Ketik disini

Feature

Kursi Sekolah Seharga Rp 1,5 Juta, Punya Santri dari Kamboja

Bagikan

Cita-cita lama Prof Dr Din Syamsuddin untuk mendirikan pondok pesantren modern di kampung halaman akhirnya terwujud. Sebuah kompleks lembaga pendidikan agama setingkat SMP itu kini mewarnai suasana desa di pelosok Sumbawa, NTB. Orang-orang hebat ikut membidani pesantren di atas bukit tersebut.

***

SETELAH sekitar 1,5 jam melintasi perbukitan dan hutan lebat Sumbawa, rombongan Din Syamsuddin yang mengendarai dua minibus akhirnya tiba di kompleks Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela, Dusun Pamangong, Desa Lenangguar, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat lalu (29/7).

Dalam rombongan itu terdapat dua rekan Din. Yaitu, pengusaha tambang Amin Anwar dan Imam Budiono Sahal, putra salah seorang pendiri Pondok Pesantren Gontor KH Ahmad Sahal. Imam merupakan teman satu angkatan Din saat mondok di pesantren yang berada di Kabupaten Ponorogo itu. Jawa Pos juga ikut dalam rombongan tersebut.

Begitu turun dari mobil, mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu langsung mengajak tamunya untuk melihat-lihat kompleks pesantren. a�?Kita ke lokasi yang akan dibangun masjid. Lokasinya di atas,a�? ucap Din sembari menunjukkan lahan di atas bukit yang sudah diratakan. Mereka lantas menaiki bukit lewat tangga yang dibuat dari tatanan paving. Undakan tersebut dibuat menjelang kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ke pesantren tersebut pada 20 Juli lalu.

Sesampai di atas bukit, Din menunjukkan lahan berlubang yang dikelilingi papan kayu. a�?Di sini akan kami dirikan masjid yang cukup besar,a�? terangnya. Lalu, di samping gedung masjid akan dibangun wisma Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela (YPKDM).

Sementara itu, di sisi selatan lokasi masjid akan dibangun Bait Kalla yang digunakan untuk asrama para ustad. a�?Gedung itu bantuan dari Pak Wapres Jusuf Kalla,a�? terang guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Din juga menunjukkan gedung yang sedang dibangun di bawah bukit. Rencananya, bangunan tersebut berlantai tiga. Para pekerja tampak mengebut pembangunannya. Menurut Din, dalam dua bulan ke depan gedung bantuan pemerintah pusat itu rampung dan siap dipakai untuk tambahan ruang kelas.

Pesantren seluas 20 hektare tersebut dikelilingi bukit dan gunung yang hijau. Yang paling dikenal adalah Gunung Utuk atau Olat Utuk. Karena itu, kompleks pesantren tersebut dinamai Kampus Olat Utuk. Lokasi di daerah pegunungan membuat udara di pesantren itu sangat sejuk.

Setelah mengelilingi lokasi proyek, ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu membawa tamunya untuk melihat gedung tiga lantai yang sudah beroperasi tahun lalu. Gedung baru tersebut digunakan untuk proses belajar-mengajar. Begitu pula asramanya, sudah ditempati para santri dan ustad.

a�?Kursi dan meja ini harganya lebih mahal dibanding milik sekolah favorit di Jakarta. Saya sudah survei,a�? tutur Din di ruang kelas yang tertata rapi. a�?Satu unit harganya Rp 1,5 juta. Kami siapkan seratus unit meja dan kursi,a�? tambahnya.

Pembelajaran juga memakai peranti modern. Di antaranya, LCD projector. a�?Pokoknya, pendidikan di sini kami buat semodern mungkin,a�? jelas dia.

Ketika menyidak asrama santri, para tamu Din dibuat kagum. Selain asrama masih bersih dan rapi, setiap santri mendapatkan satu lemari baru untuk menyimpan buku-buku dan perlengkapan sehari-hari. a�?Lemarinya lebih bagus dari (yang ada, Red) di Gontor. Ini bagus sekali,a�? ucap Imam Budiono.

Suasana meriah ketika Din bertemu para santri di halaman depan asrama. Para santri yang seluruhnya laki-laki langsung menghampiri Din dan berebut untuk bersalaman. a�?Ayahanda senang sekali bisa bertemu lagi dengan ananda semua,a�? tuturnya, menyapa para santri lembaga pendidikan setingkat SMP itu.

Dia lalu meminta para santri untuk menunjukkan kebolehan dalam meneriakkan yel-yel PMI Dea Malela. Mereka juga diajak berhitung dengan bahasa Arab dan Inggris. Din terlihat sangat akrab dengan para santri yang datang dari berbagai daerah tersebut.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Santri juga diminta untuk menyanyikan himne PMI Dea Malela. Namun, sebelum bernyanyi, mereka harus berbaris rapi. a�?Satu santri maju untuk memimpin baris-berbaris,a�? perintah Din. Seorang santri bertubuh kurus maju. Dia adalah Muhammad Ihsan, santri dari Moyo Hulu, Sumbawa. Dengan tegas dia memimpin barisan.

Mereka lantas menyanyikan himne PMI Dea Malela. Nun jauh di sana kami berada, sambut cahaya sang surya, diiringi doa ayah dan ibu, kami rela mencari ilmu.

Din meminta para santri bernyanyi dengan suara keras. a�?Tidak boleh lembek, harus keras,a�? ucap dia.

Para santri pun semakin bersemangat mengeraskan suara. Syair himne itu adalah karangan Din yang diaransemen oleh musisi kondang Dwiki Dharmawan.

Selesai bernyanyi, Din meminta para santri untuk mengenalkan diri satu per satu. Santri asli Sumbawa diminta angkat tangan, begitu juga santri dari Lombok, Mataram, dan daerah lain seperti Jakarta. Ada juga santri dari Timor Leste dan Kamboja. Total, saat ini ada 46 anak yang menjadi santri di PMI Dea Malela.

Tiga santri dari Kamboja diminta maju dan mengenalkan diri. Mereka adalah Saburin bin Maa��ad, Mustofa Zali, dan Asyari San. Ketiganya belum bisa berbahasa Indonesia. Mereka datang ke Sumbawa bersama Ustad Abdullah Mahmud yang juga presiden Muhammadiyah Kamboja.

Mustofa Zali mengaku langsung betah menuntut ilmu di pesantren itu. Menurut dia, suasana dan fasilitas di pesantren tersebut menyenangkan. a�?Saya ingin belajar agama di sini,a�? terangnya.

Ustad Abdullah menyatakan percaya kepada Pesantren Dea Malela dan Din Syamsuddin dalam mengembangkan pendidikan Islam yang modern. Menurut dia, Din mempunyai pengalaman yang banyak di bidang itu. Selain pakar di bidang agama, cendekiawan Islam kelahiran Sumbawa itu mempunyai jaringan yang sangat luas. Jaringan tersebut dibutuhkan dalam mengembangkan lembaga pendidikan.

a�?Ke depan, saya yakin pesantren ini akan berkembang pesat dan menjadi pusat pendidikan Islam,a�? terang pria yang lancar berbahasa Arab tersebut.

Sementara itu, Sabtu siang (30/7) datang lagi tamu dari Jakarta. Mereka adalah musisi Dwiki Dharmawan bersama rekannya, Tony Muharam. Keduanya datang ke Pesantren Dea Malela untuk melatih santri menyanyikan himne pesantren.

Setelah beberapa saat berbincang dengan pengurus yayasan, Dwiki dan Tony memperkenalkan diri kepada para santri. Latihan nyanyi itu dilakukan untuk persiapan tampil pada acara pelantikan siswa baru PMI Dea Malela esok harinya. Sebelum itu, para santri juga sudah dilatih bermain drama yang berkisah tentang ulama besar Sumbawa Dea Malela. Mereka diarahkan oleh sutradara teater dari Jakarta Adi Pranajaya.

Lalu, waktu yang ditunggu pun tiba. Minggu (31/7) acara peresmian pendidikan dan pelantikan santri baru pun digelar. Hadir dalam acara itu Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad serta para pejabat Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Puluhan wali siswa juga hadir. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 itu berlangsung meriah. Santri dengan lancar menyanyikan himne. Mereka juga menunjukkan kebolehan bermain drama.

Din mengatakan, anak-anak yang tampil itu merupakan santri baru yang belum mendapatkan pelajaran sekolah ala Pesantren Dea Malela. Mereka baru mengikuti masa orientasi siswa. a�?Belum sekolah saja sudah hebat, apalagi kalau sudah mendapatkan pendidikan dari para ustad,a�? ucap dia dengan bangga.

Din berkomitmen menjadikan Pesantren Dea Malela sebagai pusat pendidikan Islam dunia. Karena itu, yayasan telah menyiapkan tambahan lahan 12 hektare untuk pemeliharaan ternak dan kebun hortikultura. Nanti kebutuhan pangan siswa disuplai dari kebun dan ternak yang dikembangkan di pesantren. Daging dari ternak juga akan dijual ke pasar.

Saat ini pendidikan para santri di Pesantren Dea Malela tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, tahun depan, untuk masuk pesantren di tengah dusun itu, calon santri harus melalui seleksi ketat. a�?Saya yakin, dengan berbagai fasilitas yang ada di pesantren ini, makin banyak anak yang tertarik mondok,a�? tutur Din. (Khafidlul Ulum/Sumbawa/c11/ari/JPG/r10)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys