Ketik disini

Metropolis

Jaga Konsentrasi Larang Buka Medos

Bagikan

Di MTQ XXVI Tahun 2016 ini, kafilah Sumatera Utara yakin bisa menunjukan kemampuan terbaiknya. Namun banyak kendala nonteknis yang mereka hadapi. Mulai dari bencana erupsi Gunung Sinabung dan terakhir kasus Tanjungbalai.

A�***

SUMATERA Utara dalam MTQ XXV tahun 2014 di Batam Provinsi Kepulauan Riau, berhasil masuk sepuluh besar. Bahkan, perolehan juara kontingen mereka bersaing ketat dengan Jawa Timur yang dikenal sebagai a�?bumi para santria�?. Kedua provinsi besar ini pun harus berbagi tempat di peringkat 7 nasional. Tapi kali ini, mereka menaruh harapan besar pada sistem e-MTQ yang pertama kali diterapkan di Mataram, NTB.

a�?Karena itu, kami percaya ini adalah MTQ perubahan,a�? kata Ketua Kafilah Sumatera Utara Asren Nasution.

Sistem perlombaan dengan mendigitaliasi perlombaan dari pedaftaran, perlombaan dan penilaian akan membuat MTQ kali ini bisa lebih jujur dan adil.

Meski, kalau memang niatnya main curang, suatu daerah bisa melakukannya jauh-jauh hari sebelum perlombaan. Tapi setidak-tidaknya, lanjut Nasution, semangat perubahan yang coba diusung tahun ini, membawa angin segar.

Pria yang pernah 10 tahun tinggal di NTB, saat masih menjadi anggota TNI di Korem 162 Wira Bhakti itu, mengaku persiapan kontingennya cukup lama. Termasuk dengan memberdayakan potensi pelatih lokal yang teruji, telah menjadi juara dalam gelaran MTQ ditahun-tahun sebelumnya.

a�?Di samping itu, kami juga berkonsultasi dengan pelatih nasional seperti Profesor Said Agil Munawar dan Yusnar Yusuf, untuk memastikan tim kami bisa berlomba dengan kemampuan dan formasi terbaik,a�? ulasnya.

Tapi, Nasution kemudian diam. Ia tak meneruskan ceritanya tetang persiapan tim. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Lama ia tercenung, sampai akhirnya mengeluarkan unek-unek pikirannya.

a�?Kami datang ke sini, sebenarnya bukan buat senang-senang, tetapi membawa nama baik daerah,a�? ujarnya.

Masih belum jelas, maksud cerita pria 51 tahun itu. Tapi ia masih diam. Lama ia, memandang jauh ke arah luar musala, tempat berbincang. Seperti berharap menemukan jawaban atas apa yang mengganjal difikirannya.

a�?Tanjungbalai,a�? ujarnya lirih.

Saat Lombok Post mewawancarai Nasution, Tanjungbalai tengah bergolak. Isu SARA menyelimuti masyarakat di sana. Hingga akhirnya, terjadi pembakaran rumah ibadah. Itulah alasan yang membuat Gubernur Sumatera Utara akhirnya mengurungkan niat bertolak ke Lombok. Ia memilih mengutus istrinya, sekda dan 17 pejabat eselon II mendampingi anggota khafilah. Sementara ia fokus menyelesaikan konflik di daerahnya.

a�?Mau tak mau, apa yang terjadi di Tanjungbalai, menganggu konsentrasi kontingen yang bertanding disini. Tapi saya sudah jelaskan, semua akan segera membaik,a�? ujarnya.

Syukurnya, lanjut dia, 42 kontingen MTQ Sumatera Utara , segera memahami maksudnya. Bahkan, dari penuturan Nasution, peserta sudah fokus menghadapi setiap event lomba yang akan dihadapi.

a�?Saya himbau mereka, jangan dulu buka media sosial, karena di sana isunya beredar liar,a�? ulasnya.

Memang tidak mudah, mengembalikan rasa nyaman dan tenang kontingen, seperti sedia kala. Meski mereka sudah mengaku fokus. Nasution melihat, mereka masih berfikir tentang kondisi terkini daerahnya.

a�?Sekecil apapun, peristiwa daerah pasti mempengaruhi mereka,a�? ulasnya.

Suatu waktu, Nasution lalu berpesan pada semua kontingen. Pentingnya memelihara fokus, memandang ke arah depan. Bukan ke samping, apalagi belakang. Sesulit apapun keadaannya, dia meminta kontingen lepas dan tenang. Seperti masyarakat di sekitar Gunung Sinabung.

Saking lamanya gunung itu mengalami erupsi dan kejadiannya kerap tak diduga-duga, warga akhirnya menjadi terbiasa.

a�?Semangatnya harus seperti warga yang ada di sekitar gunung itu, bukan lantas karena gunung meletus lalu tak mau bekerja,a�? tegasnya.

Ia mengingatkan, kedatangan tim Sumatera Utara, ke NTB adalah untuk memperbaiki prestasi sebelumnya. Meski tidak menargetkan muluk-muluk, Nasution meminta pada kontingen berbuat yang terbaik yang mereka bisa.

a�?Kita tidak lagi target mereka. Agar kontingen bisa bermain lepas tanpa beban, kondisi psikologis itu jauh lebih baik untuk mereka,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAEUDIN, Matarambersambung/r4)

Komentar

Komentar