Ketik disini

Sudut Pandang

Mewariskan Best Practices selama MTQ

Bagikan

MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) XXVI kini telah berlalu setelah ditutup oleh Menteri Agama Republik Indonesia H Lukman Hakim Saifudin pada 6 Agustus 2016. Satu persatu dan rombongan per-rombongan para peserta dan kafilah telah meninggalkan NTB menuju daerah masing-masing.

Tentu saja masing-masing tamu memiliki pegalaman dan cerita tersendiri selama lebih dari sepekan berada di NTB. Sebagai warga NTB, kita berharap semua tamu kita mendapatkan pengalaman memuaskan sehingga kesan NTB sebagai tuan rumah yang baik menjadi catatan penting di mata para kalfilah MTQ Nasional XXVI.

Sebagai tuan rumah, panitia khususnya dan masyarakat NTB pada umumnya telah mempersembahkan usaha maksimalnya dalam menyiapkan dan menyuguhkan pelaksanaan MTQ Nasional terbaik. Kekurangan pasti ada, karena panitia adalah manusia yang selalu dilekati unsur kekhilafan. Namun mengungkit apalagi menghujat kelemahan panitia secara terbuka di ruang publik seperti media massa dan media sosial bukan cara bijak.

Lebih tidak bijak lagi bila kritik dan hujatan tersebut dilakukan saat pelaksanaan MTQ dan kala para tamu sedang ada di rumah NTB. Bukan berarti kritik tidak penting, tetapi manajemen kritik perlu diperhatikan agar manfaat kritik lebih bisa dioptimalkan dan efektif.

Sangat layak diapresiasi kinerja pemerintah provinsi NTB dalam mempersiapkan dan menyelenggarakan MTQ Nasional XXVI, termasuk dukungan maksimal dari pemerintah kota Mataram, kabupaten Lombok Barat, dan kabupaten Lombok Tengah yang menjadi tempat penyelenggaraan (venue) beberapa cabang yang dilombakan dalam MTQ.

Kesuksesan penyelenggaraan MTQ merupakan kesuksesan bersama antara pemerintah provinsi dengan pemerintahan kabupaten dan kota, serta seluruh rakyat NTB. Kerja sama yang baik antara provinsi dengan kabupaten dan kota seperti ini menjadi best practice yang mesti diwariskan saat merencanakan dan mengimplementasikan program pembangunanA�A�A�A�A�A�A� di daerah.

Mewariskan kerja sama yang baik seperti saat MTQ Nasional merupakan praktik yang sangat penting mengingat sulitnya pemerintah daerah mensinkronkan program di era otonomi saat ini.

Tidak sedikit ego daerah muncul kala otoritas kebijakan ada di wilayah masing-masing. Perasaan memiliki bersama (sense of belonging) seperti saat menjadi panitia MTQ harus ditransfer dalam perasaan tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan persoalan di daerah.

Sebagai contoh, dalam mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat diperlukan adanya perasaan senasib dan sepenaggungan antara pemerintah provinsi dan kabupaten-kota.

Ada kesan yang tertangkap bahwa dengan dirilisnya peringkat IPM di tingkat provinsi yang begitu dominan dari rilis (bila dibandingkan dengan rilis di tingkat kabupaten dan kota yang minim), membuat semangat pemerintah daerah kabupaten dan kota relatif rendah dibandingkan dengan kesungguhan pemerintah provinsi memperbaiki peringkat IPM.

Sebagai Aparat yang lebih dekat dengan rakyat, sudah saatnya pemerintah kabupaten dan kota mengambil bagian yang lebih, dalam bekerja sama dengan pemerintah provinsi untuk menaikkan peringkan IPM NTB.

Dalam konteks partisipasi publik selama MTQ Nasional XXVI tidak diragukan lagi. Banyak fakta yang menceritakan betapa partisipasi tersebut begitu massif terlihat. Keterlibatan pelajar, pegawai pemerintah, masyarakat, dan komunitas nonmuslim selama MTQ berlangsung merupakan energi positif dalam menyukseskan event nasional dua tahunan tersebut.

Panitia di level SKPD telah mempersembahkan pelayanan yang baik pada setiap kontingen (kafilah) yang telah menjadi tanggungjawabnya. Semua kesan yang terdengar dari para kafilah begitu menyenangkan hati kita sebagai warga NTB. Para tamu merasa senang dan nyaman karena setiap kebutuhannya selama MTQ terlayani dengan baik. Bahkan agenda-agenda di luar MTQ seperti rekreasi dan shopping terlayani dengan penuh kesabaran oleh panitia.

Partisipasi publik dalam memeriahkan pelaksanaan MTQ menjadi penilaian plus terhadap penyelenggaraan. Jumlah penonton dan penyimak yang sangat banyak dengan tingkat ketertibannya yang tergolong bagus membuat suasana kompetisi dalam MTQ menjadi eksplisit terlihat.

Arena utama yang ada dalam Islamic Center bahkan tidak mampu menampung animo masyarakat yang tinggi dalam menyaksikan dan menyimak lantunan ayat Alquran dari para qori dan qoriah terbaik republik ini. Jalan raya pun disesaki para penyimak yang tidak ingin melewatkan event yang mungkin puluhan tahun lagi akan kembali terulang di NTB.

Animo masyarakat yang tinggi dalam menyaksikan dan menyimak MTQ —mengutip pernyataan Gubernur NTB merupakan indikator bahwa masyarakat NTB sangat mencintai kebajikan. Pilihan mencintai aktivitas kebajikan seperti saat menyimak MTQ selayaknya diteruskan dengan kecintaan pada aktivitas-aktivitas baik lainnya setelah MTQ. Kecintaan dan dukungan pada hal yang baik oleh warga masyarakat menjadi modal sosial penting bagi pemerintah dalam menyukseskan pembangunan di daerah.

Banyak aktivitas baik yang selalu tersedia untuk diikuti masyarakat NTB di Bumi Gora. Pengajian misalnya, telah menjadi agenda rutin dalam setiap wilayah atau kelompok masyarakat. Tetapi fakta menunjukkan bahwa menghadiri pengajian tidak seramai menghadiri MTQ.

Diperlukan manajemen pengajian yang lebih baik dengan mengkolaborasikan antara unsur dakwah dan hiburan religius sehingga daya tarik warga untuk mengikutinya lebih terdongkrak. Masih banyak lagi aktivitas baik yang pelaksanaannya bisa dimenej sebagus mungkin untuk meningkatkan partisipasi warga di dalamnya.

Sebaliknya, kita tidak ingin masyarakat kita terbiasa dengan hal-hal yang negatif. Kriminalitas yang terjadi di setiap wilayah antara lain banyak disebabkan praktik-praktik jahat sekelompok oknum yang terbiasa mendatangi (mencintai) aktivitas tidak baik, seperti hiburan malam, pesta-pesta yang menyuguhkan minuman beralkohor, dan berbagai aktivitas hura-hura lainnya.

Hasil penelitian saya dengan teman-teman tentang penyebab konflik di salah satu daerah di NTB menunjukkan bahwa anak-anak yang mabuk setelah meminum alkohor menjadi salah satu pemicu konflik horizontal di daerah tersebut. Inilah salah satu contoh kebiasaan buruk menghasilkan praktik jahat yang merugikan masyarakat dan daerah. Naudzubillahimindzalika�� (r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys