Ketik disini

Politika

PAN Bakal Usung Kadernya

Bagikan

MATARAM – Partai Amanat Nasional (PANY di NTB akan mengusung kadernya pada pilkada serentak 2018.

Ketua DPW PAN NTB HM Muazim Akbar mengatakan, PAN punya banyak stok kader berkualitas yang dapat ditawarkan kepada masyarakat.

“Tapi semua masih dalam proses penjajakan karena kita menginginkan yang terbaik untuk rakyat,” kata Muazim kepada Lombok Post, kemarin (9/8).

PAN merupakan partai politik yang meraih banyak kursi pada pemilu legislatif 2014, terutama di Kabupaten Sumbawa. PAN juga menguasai lima kursi di DPRD NTB dan satu kursi di DPR RI.

Selain itu, PAN juga memiliki basis massa yang jelas di sejumlah kabupaten/kota di NTB.

Terkait dengan itu, Muazim menegaskan, akan membicarakannya pada saat yang tepat. Saat ini, DPW PAN NTB sedang menyiapkan pelantikan pengurus DPW dan DPD PAN se-NTB.

Selanjutnya akan melakukan rapat kerja daerah sekaligus membahas tentang pilkada serentak 2018.

Terdapat empat pilkada pada 2018 yakni pilkada gubernur dan wakil gubernur, pilkada bupati dan wakil bupati Lombok Barat, pilkada bupati dan wakil bupati Lombok Timur, dan pilkada wali kota dan wakil wali kota Bima.

“Kami masih fokus untuk konsolidasi internal yakni pelantikan pengurus DPW PAN NTB serta pengurus DPD PAN se-NTB,” ungkapnya.

Disinggung mengenai siapa saja bakal calon kepala daerah yang akan diusung PAN, politisi yang dikenal sebagai pengusaha ini menegaskan jika ada tim yang akan bekerja untuk menjaringnya.

Dia mengatakan, terlalu dini untuk memunculkan nama-nama figur bakal calon kepala daerah.

Pilkada serentak yang masih dua tahun lagi menjadi salah satu alasan. Lagipula, peta politik terkait pilkada cenderung akan berubah-ubah bahkan memungkinkan terdapat koalisi besar.

Sebab, untuk dapat mengusung pasangan calon di Pilgub NTB 2018, tentunya PAN harus berkoalisi dengan partai lainnya.

Terpisah pengamat politik IAIN Mataram Agus menilai, partai yang mengusung kader sendiri merupakan hal yang positif dalam sistem perkaderan partai.

Hal itu dinilai mengikis anggapan politik transaksional, di mana partai politik hanya sebatas menyewakan partainya pada perhelatan politik.

Jika itu terjadi, mantan komisioner KPU NTB itu tidak menyalahkan jika masyarakat menilai partai politik gagal melakukan kaderisasi.

Terlebih pada hakikatnya partai politik didirikan untuk memperoleh kekuasaan politik baik di eksekutif maupun legislatif.

“Maka idealnya seluruh kader partai berlomba-lomba memunculkan kadernya dalam pilkada,” paparnya,

Menurut dia, setidaknya ada dua keuntungan jika kader partai maju dalam pertarungan politik di pilkada.

Pertama, setiap orang yang aktif membesarkan partai mendapat kepastian akan karir politik sehingga tumbuh motivasi orang untuk bekerja pada partai.

Kedua, partai akan semakin mendapatkan kepercayaan publik. Ini merupakan modal utama bagi parpol.

Jika kepercayaan publik terhadap parpol sudah baik tentu perolehan suara parpol pada pemilu juga baik.

Dia membenarkan salah satu persoalan yang dihadapi parpol untuk mengusung calon sendiri memang pemenuhan syarat jumlah kursi, karena undang-undang mensyaratkan jumlah kursi minimal 20 persen dari kursi di DPRD atau

25 persen dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilu legislatif lalu.

Akibatnya, kata Agus, tidak ada partai politik di NTB yang bisa mengajukan calon secara mandiri. Untuk itu parpol harus berkoalisi dengan parpol lain.

“Nah tentu ini tantangan parpol, mereka dituntut kemampuan komunikasi politik dan lobi dengan parpol lain,” ujar Agus. (tan/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka