota yang dibangunnya, hingga Tuhan berbaik hati menjemputnya dari pengasingan 20 Mei 1895.

Dan demikianlah seterusnya, kekuasaan silih berganti di bandar ini. Belanda membangun kembali Ampenan sebagai bandar laut yang lebih moderen. Pabrik, gudang-gudang besar hingga sebuah bank moderen pertama dibangun di pelabuhan ini. Lengkap dengan sarana hiburan.

Yang lebih penting Belanda mempertahankan Ampenan sebagai sebuah melting pot tempat dimana ragam bangsa melebur dan disatukan. Suku-suku luar dipimpin oleh kapitan masing-masing, Bugis, Arab, China, Melayu dan lainnya. Setiap hari orang ramai turun dari pedalaman untuk menyaksikan kemegahannya. Tapi angin tropis lembab yang berhembus dari selat membuat semuanya lekas  lapuk dan pudar. Kejayaan Ampenan mulai luntur setelah pendudukan Jepang di masa perang Dunia II.

Lalu pemerintah Republik, memugar kembali selepas proklamasi kemerdekaan. Hingga awal dekade 1970-an keramaian Ampenan masih terasa.  Tapi akhirnya kota ini benar-benar limbung, setelah pelabuhan pindah ke Lembar, Lombok Barat. Gudang-gudang sepi karena kapal tak lagi singgah. Para saudagar dan tauke hilang bersama para pembeli yang tak kunjung datang. Gedung-gedung, kantor dan penginapan meranggas sendirian, berlumut, dimakan usia, dililit kesepian. Bioskop tutup, Pentas Komidi pergi. Sebagian mencoba  bertahan dari sisa-sia toko dan nostalgia pasar lama. Tapi tak pernah bisa kembali seperti semula.

Beberapa dekade kemudian Ampenan yang belum pulih benar,  kembali ditimpa kemalangan. Kerusuhan rasial  17 Januari 2000 membuyarkan sendi-sendi bandar ini sebagai tempat yang ramah bagi semua etnis. Warga yang sebagian besar pedagang-pengusaha mengungsi.  Ampenan kembali mati suri. Beberapa tahun kemudian sebagian mereka pulang, tapi luka itu masih jelas terlihat. Tapi sekali lagi kesepian itu demikian lengkap setelah Ampenan tak lagi punya pelabuhan udara.  September 2011 Bandara Selaparang ditutup menyusul beroperasinya Lombok International Airports, di Lombok Tengah.

Hilangnya bandara juga menghapus kode AMI (Ampenan) yang melegenda. Ini adalah kode ekspedisi angkutan laut dan udara dari dan menuju Lombok sejak dahulu kala. Tapi sejarah adalah cerita lalu yang takkan kembali. Seperti pasang surut ombaknya, Ampenan tentu masih punya pengharapan. Masih bisa bangkit lagi. Tidak dalam bentuknya yang dulu, tapi dalam semangatnya yang baru. Seperti takdirnya sebagai sebuah bandar terbuka, kota ini pernah menjadi rumah bagi semuanya. Setidaknya pilinan warna-warni budaya yang kini masih terasa di Ampenan adalah modal besar untuk membangun kembali kota tua ini. (r10)

Penulis : Zulhakim, Co Founder Semeton Ampenan

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka