Ketik disini

Metropolis

Pilih Menghafal ketimbang Membaca Alquran Braille

Bagikan

Indera penglihatan tak sempurna, tak menghalangi untuk membaca Alquran dengan merdu. Inilah yang dilakukan para tuna netra peserta MTQ XXVI. Suara mereka mampu, membuat orang bergetar, takjub.

***

BERULANG kali pria itu menekan-nekan keras pelipisnya. Ibu jari dan telunjuk kemudian menekan, seperti tertanam cukup dalam di rongga bola matanya.

a�?Ngilu,a�? jawab dia singkat, menjawab pertanyaan koran ini.

Nafasnya masih turun naik. Meski tak terlalu deras. Wajahnya masih basah. Ada bulir-bulir jernih air, masih menempel di separuh bidang mukanya.

Pria itu, baru saja usai memperbaharui wudhunya. Tubuhnya sedikit ia bungkukkan. Entah apa yang tengah dirasakan. Tapi ia menolak disebut gugup.

a�?Ndak (gugup), hanya memperjelas pendengaran,a�? ujar pria yang bernama Febriandi itu.

Seorang pria, nampak setia di sampingnya. Dia adalah pendamping sekaligus saudara Febriandi. Tak perlu bicara banyak.

Gerakan tangan Febriandi seperti a�?lidaha�� yang tengah berucap, sehingga ia langsung mengerti. Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebuah handphone.

a�?Telpon ibu,a�? kata Febriandi, meminta bantuan pendampingnya.

Febriandi baru saja mendengar informasi dari panitia. Nomor peserta selanjutnya disebut untuk mulai tampil.

Meski indera pengelihatannya sudah tak sempurna, Febriandi tahu itu kakak angkatnya.

a�?Itu kakak angkat saya, namanya Lidiawati. Kalau saya tampil paling terakhir,a�? ulasnya.

Febriandi terlihat sangat bersemangat. Seakan-akan ia benar-benar melihat kakaknya tengah dituntun perlahan menuju mihrab Quran. Ia beberapa kali memperbaiki duduknya.

Jujur, ia mengaku panik, meski bukan dirinya yang tampil. Suaranya terdengar ditekan-tekan berjuar pada orang di ujung telpon.

a�?Ibu, ibu ini kakak yang tampil sekarang,a�? derunya, khas dengan intonasi Melayu.

Tapi, Febriandi semakin panik. Ia seperti bisa melihat jelas, lampu hijau yang menyala di layar LCD pertanda qoriah harus memulai penampilannya. Namun, hingga lebih satu menit, suara kakaknya tak juga terdengar.

Hingga menjelang dua menit, barulah suara Lidiawati akhirnya terdengar. Tapi baru saja beberapa ayat dan lengkingan suara Lidiawati memukau puluhan penonton yang hadir, Febri lagi-lagi terdengar panik.

a�?Astaga bu, kakak ambil nafas sudah dua kali,a�? ujarnya sedih.

Ia tahu, harusnya satu fluktuasi lagu idealnya dibaca dalam satu tarikan nafas saja. Air mukanya terlihat kecewa. Ia berharap, pantia berbaik hati, memberi kesempatan pada kakaknya, agar bisa memberi penampilan terbaiknya. Tapi, itu mustahil.

a�?Saya dan kakak, memperkuat Kalimantan Barat, untuk kategori Canet (Catat Netra),a�? tutur Febriandi.

Gangguan pada indera pengelihatannya, merupakan bawaan sejak lahir. Ia tiga bersaudara, namun hanya Febri yang lahir mengalami gangguan indera. Meski demikian, Febri mengaku tetap bersyukur dan tak pernah sekalipun menyesali keadaanya.

a�?Saya selalu bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah, tidak ada yang pernah saya sesali,a�? ujarnya, mantap. Wajahnya tak sedikitpun ragu dengan yang diucapkannya.

Ini merupakan kali pertama, Febriandi mewakili provinsinya di tingkat Nasional. Sebelumnya, ia dua kali tersandung di tingkat provinsi, sampai akhirnya kemarin terpilih menjadi yang terbaik.

Tapi, Febriandi mengaku tetap menikmati proses yang dilalui. Hingga akhirnya, hari ini ia mendapatkan kepercayaan, untuk mensyiarkan agama, melalui kemampuan tilawahnya.

a�?Membaca Alquran dengan tilawah adalah bagian dari syiar agama. Bagi saya ini kesempatan mulia untuk mengingatkan umat manusia jika Alquran itu adalah tuntunan hidup,a�? tegasnya.

Febri mulai mendalami seni tilawah sejak usia menginjak dua tahun. Lalu, saat berusia 11 tahun, Febri sudah mengikuti lomba-lomba tilawah di berbagai tempat.

Kini, ia tengah menempuh pendidikan di Universitas Tanjung Pura, Prodi Seni Musik. Febri bercita-cita ingin menjadi guru jika sudah lulus kuliah nanti.

a�?Nikahpun setelah kuliah,a�? ujarnya lalu terkekeh.

Uniknya, cabang Tilawah untuk kategori Canet memang mengharuskan para Qori dan Qoriah menghafal surat yang akan dibacanya pada saat tampil. Meski sebenarnya bisa saja, mereka menggunakan Alquran braille, jika mau.

Tapi tentu, hasilnya jadi bisa tak sempurna dan tersendat-sendat. Mereka harus meraba dulu baru kemudian otak memprosesnya. Sampai akhirnya mereka bisa memahami bacaanya.

a�?Alhamdulillah (hafalan) saya masuk dua jus,a�? jawabnya.

Febriandi mengaku, matanya memang belum buta sepenuhnya. Ia masih melihat ada berkas cahaya di pelupuk mata. Tapi saat ditanya, warna cahaya itu apa, Febri menggeleng.

a�?Saya tidak tahu, apa ini yang orang sebut warna merah, putih, atau lainnya. Yang jelas, saya masih melihat ada cahaya,a�? tukasnya.

Selama ini ia hanya mengandalkan indera pendengaran dan perasanya untuk memantapkan hafalan. Ia akui, indera penglihatannya memang lemah. Tetapi, indera pendengar dan perasanya cukup peka.

Hingga justru melipat gandakan kemampuannya menghafal.

Kafilah Kalimantan Barat sendiri membawa 37 peserta untuk 7 kategori lomba. Ditambah 64 pendamping.

Di MTQ kali ini, mereka menargetkan bisa memperbaiki peringkat, setelah di MTQ XXV di Batam, Kepulauan Riau dua tahun lalu, mereka gagal masuk 10 besar.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram bersambung/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka