Ketik disini

Metropolis

MTQ Hanya Seminggu, Pedagang Bingung Ongkos Pulang

Bagikan

Pelaksanaan MTQ Nasional menyisakan cerita berbeda bagi sejumlah orang. Tak semua pedagang merasakan berkah MTQ Nasional. Misalnya saja pedagang kaos anak-anak yang bergambar logo MTQ Nasional 2016.

***

HINGGAR bingar di jalan Udayana sudah mulai normal kembali. Tidak seperti ketika pelaksanaan MTQ Nasional minggu lalu. Sudah tidak ada kemacetan atau keramaian di jalan ini. Meskipun lampion masih nampak menggantung di atas jalan raya.

Arus lalu lintas juga sudah mulai lancar. Beberapa orang dari kejauhan terlihat sibuk membongkar tribun yang ada di area Islamic Center.

Di sebelah utara nampak juga beberapa orang berkerja di tengah kegelapan. Mereka membongkar tenda di lokasi pameran peradaban islam beberapa waktu lalu. Yang menarik perhatian, masih ada sejumlah pedagang yang berjualan meskipun pelaksanaan MTQ telah usai. Mereka adalah pedagang baju kaos MTQ Nasional.

Nampak beberapa pedagang sedang menunggu deretan baju tergantung rapi berwarna warni. Dilihat dari ukurannya, baju ini jelas untuk anak-anak.

Ada logo MTQ yang tepampang jelas di bagian dada baju tersebut. Wartawan Lombok Post mencoba menghampiri para pedagang ini. Jumlah mereka sekitar empat orang. Mereka terlihat sedang asik menikmati nasi bungkus.

“Mari makan mas,” kata salah seorang. “Ayo dipilih, harganya Rp 20 ribu. Dibanting dari harga aslinya yang Rp 50 ribu. Nanti itu dapat gratis sablon nama,” sambungnya sembari melepas nasi bungkus yang nampaknya sudah habis.

Namanya, Chandra, pria paruh baya ini mengaku berasal dari Padang, Sumatera Barat. Setelah mengetahui yang datang adalah wartawan, ia pun langsung tau kalau ia bakal diwawancara.

“Boleh saya lihat id card-nya,” pintanya sopan.

Setelah diperlihatkan id card yang bertuliskan pers, ia langsung percaya dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan pekerja kuli tinta.

Tanpa basa-basi, Chandra tak kuasa menahan keluh kesah yang ada di dalam hatinya. Ia mengungkapkan, untung yang diharapkan dari pelaksaan MTQ Nasional 2016 di Mataram tak didapatkannya.

“Perkiraan kami meleset mas. Banyak barang yang tidak laku. Acara yang kami perhitungkan berlangsung sampai tanggal 7 Agustus, malah selesai lebih awal,” keluhnya.

Inilah yang akhirnya membuat banyak barang tersisa. Sehingga, mau tidak mau, meskipun MTQ Nasional sudah usai, mereka masih tetap berjualan. Demi mencari ongkos untuk pulang.

“Soalnya kalau barangnya dibawa pulang, lebih mahal ongkos pesawat bawa barangya. Makanya lebih baik kami lelang saja. Kalau untung kami sudah tidak harapkan lagi. Yang penting  ada tambahan ongkos pulang,” cetusnya.

Chandra menjelaskan, di tempat ia menyewa, masih banyak baju kaos yang belum terjual. Ini dikarenakan salah perhitungan waktu dan teknis pelaksanaan MTQ tidak sesuai harapan.

Ia mengaku mendapat informasi di Internet bahwa pelaksanaan MTQ Nasional akan berlangsung sampai tanggal 7 Agustus. Itu semakin membuatnya yakin ketika melihat banyak baliho yang menuliskan waktu pelaksanaan tersebut. Faktanya, tanggal 6 Agustus acara sudah usai.

“Satu hari itu, besar dampaknya. Karena satu hari itu bisa laku 80-85 lusin. Kami bawa ke sini sekitar 4.000 lusin. Masih banyak yang tersisa,” kata dia.

Sehingga, modal sekitar Rp 100 juta lebih diungkapkan Chandra masih belum kembali. Hingga pelaksanaan MTQ usai, hasil penjualanya jauh dari modal.

Menurutnya ini disebabkan banyak faktor. Selain daya beli masyarakat yang kurang, arena MTQ dinilai juga terlalu sempit.

“Kalau di pengalaman kami, untuk acara berskala nasional ini masih sempit mas. Sehingga pengunjung tidak leluasa beraktivitas. Khususnya berbelanja,” bebernya.

Penataan lokasi para pedagang oleh panitia juga dinilainya tidak teratur. Sehingga, pengunjung terlihat terlalu berdesakan.

“Belum lagi penentuan lokasi parkirnya. Seperti tidak direncanakan dan diperhitungkan dengan matang. Mungkin ini bisa jadi masukan untuk kegiatan kedepannya,” cetus Chandra.

Meski nampak kecewa dengan pelaksanaan MTQ Nasional 2016, bagi Chandra ini adalah sebuah risiko. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus siap menerimanya.

Ia sadar, menjadi pedagang tidak selamanya bisa meraih keuntungan. Ia paham betul dengan pekerjaan yang digelutinya ini. Karena, ia mengaku sudah menekuni usaha ini sejak 2005 silam.

“Bukan hanya pada acara MTQ Nasional. Tapi acara PON atau acara lainnya juga kami selalu berjualan. Ya mau gimana lagi,” katanya pasrah.

Chandra datang ke Mataram bersama tiga orang keluarganya. Kini mereka terpaksa tetap berjualan menunggu tambahan ongkos pulang terlebih dahulu.

“Kami akan berjualan sampai hari Kamis. Cukup nggak cukup kami ingin tetap pulang, karena sudah ditunggu sama keluarga di rumah,” pungkasnya. (Hamdani Wathoni/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka