Ketik disini

Headline Metropolis

Perjuangan Para Penerus Tradisi Wayang Sasak Lombok

Bagikan

Wayang dahulu menjadi primadona. Menjadi media hiburan yang efektif untuk menyampaikan berbagai macam pesan moral. Termasuk dalam penyebaran Islam. Tapi sekarang, zaman sudah berubah. Semua serba digital. Masyarakat punya banyak pilihan hiburan. Masihkan ada harapan bagi wayang untuk berkembang?A�A�A�A�A�A�A�A�

***

PANTAS wayang Sasak dalam kegiatan Roah Ampenan di eks Pelabuhan Ampenan, Sabtu (23/7) disambut antusias warga. Pentas yang sebenarnya hanya untuk a�?pemanasana�? ini menjadi pusat perhatian pengunjung malam itu. Padahal undangan hanya disebar lewat media sosial. Tapi, saking antusiasnya beberapa penonton nekat naik ke atas panggung. Mereka ingin melihat siapa dalang yang sedang bermain.

Rupanya ada kerinduan di balik antusiasme warga ini. Dahulu, lokasi ini merupakan tempat pentas wayang Lalu Nasib yang rutin digelar. Tapi setelah puluhan tahun, keriuhan pentas wayang tidak pernah terdengar lagi. Kini dengan format baru dan mengangkat isu kekinian seperti cerita Pokemon membuat penonton tambah semangat menonton wayang.

Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak Abdul Latif Apriaman mengatakan, wayang merupakan produk kebudayaan, dan kebudayaan terus bergerak, tidak pernah statis. Pada zamannya dulu, ketika media hiburan sangat terbatas, di mana tidak ada televisi dan tontonan lainnya, wayang memiliki posisi sangat kuat.Sehingga wayang ditonton banyak orang dan menjadi sangat efektif untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang.

Tapi saat ini, kondisinya berbeda. Kemajuan teknologi merubah pola dan perilaku hidup manusia, bahkan ruang-ruang pribadi sudah disusupi teknologi komunikasi. Maka, wayang juga harus berubah, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

a�?Kalau masih bertahan dengan gaya lama, kita akan ditinggal,a�? katanya.

Ia mengambil contoh, film kartun televisi pun terus mengalami perubahan. Mulai dari komik sekarang sudah serba digital, film-film kartun semakin hidup dengan karya tiga dimensi, animasi-animasi terus berkembang. Sementara seni wayang masih tetap seperti sedia kala, dalam rupa bayangan hitam putih. Agar tetap dicintai zamannya, wayang harus berubah.

Menurutnya, perubahan-perubahan pada seni wayang tidak akan merusak dasar-dasar yang menjadi pondasi sejak lama. Pondasi itu tetap dipegang teguh. Sebab wayang merupakan salah satu media suluh (penerang), penyampai informasi yang baik. Dia punya keunikan tersendiri dibandingkan film, sinetron dan lainnya. Kelebihan dan semangat wayang ini yang dipertahankan.

Ada tiga hal yang membuat wayang ditinggalkan generasi muda. Pertama dari segi bahasa, wayang Sasak menggunakan bahasa jejawen, sementara saat ini pengguna bahasa jejawen sangat minim. Hampir semua sekolah-sekolah jarang mengajarkan bahasa jejawen.A� Jika wayang bertahan dengan bahasa itu, tidak akan ada yang akan mengerti. Orang hanya akan menangkap gambar tapi tidak mengerti maksudnya.

Kedua, dari segi durasi pertunjukkan. Wayang-wayang Sasak biasanya dimainkan dengan pakem-pakem dan waktu panjang. Mulai setelah Isya dan menjelang subuh baru berakhir. Sementara kebiasaan masyarakat saat ini mereka menonton televisi di rumah dengan beragam hiburan. Mereka bisa meninggalkan tanyangan kapan saja. Tapi wayang tidak bisa ditinggalkan seperti itu.

a�?Artinya dari durasi juga harus disesuaikan,a�? ujarnya.

Ketiga, konten wayang bercerita tentang petuah-petuah leluhur, budi pekerti dan nilai-nilai yang luar biasa. Tapi sering kali tema-temanya berjarak dengan persoalan saat ini. Dari segi ini juga harus dicarikan solusi.

Dari beberapa persoalan tersebut, Sekolah Pedalangan Sasak mencoba mencari alternatif agar wayang tetap digemari generasi muda. Dari segi bahasa, mereka A�menggunakan bahasa Indonesia dan Sasak yang mudah dimengerti masyarakat. Meski demikian, warna wayang asli dan bahasa Jejawen tetap dipertahankan. Artinya di pembuka dan penutup tetap ditampilkan bahsa Jejawen sebab bahasa itu tetap harus diperkenalkan agar tidak punah.

Dari segi durasi pertunjukkan, ia mencoba membuat pertunjukkan dengan durasi tidak panjang. Seperti film pendek dan film pada umumnya hanya dua jam. Agar penonton memiliki waktu dan tidak membosankan. Kemudian dari segi konten, sekolah pedalangan coba menyampaikan persoalan masyarakat kekinian. Isu-isu terhangat juga dibahas dalam wayang sehingga masyarakat merasa dekat. Alternatif-alternatif ini yang sedang dicoba agar seni wayang tidak ditinggalkan.

a�?Wayang tetap hadir sebagai wayang Sasak tetapi di dunianya yang baru,a�? kata Latif.

Salah satu adaptasi baru yang mulai dicoba adalah wayang alternatif. Eksperimen ini sempat dilakukan dalam beberapa kali pertunjukkan. Dalam pentas ini, tokoh-tokoh wayang ini bisa berdialog dengan penonton. Pola ini tidak pernah dilakukan sebelumnya. Biasanya pentas wayang selalu monologis. Penonton mendengar cerita, tertawa dan gembira tapi tidak bisa membuat umpan balik dengan dalang. Dengan interaktif, penonton lebih lama bertahan karena mereka merasa dilibatkan.

Menurut Latif, generasi muda masih sangat senang dengan wayang. Hanya saja mereka tidak pernah diperkenalkan. Buktinya, dalam beberapa kali pentas, penonton yang bertahan justru adalah anak-anak muda yang sama sekali tidak pernah menonton wayang.

Bagi mereka yang hidup di zaman televisi wayang adalah barang baru, sebab sejak lahir mereka diperkenalkan dengan televisi, sinetron dan film-film kartun. Maka ketika dipertontonkan dengan wayang mereka sangat tertarik.

a�?Artinya bahwa wayang itu masih menarik bagi anak-anak,a�? ungkapnya.

Afifah Jilan, siswi MTsN 1 Mataram mengaku senang dengan wayang sebab unik, lucu dan sangat seru. Menurutnya, seni wayang tidak kalah dengan seni dan hiburan lainnya, dan generasi muda bukannya tidak suka pada wayang. Hanya saja jarang dipertontonkan. Ia sendiri bisa kenal wayang karena orang tua sering mengajaknya nonton saat ada pentas.

a�?Jangan malu nonton wayang karena wayang merupakan warisan budaya kita,a�? ujarnya.

Tara Sabila Azka, pelajar MTsN 1 Mataram lainnya mengaku selama ini hanya menonton wayang dari tanyangan televisi, tapi setelah menyaksikan pentas wayang secara langsung ia sangat tertarik.

a�?Ternyata lebih bagus nonton langsung,a�? ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat generasi muda kurang tertarik pada wayang. Pertama masalah bahasa, biasanya bahasa yang digunakan sulit dimengerti. Kemudian ceritanya monoton sehingga kurang menarik. Mestinya menceritakan juga tentang kehidupan sehari-hari seperti menyinggung masalah Pokemon dan sebagainya.

a�?Kita tidak mengerti bahasa yang digunakan dan akan bagus kalau ada tokoh yang lucu-lucu,a�? ujarnya.

A�Dekatkan dengan teknologi

Fitri Rachmawati, penggagas sekolah pedalang mengatakan, jika wayang tidak didekatkan dengan teknologi, maka siap-siap ditinggalkan generasi muda. Sebab mereka akan tetap merasa yang lebih penting dalam hidupnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan teknologi. Sementara wayang ini permainan seni manual.

a�?Tapi bila wayang lebih didekatkan dengan teknologi maka mereka akan lebih akrab,a�? katanya.

Misalnya, tokoh-tokoh dalam wayang bisa dibuat menjadi tokoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Misalnya anak sekolah, tukang sampah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tapi pakem-pakem dalam wayang tetap akan diperkenalkan agar tidak dilupakan. Baru setelah itu dikenalkan dengan tokoh-tokoh seperti Selandir, Sekardiu, Jayangrana dan sebagainya.

a�?Bisa saja wayang suatu saat dipentaskan menggunakan teknologi green screen,a�? katanya.

Kepala Sekolah Pedalangan Wayang Sasak Muhaimi mengatakan, setelah satau tahun lebih membuka sekolah pedalangan, ia merasa tidak mendapat kendala terlalu banyak. Sebab anak-anak diajak belajar dengan senang dan gembira, sambil bermain-main mereka belajar wayang.

a�?Sehingga tidak menjadi beban bagi mereka, kebetulan juga ada bakat pada masing-masing murid,a�? katanya.

Menurutnya, jika menggunakan metode lama akan sangat sulit, sebab banyak tahapan pakem-pakem yang harus dilalui. Dengan situasi anak zaman ini, mereka kemungkinan akan lari dan berbalik arah. Sehingga, pertama-tama murid dibuat senang dan mengenal wayang dahulu. Ilmunya diajarkan secara bertahap, kalau dipaksa sangat tidak mungkin.

a�?Bahkan anak-anak TK kami targetkan untuk bisa bermain ke sini (sekolah dalang) dulu. Ada gedung pertunjukkan agar mereka bisa menyaksikan pada siang hari,a�? katanya.

Ada tiga pelajaran yang diajarkan kepada siswa yakni pedalangangan, kerwitan (musik), dan penatah wayang. Jam pelajaran di sekolah pedalangan dimulai setelah anak pulang sekolah, mulai dari pukul 14.00 a�� 16.00 Wita. Sehingga tidak mengganggu jam sekolah mereka. Meski demikian, Muhaimi mengakui tidak semua anak bertahan, banyak juga yang gugur. Kelas pertama sebanyak 70 orang siswa, tapi yang bertahan saat ini hanya 35 orang. Ada yang gugur karena tidak lulus seleksi, ada yang mengundurkan diri.

Ia mengakui, awalnya sangat sulit meyakinkan orang tua. Tapi sekarang sudah gampang mengajak mereka masuk kelas pedalangan. Orang tua senag jika anaknya belajar mewayang. Angkatan pertama bahkan sudah memperdalam pakem wayang. Dari tahapan ini, ia berharap akan semakin banyak anak mau belajar wayang.

A�Mulai Tertinggal

Keberadaan wayang Sasak tidak bisa dipungkiri kini mulai mengkhawatirkan. Lantaran gaungnya mulai memudar seiring terus berkurangnya para dalang yang menuturkan. Hal ini dikarenakan wayang Sasak dirasakan tidak bisa mengikuti arus perkembangan zaman dan teknologi.

“Salah satu hal yang membuat seni atau kebudayaan luntur dikarenakan masyarakat tidak bangga lagi pada budayanya. Termasuk wayang ini,” kata H Ramiun, seniman yang kini menjabat Kepala SKB Kota Mataram.

Diungkapkan Ramiun, di kalangan orang tua maupun orang dewasa, kebanggaan akan wayang mungkin saat ini masih melekat. Namun, di kalangan generasi muda, kehadiran wayang kurang dikenal.

“Generasai muda saat ini lebih tertarik dengan hal yang berbau modern,” terangnya.

Hal inilah yang menurut Ramiun membuat wayang semakin ditinggalkan. Karena wayang masih bertahan dengan cerita dan sejarah masa lampau. Ditambah pengemasannya saat ini masih bersifat statis.

“Ceritanya ya memang hanya itu saja dan terlalu berpatokan pada pakem,” jelasnya.

Untuk itulah beberapa wayang kini sudah mulai berinovasi. Misalnya saja di Bali, kini sudah dikenal istilah wayang listrik. Yakni wayang yang berinovasi dengan tambahan bantuan alat visualisasi berupa LCD.

“Jadi kalau Gatot Kaca terbang, bukan hanya wayangnya yang dipindah ke atas. Tapi di layar LCD ada keluar gambar awan, sehingga visualisasinya semakin kuat,” bebernya.

Namun Ramiun mengungkapkan, inovasi yang dilakukan terhadap wayang di Pulau Lombok saat ini masih belum bisa diterima. Itu ia ungkapkan setelah salah seorang temannya yang mencoba membuat wayang kreasi kurang mendapat sambutan hangat dari para pelaku wayang.

“Sejauh ini, inovasi di wayang Sasak hanya menggunakan lampu listrik untuk penerangnya dan pengeras suara untuk dalang,” imbuhnya. Akibatnya, wayang pun mulai kalah dengan tayangan TV serta tayangan tiga dimensi lainnya.

Ramiun mengungkapkan saat ini mungkin masih bertahan dengan beberapa dalang yang cukup terkenal. Namun, jika tidak terus dijaga keberadaan wayang bukan tidak mungkin akan terus memudar seiring hilangnya keberadaan para dalang.

“Cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan wayang ini yakni mensosialisasikannya ke para pelajar sekolah. Itu bisa masuk kurikulum dalam pelajaran muatan lokal,” tegasnya.

Sosialisasi wayang itu pun dijelaskan harus diikuti dengan pementasan. Karena, hanya melalui muatan lokal keberadaan budaya asli masyarakat Sasak bisa dipertahankan.

“Dari sanalah mereka akan mengenal dan memahami budaya mereka sendiri termasuk wayang ini,” tegasnya.

“Wayang juga menurut saya harus berinovasi. Karena kalau tidak berinovasi, budaya itu akan tertinggal jauh dengan kemajuan teknologi,” katanya.

Saat ini ia mengibaratkan teknologi sebagai seorang yang tengah berlari kencang di tengah kemajuan zaman. Sebaliknya wayang dan budaya secara umum ibarat seseorang yang berjalan dengan dipapah atau dituntun.

Untuk itu, Ramiun menegaskan harus ada orang yang peduli untuk menanamkan budaya pada generasi muda. Pemerintah juga diminta tanggap akan kondisi budaya saat ini. Pencangan budaya jangan hanya sebagai seremoni, melainkan ditanamkan kepada generasi muda melalui bangku sekolah. Karena jika generasi muda tidak kenal dan paham akan budayanya sendiri, mereka dipastikan tidak akan pernah merasa bangga pada budayanya.

Salah seorang dalang pewayangan yang cukup dikenal di Lombok H Lalu Nasib turut menanggapi keberadaan wayang yang makin pudar. “Ya benar itu, bukan tidak mungkin setelah saya, tidak ada wayang Sasak,” ujarnya saat ditemui di kediamannya tadi malam.

Pria kelahiran 29 Agustus 1947 ini mengemukakan beberapa alasan wayang Sasak akan punah. Yang pertama yakni tidak adanya perhatian pemerintah untuk melestarikan wayang Sasak. “Bukan minim lagi, perhatian pemerintah itu tidak ada,” kritiknya.

“Masa depan dalang itu suram di sini. Makanya nggak ada yang mau jadi dalang,” sambungnya.

Ia mengungkapkan beberapa kali pemerintah maupun DPR menjanjikan lebih memperhatikan kebudayaan seni wayang. Faktanya, nihil aktualisasi. Ia pernah diminta untuk mendirikan sekolah pewayangan, tapi pembiayaan enggan dianggarkan.

“Kita sebagai seniman dan dalang tidak dihargai oleh pemerintah. Padahal pemimpin kita orang Sasak,” sindirnya.

Ditambah generasi muda yang juga ikut-ikutan tidak menghargai budayanya sendiri membuat Lalu Nasib semakin khawatir nasib wayang akan berakhir. Ia menilai saat ini generasi muda sangat cepat terpengaruh perkembangan zaman. Sehingga, memang dibutuhkan pembelajaran tentang kebudayaan wayang maupun yang lainnya sejak bangku sekolah.

Terkait peluang bagi untuk wayang berinovasi, Lalu Nasib memiliki pandangan berbeda. Menurutnya wayang Sasak harus dipertahankan keasliannya. “Itu yang membuat wayang Sasak berbeda dengan wayang Jawa dan Bali. Kita harus pertahankan keasliannya karena itu menjadi ciri khas wayang ini,” tegasnya.

Ia meyakini, meski masih tradisional dan klasik, peminat wayang tidak pernah sepi. Itu ia dapati setelah beberapa kali pementasan, wayang selalau ramai ditonton masyarakat.

“Saya yakin wayang Sasak ini jika dihargai akan tetap bertahan dan bersaing. Sekarang yang dibutuhkan hanya apresiasi pemerintah,” ujarnya. (ili/ton/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka