Ketik disini

Sudut Pandang

Nuansa Alquran di Pulau Seribu Masjid

Bagikan

MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) XXVI saat ini tengah berlangsung, setelah secara resmi dibuka Presiden Joko Widodo pada 30 Juli 2016. Para peserta dari berbagai provinsi di tanah air sedang berkompetisi dalam berbagai jenis lomba seperti cabang Tilawah Alquran, Khath Alquran, Fahmil Quran, Sarhil Quran, Musabaqah Makalah Alquran, Hifzil Quran, dan Tafsir Alquran.

Kita bisa membayangkan bagaimana semarak kompetisi yang semuanya tentang Alquran selama lebih dari satu pekan di pulau Lombok sebagai tempat penyelenggaraan MTQ Nasional 2016. Betapa tidak, nuansa Alquran dan MTQ sudah mulai dikumandangkan beberapa pekan sebelum perhelatan MTQ dimulai. Pada setiap kantor pemerintah dan sekolah di kota Mataram secara serentak diputar lagu mars MTQ yang sungguh membangkitkan semangat para warga kota khususnya dan masyarakat NTB umumnya untuk menyambut event nasional dua tahunan tersebut.

Nuansa Alquran mulai makin terasa kental ketika tiga hari jelang pembukaan MTQ, terutama saat dilangsungkannya tiga event terkait dengan Alquran secara berurutan. Pertama, khatam Alquran yang melibatkan ratusan penghafal Alquran dan ribuan penyimak di halaman kantor Gubernur NTB. Kedua, nyanyian marks MTQ secara masal yang melibatkan puluhan ribu siswa dan santri yang ada di pulau Lombok, kemudian diikuti dengan pembacaan barzanzhi dan selakaran yang melibatkan puluhan ribu warga muslim. Dan ketiga, pawai taaruf peserta dan simpatisan MTQ serta karnaval kendaraan hias, yang memperlihatkan nuansa Alquran yang begitu indah dan eksotik.

Gairah masyarakat mengikuti pembukaan MTQ tergolong sangat tinggi. Jalanan sekitar Islamic Center macet tidak karuan. Bahkan ketika saya mencoba menelusuri jalan-jalan tersebut sore harinya dengan sepeda sambil berolahraga, sudah terlihat macet. Malam saat berlangsung pembukaan pun macetnya luar biasa, karena jalan utama di sekitar Islamic Center dipadati masyarakat yang tidak mendapat undangan pembukaan dari panitia. Masyarakat sangat antusias menikmati nunasa Alquran yang tersaji selama malam pembukaan.

Kini antusias tersebut selalu terjaga, venue-venue setiap cabang dalam MTQ yang tersebar di sebelas lokasi dipenuhi penonton. Apalagi bila kita menyaksikan suasana malam di di arena utama (Astaka) MTQ Nasional, Islamic Center sebagai tempat dilangsungkannya Tilawah Alquran Golongan Dewasa.

Tribun yang ada dan ruang lapang yang tersedia di depannya disesaki para penyimak Alquran yang dilantunkan oleh qori dan qoriah golongan dewasa terbaik utusan semua provinsi di Indonesia.

Semangat dan antusias warga untuk menikmati suara merdu para qori dan qoriah terlihat espresif. Setelah tenang menikmati saat ayat Alquran dibacakan, mereka mengekspresikan detak-kagumnya dengan menyebut kata-kata mulia seperti a�?Allaha�?, Allahuakbara�? dan kalimat religius lainnya.

Apresiasi yang lebih terlihat setelah qori dan qoriah selesai menuaikan tugasnya sebagai peserta dan mengakhiri bacaannya. Para penyimak Alquran dengan sepontan memberikan aplus dan bahkan standing aplus pada setiap peserta.

Saya menyaksikan banyak dan tidaknya atau panjang dan pendeknya aplus yang diberikan masyarakat ditentukan oleh bagus dan tidaknya tampilan qori dan qoriah dalam penilaian mereka. Masyarakat layaknya a�?dewan hakama�? masal terhadap perlombaan tilawah yang sedang berlangsung. Inilah hiburan religus, yang susah dilupakan saat perhelatan MTQ Nasional dilaksanakan di pulau seribu masjid NTB tahun ini.

Gambaran day to day tentang fenomena persiapan dan pelaksanaan MTQ di atas merupakan potret apresiasi masyarakat NTB dalam menyambut dan memeriahkan helatan religius MTQ yang dilaksanakan di Bumi Gora.

Event ini (MTQ) benar-benar telah menjadikan pulau seribu masjid (pulau Lombok dan NTB pada umumnya) bagai a�?negeria�? Alquran. Gairah menyambut dan memeriahkan Alquran tidak hanya dari warga muslim NTB, tetapi juga penduduk nonmuslim, khususnya yang ada di Kota Mataram, seperti komunitas Tionghoa, para Pecalang Hindu, saudara-saudara kita dari umat Kristiani, dan elemen nonmuslim lainnya.

Partisipasi warga nonmuslim dalam event MTQ Nasional NTB 2016 merupakan bentuk kebersamaan dan toleransi yang sungguh membanggakan. NTB yang dikenal sebagai daerah plural membutuhkan sikap dan perilaku toleran di antara warganya. Apalagi, provinsi yang sedang dipimpin oleh Gubernur yang hafidz ini menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulannya. Pariwisata butuh kenyamanan, kedamaian warganya, dan keamanan lingkungannya. Warga yang toleran dan saling mencintai serta menghargai adalah modal penting bagi terwujudnya suasana damai dan ramah di bumi NTB.

Oleh karena itu, toleransi dan kebersamaan sudah saatnya untuk menjadi sikap dan perilaku permanen agar tidak dituduh sekedar action simbolik yang temporal saat event nasional (seperti MTQ) digelar atau hanya drama (pengelolaan kesan) pragmatis dan opurtunis di depan tamu daerah yang sedang hadir dalam event MTQ Nasional.

Kebersamaan saat MTQ menjadi spirit yang diharapkan mampu memotivasi semua warga NTB untuk selalu bersama di masa yang akan datang. Suasana akan makin indah bila ada event lokal maupun nasional yang dihelat umat nonmuslim, juga melibatkan warga muslim sebagai supporting unit/element untuk kelancaran dan kesuksesannya.

Saling mengenal dan mencintai dalam bingkai toleransi adalah ajaran Alquran. Mempraktikkan toleransi lintas agama dalam event MTQ seperti yang dilakukan warga NTB merupakan salah satu bentuk implementasi ajaran Alquran. MTQ yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh warga NTB diharapkan bisa mewariskan sikap dan perilaku Qurani bagi warga Bumi Gora, sehingga daerah ini akan dihiasi oleh perilaku terpuji dari warganya. Sikap dan perilaku Qurani-lah yang bisa dijadikan sebagai modal sosial (social capital) dalam membangun daerah yang ber-visi a�?Beriman, Berbudaya, Berdaya Saing, dan Sejahteraha�? ini. Semogaa�� (r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka