Ketik disini

Metropolis

Lebih Dekat Dengan Wildan, Seniman Grafiti dari Ampenan

Bagikan

Lombok memiliki banyak seniman kreatif. Meski nama mereka belum terlalu dikenal, tapi karya-karya terus bicara. Seperti Wildan, seniman grafiti asal Ampenan yang terus berkarya dengan coretan-coretan di dinding.

***

WILDAN kecil diam-diam membawa kapur tulis dari sekolahnya di SDN 19 Ampenan. Sesampai di rumah, kapur-kapur yang diambil dari sekolah itu digunakan untuk mencoret dinding-dinding rumah warga. Sesuka hatinya, Wildan menulis kata-kata yang keluar dari imajinasi kepalanya. Aksinya ini tentu saja membuat pemilik rumah marah. Ia dianggap hanya membuat kotor rumah.

Demikian juga di sekolah, aksi corat coret Wildan tidak pernah berhenti. Papan tulis, bangku hingga buku pelajaran tidak luput dari coretan tangannya. Aksi menggambar di sembarang tempat ini kerap mendapat protes dari guru dan warga.

Tapi hal itu tidak pernah menciutkan semangatnya. Ia justru semakin bergairah menggambar. Apalagi bila ia bisa mendapatkan kapur warna, semangatnya berlipat ganda untuk membuat coretan dinding.

a�?Saat itu saya berpikir suatu saat harus bisa membuat gambar bagus, seperti pelukis terkenal,a�? katanya.

Bakat Wildan semakin terasah saat duduk di bangku SMP dan SMA. Ia selalu memiliki motivasi dan bergairah untuk membuat seni grafiti. Apalagi bila melihat karya orang lain yang lebih bagus, ia selalu merasa penasaran dan ingin belajar membuat gambar yang lebih baik.

Kemampuannya terus terasah hingga saat lulus SMA. Tamat SMA, ia ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi mengambil jurusan seni rupa. Sayang, keinginannya itu harus kandas. Orang tua tidak mempu membiayai kuliahnya.

a�?Keuangan orang tua tidak cukup untuk biaya kuliah,a�? tuturnya.

Meski tidak bisa kuliah, Wildan tidak menyerah. Naluri untuk membuat seni grafiti tidak pernah mati. Sejak saat itu ia belajar secara otodidak, membuat berbagai macam karya. Tidak hanya di dinding, ia juga membuat desain klotingan untuk kaos. Namun tuntutan hidup harus membuatnya bekerja dan sempat membuatnya berhenti menggambar. Ia bekerja serabutan mulai dari bekerja di Pertamina, menjaga toko dan sebagainya.

a�?Tapi saya terus menggambar, di rumah terus latihan sendiri,a�? katanya.

Akhirnya sejak tahun 2011, Wildan mulai serius berkarya membuat seni grafiti. Goresan tangannya perlahan mulai dilirik dan diakui kualitasnya. Order pun mulai berdatangan. Banyak warga yang ingin rumahnya dilukis, juga toko-toko dan pengelola kafe. A�Coretan dinding seperti di Sungai Jangkuk menjadi bukti salah satu karyanya yang banyak diapresiasi. Meski awalnya hanya iseng-iseng, tapi ternyata banyak orang menjadikannya sebagai tempat selfie.

a�?Rasanya senang sekali gambar saya dijadikan tempat selfie,a�? kata riang.

Wildan mengaku ia selalu merasa gemes melihat dinding yang mulus. Ingin rasanya ia gambar dengan coretan agar lebih hidup dan indah. Tapi banyak orang yang masih keberatan. Menurutnya, seni grafiti berbeda dengan coretan asal, sehingga wajar orang marah bila hasil coretannya buruk. Tidak enak dipandang. Seni grafiti sendiri punya prinsip membuat ruang kosong agar lebih enak dilihat dan hidup.

a�?Saya selalu gemes kalau lihat ada dinding yang mulus,a�? katanya.

Selain grafiti, Wildan saat ini ia juga membuat merek klotingan sendiri yakni a�?Wheelsa�? artinya roda. Maknanya, agar ia selalu ingat bahwa roda kehidupan selalu berputar. Kadang di atas kadang manusia berada di bawah. Tidak selamanya senang dan tidak selamanya susah.

Kini ada ratusan desain klotingan yang sudah dibuat, kaos-kaos dicetak dan ia jual di Lombok. Bahkan beberapa rekannya yang merupakan turis asing dia berikan sebagai kenang-kenangan.

Wildan merasa, apa yang dicapainya saat ini belum apa-apa. Tapi dari pengalamannya sejak kecil dalam dunia gambar menggambar memberikannya banyak A�pelajaran penting. Kreativitas anak tidak boleh dihentikan, mereka harus tetap diberikan ruang untuk terus berkarya. Tapi kenyataanya, apresiasi orang dewasa terhadap kreativitas anak masih rendah, seperti memarahi saat membuat corat-coret di dinding.

a�?Anak harus diberikan tempat, diarahkan agar kreativitas mereka tidak mati,a�? ujarnya. (Sirtupillaili/Mataram/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka