Ketik disini

Metropolis

Bahaya Nih, Limbah Medis Dibiarkan Berserakan

Bagikan

MATARAM – Limbah masih menjadi ancaman bagi warga Kota Mataram. Terutama limbah medis.

Hasil temuan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Mataram memperlihatkan, banyak limbah medis tidak dikelola dengan baik. Bahkan dibiarkan berserakan oleh pengelola rumah sakit atau klinik.

“Yang paling banyak dan belum tertangani, ya limbah medis ini,” kata Kasubbid Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) Kota Mataram, Darwis saat ditemui di Kantor BLH, kemarin.

Dikatakan, baru sekitar 90 persen limbah medis yang sudah tertangani. Sisanya masih mengganggu dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

“Rata-rata rumah sakit dan puskesmas serta klinik yang telah menggunakan jasa transporter, limbah medisnya tertangani dengan baik,” tuturnya.

Namun, masih ada rumah sakit penyumbang limbah medis terbesar yang dikatakan hingga saat ini masih belum menggunakan jasa transporter. Yakni RSUP NTB.

“Hanya RSUP NTB saja yang belum menggunakan jasa transporter. Kalau yang lain sudah. Bahkan semua Puskesmas juga menggunakan transporter,” bebernya.

Padahal, limbah medis yang dihasilkan RSUP NTB dikatakan Darwis adalah yang terbanyak di Kota Mataram. Sebanyak 800 kilogram hingga satu ton limbah medis dihasilkan setiap harinya.

“Itu masih dikelola menggunakan incinerator. Itu pun ineceneratornya belum ada izin dan masih menyisakan limbah B3 berupa abu sisa pembakaran,” bebernya.

Dikhawatirkan, jika tidak terkelola dengan baik akan memberikan dampak lingkungan yang berbahaya bagi masyarakat. Mulai dari pencemaran lingkungan hingga menyebabkan penyakit.

“Tapi kami sudah upayakan komunikasi dengan pihak RSUP NTB agar mereka mau menggunakan jasa transporter,” ungkapnya.

Selain limbah medis, limbah yang dari hari ke hari mulai mengkhawatirkan adalah limbah cair hotel. Mengingat keberadaan hotel di Kota Mataram kini semakin menjamur. Khususnya hotel-hotel yang berskala menengah ke bawah.

“Kalau hotel berbintang empat pengelolaan limbahnya sudah tertangani dengan baik. Yang mungkin masih perlu mendapat perhatian dan diberikan solusinya, hotel-hotel kecil ini. Karena limbah mereka yang kebanyakan seperti limbah rumah tangga masih dibuang sembarangan,” jelasnya.

Yang tak kalah penting, penanganan limbah industri rumah tangga. Ini menurut Darwis tak bisa disepelekan. Misalnya seperti limbah pembuatan tahu hingga limbah usaha laundri.

“Kalau untuk laundri, kami sudah siapkan Instalasi Penanganan Air Limbah (IPAL). Sedangkan untuk industri tahu, kita sedang berupaya menyiapkan lahan untuk pengelolaan limbahnya,” bebernya.

Sedangkan untuk limbah cair berupa oli bekas, saat ini Darwis mengaku sudah ada sejumlah perusahaan yang menanganinya. Bahkan beberapa perusahaan nasional yang bergerak di bidang usaha oli bekas ini dikatakan Darwis berlokasi di Kota Mataram.

Terkait masalah limbah medis, Lombok Post mencoba menelusuri keberadaan limbah yang ada di RSUP NTB. Hasilnya, sejumlah limbah medis terlihat berserakan di area Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Limbah-limbah ini masih belum dikelola atau dibakar menggunakan incinerator.

Pihak RSUP NTB yang coba dikonfirmasi melalui Humas memberikan penjelasan. Solikin, pihak Humas RSUP NTB mengakui kalau saat ini memang penaganan limbah medis di RSUP NTB masih menggunakan incenerator.

“Tapi kini sedang dalam upaya kami akan menggunakan jasa transporter. MoU sudah kami laksanakan. Tinggal menunggu APBD Perubahan saja,” kata dia.

Solikin menjelaskan kemungkinan besar Agustus mendatang, RSUP NTB sudah mulai menggunakan jasa transporter limbah. (ton/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka