Ketik disini

Metropolis

Butuh Tindakan, Bukan Sekadar Omongan

Bagikan

MATARAM – Konflik umat beragama perlu diredam. Bukan sekadar dengan omongan, tapi perlu tindakkan nyata. Salah satunya seperti pertemuan rutin dan kegiatan bersama yang melibatkan seluruh umat beragama.

Solusi itu ditawarkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, kemarin (8/8). Menurut dia, persaudaraan dan toleransi umat beragama bukan hanya omongan dimulut saja, tapi harus dibarengi dengan kegiatan yang melibatkan dari semua agama.

”Perlu ada kegiatan-kegiatan bersama,” katanya saat menghadiri acara penyerahan sumbangan mobil tangki air bersih di Mataram.

Penyerahan mobil tangki ini kerja sama PBNU, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan (NW), Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, dan Gereja Kristus Tuhan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Utama Lombok Post Alfian Yusni.

Said Aqil menegaskan, penyerahan bantuan mobil ini sebagai bentuk toleransi antar umat beragama. Kegiatan seperti ini untuk kali pertama di NTB. ”Kalau di Jakarta, Banser jaga gereja di malam natal dan buka bersama,” akunya.

Ia mengaku sengaja datang NTB. Karena, kegiatan yang melibatkan seluruh umat beragama baru kali ini diadakan. Kegiatan ini, sambung dia, bentuk tindakan nyata dari toleransi umat beragama. ”Kegiatan ini bisa dikembangkan jadi koperasi bersama. Buat klinik bersama. Ini bagus sekali,” terang dia.

Mengenai pembakaran vihara di Tanjung Balai, Sumatera Utara, menurut Aqil, kejadian itu akumulasi dari kekecewaan yang sudah sekian lama menumpuk. Jadi sebenarnya, pembakaran vihara tidak akan terjadi jika ada pertemuan rutin antar umat beragama. ”Ini bakar-bakar dulu, baru ada pertemuan,” jelasnya.

Untuk menghindari gejolak itu, lanjut dia, harus ada kerja sama. Seperti kegiatan di bidang sosial, kesehatan, bakti sosial, dan lainnya. Cara itu dianggap mampu mengurangi kecemburuan. ”Solusi untuk menghindari ketegangan, harus rutin ada pertemuan. Bikin juga usaha bersama. Misalkan, operasi katarak, operasi bibir sumbing, dan kegiatan lainnya,” pesannya.

Soal perda pengeras suara azan di masjid, menurut Aqil itu masalah kecil. Artinya, tergantung tempatnya. Kalau memang di tempat tersebut bisa menerima, ia tidak mempersoalkan. Aqil menyontohkan kejadian di Banyuwangi. Ada salah seorang warga Tionghoa tinggal berdekatan dengan mesjid. Ia hidup rukun dan tidak mempermasalahkan suara pengeras adzan. ”Tidak apa-apa dibuat perda. Tapi sesuaikan dengan tempatnya,” tegasnya.

Mengenai pluralisme di NTB, ia memujinya. Sejauh ini, kondisi di NTB cukup kondusif. Tidak ada ketegangan yang melibatkan umat beragama. Mereka hidup rukun. Buktinya, warga NTB bersatu memberikan bantuan mobil tangki untuk kepentingan umat. ”Pluralisme di NTB baik,” puji Aqil.

Sementara, Danrem 162/WB Kol Inf Farid Makruf mengatakan, kegiatan ini sebuah karya nyata, masjid, gereja, vihara, dalam mempersatukan umat. Meluncurkan mobil air minum kepentingan umat juga. ”Ini bukti nyata kesatuan dan persatuan umat,” katanya.

Ia juga mengomentari terkait pembakaran vihara beberapa hari. Menurut dia, aksi itu cukup disayangkan. Seolah-olah bangsa Indonesia tidak melambangkan bangsa yang beradab, saling menghargai, dan toleransi. ”Jadi menurut saya, persatuan tidak cukup diucapkan, tapi perbuatan seperti ini,” terangnya.

Mengenai sikap TNI dalam mencegah ketegangan antar umat beragama, Danrem menegaskan, pihaknya akan berusaha mencegahnya. Jangan sampai ada gejolak yang terjadi antar umat. ”Kalau di daerah lain bercerai berai, di NTB harus bersatu padu,” ajaknya. (jlo/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka