Ketik disini

Giri Menang

Menengok Rumah Adat Karang Bayan

Bagikan

Desa Karang Bayan memang tidak seterkenal desa wisata lainnya di Lombok Barat. Namun tempat ini menyimpan bangunan sejarah, yakni rumah adat Karang Bayan. Bagaimana perkembangannya sekarang?

***

Lombokpost.netRumah Adat Karang Bayan. Begitu tempat ini dinamakan. Terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk. Terdapat empat bangunan di dalam area peninggalan sejarah ini. Yakni bale adat, pawon, bangaran, dan masjid. Seluruhnya masih terjaga dengan baik.

Puluhan tahun silam, tepatnya di 1973, rumah adat karang bayan kali pertama dikunjungi wisatawan mancanegara. Kala itu, seorang ahli antropologi dari Jerman bernama Profesor John datang berkunjung.

Salah seorang penjaga rumah adat, H Helmi mengatakan, kedatangan Profesor John menjadi titik tolak dikenalnya rumah adat karang bayan. Hingga medio 1990, rumah adat mulai dibuka sebagai salah satu objek wisata sejarah. “Ramainya wisatawan datang itu di tahun 1992 sampai 1993,a�? ungkap Helmi.

Kondisi tersebut terus bertahan hingga peristiwa bom Bali, yang terkenal dengan istilah bom Bali 1 dan 2. Usai bom Bali, Helmi merasakan penurunan wisatawan yang datang.

a�?Setelah itu sepi. Tetap ada yang datang, tapi tidak seramai dulu lagi,a�? aku pria 59 tahun ini.

Kondisi rumah adat karang bayan saat ini, tidak ada yang berubah. Warga sekitar masih dengan telaten merawat peninggalan sejarah ini.

Setiap beberapa bulan sekali, atap jerami di atas tiga bangunan sejarah diganti dengan rutin.

Bangunan tradisional di tempat bersejarah ini, mempunyai fungsi masing-masing. Helmi menjelaskan, bale adat berfungsi untuk tempat berkumpul masyarakat. Di depan bale adet terdapat tumpukan batu yang dipagari tiang bambu.

Tumpukan batu tersebut merupakan monument, ketika pertama kali nenek moyang karang bayan datang ke tempat tersebut. a�?Dulu ini masih hutan, jadi batu itu menjadi petanda adanya bangunan pertama di Karang Bayan,a�? terang Helmi.

Untuk pawon sendiri, lanjut dia, digunakan ketika ada perayaan hari besar agama, misalnya Maulid. Di sanalah tempat berkumpul warga untuk memasak.

a�?Ketika penganut Wetu Telu, itu digunakan untuk memasak saat maulid,a�? ujarnya.

Berbicara mengenai daya tarik rumah adat Karang Bayan untuk pariwisata, Helmi mengaku prihatin. Dia sering mendengar keluhan wisatawan yang datang akibat minimnya papan informasi menuju lokasi rumah adat.

Bukan itu saja, sejumlah fasilitas umum, seperti kamar mandi, belum tersedia di sekitar lokasi bersejarah ini. a�?Memang banyak yang bingung kalau mau ke sini, seharusnya desa atau pemerintah bisa berinisiatif memperbanyak papan petunjuk,a�? keluhnya. (Wahidi Akbar S/bersambung/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka