Ketik disini

Metropolis

Semua untuk Ortu di Alam Sana

Bagikan

Meskipun kedua orang tuanya sudah tiada, Ummu Hanifah tak merasa kesepian. Baginya, Alquran adalah pendamping hidup yang selalu membuatnya bahagia.

*** 

PENGUMUMAN juara pada malam penutupan MTQ Nasional Sabtu (6/8) lalu, tak terlupakan. Para juara langsung dihampiri keluarganya. Mereka mendapat ucapan selamat.

Mereka berpelukan. Tertawa bersama. Larut dalam kebahagiaan.

Namun, Ummu Hanifah tidak demikian. Ia terlihat merayakan kebahagiaannya sendirian setelah dinobatkan menjadi juara.

Ia hanya dihampiri oleh rekan-rekannya sesama juara dari kontingen NTB. Dengan malu-malu, remaja yang baru masuk Madrasah Aliyah ini pun akhirnya terbawa suasana.

Senyum di garis bibirnya mulai terlihat. Untuk sesaat ia terlihat bahagia meski hanya menjadi juara terbaik ketiga hafizah hafalan 10 Juz.

Suaranya nyaring. Itu sudah pasti karena ia nampaknya terbiasa melatih vokalnya saat membaca Alquran.

Tubunya tidak terlalu tinggi. Ia juga terlihat agak pemalu. Namun, ia ramah. Baik dan Sopan.

Kepada Lombok Post, ia mengungkapkan sebenarnya sangat berharap bisa mendapatkan juara I di ajang MTQ tahun ini. Sayangnya, ia pun harus puas dan tetap bersyukur dengan apa yang dicapainya.

“Jujur tagetnya sih juara I. Tapi Alhamdulillah juara III juga cukup membuat saya senang,” akunya.

Saat ini, Hanifah, sapaan akrabnya duduk di bangku Ponpes Aziziyah Gunung Sari.  Dara kelahiran Medan, 12 Desember tahun 2000 ini mengaku sudah mulai belajar menghafal Alquran sejak duduk di bangku sekolah dasar di Medan.

Ia termotivasi oleh kakaknya yang juga seorang penghafal Alquran. “Seneng lihat kakak bisa menghafal Alquran. Dia juga bilang ke saya, kalau orang yang menghafal Alquran ini dijanjikan Allah hidupnya bakal dipermudah di dunia dan akan mendapatkan kebahagiaan akhirat,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Dari sanalah ia terus termotivasi untuk bisa menghafal Alquran. Sehingga, tamat SD ia diarahkan oleh orang tuanya untuk belajar menghafal Alquran di Pulau Lombok.

“Ayah yang nyaranin saya masuk ke sini,” katanya.

Namun, Hanifah tak pernah menyangka bakal kehilangan kedua orang tuanya saat ia mulai masuk Pondok Pesantren. Ketika baru mulai belajar menghafal Alquran di Aziziyah, Hanifah kehilangan ibunya. Sebelum meninggal, kondisi ibunya memang sering sakit.

Tak lama berselang, setelah ia berhasil menghafal 30 juz Alquran, giliran ayahnya yang meninggalkannya.

Meski sangat sedih, namun Hanifah tetap tegar dan tabah menghadapi kenyataan. Dasar pembelajaran agama yang kuat membuatnya percaya bahwa apa yang terjadi, semua rencana Allah SWT.

“Aku ingat pesan mereka. Mereka memintaku untuk menghafal Alquran dengan niat dan keinginan diri sendiri. Itu akan bisa terus membuatku bahagia,” kenangnya.

Dari sana, ia pun mengikhlaskan kepergian kedua orangtuanya yang dirasakannya terlalu cepat. Baginya, Alquran adalah pendamping sekaligus pengganti kehadiran orang tuanya yang telah tiada.

“Makanya kalau menghafal Alquran itu senang sekali rasanya. Kayak orang yang hobi nyanyi gitu. Kalau orang yang namanya hobi pasti senang kan,” ucapnya.

Namun bagi Hanifah, Alquran bukan hanya dihafalkan saja. Melainkan juga diamalkan. Karena, bagaiamanapun Alquran menurutnya pedoman hidup bagi manusia yang ingin bahagia.  Inilah yang mebuatnya terus semangat menghafal Alquran.

“Ini salah satu cara saya berbakti kepada kedua orang tua saya. Meskipun di dunia saya tidak dapat membuat mereka bahagia. Saya yakin dengan saya menghafal Alquran saya akan membuat mereka bahagia di alam sana,” ungkapnya.

Banyak orang yang merasa kalau menghafal Alquran itu sulit dan butuh kecerdasan lebih. Namun, Hanifah menjelaskan pada dasarnya ia bisa menghafal Alquran hanya karena terbiasa.

“Nggak perlu ada makanan atau trik khusus. Kalau kita terbiasa pasti bisa,” paparnya.

Yang penting, ia menjelaskan kalau ingin menghafal Alquran tidak boleh punya pikiran kotor. “Kalau ada pikiran lain atau negatif, itu yang bikin susah menghafal,” cetusnya tertawa.

Di usia yang masih sangat belia, Hanifah mengaku ingin terus terlibat di ajang MTQ Nasional. Ia ke depannya ingin terlibat di kategori hafalan 30 juz. Karena, meski saat ini sudah hafal 30 juz, ia memilih mengikuti kategori 10 juz untuk proses bertahap.

Saat dewasa nanti, hanifah memiliki cita-cita ingin mendirikan sekolah gratis penghafal Alquran. Ia juga punya impian untuk menjadi seorang penulis buku. (Hamdani Wathoni/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka