Ketik disini

Headline Opini

MEMBISIKI BIROKRASI

Bagikan

APA bayangan kita terhadap birokrasi negara? Idealnya sebagai pelayan masyarakat, melayani kebutuhan masyarakat.

Bila masyarakat membutuhkan sesuatu maka dengan bersegera mereka melayani dengan baik. Dengan kesadaran sebagai pelayan, mereka menghadapi masyarakat dengan senyuman.

Bahkan bila dalam masyarakat demokrasi, dimana pemilik kekuasaan tertinggi sungguhnya bukan pejabat eksekutif maupun politis, tetapi rakyat.

Meskipun dalam kenyataan harapan itu masih jauh dengan kenyataan. Birokrasi masih saja dipandang bagai pria tambun yang bergerak enggan dan lamban.

Masih sering ditemukan senyum pahit ketika melayani masyarakat. Entah karena ada masalah pribadi atau memang pekerjaannya sudah sangat menumpuk sehingga menimbulkan kelelahan.

Dalam studi politik, salah satu pandangan birokrasi dipandang sebagai sebuah organ negara yang profesional dan netral dari kekuatan politis.

Wujudnya birokrasi tidak memihak salah satu peserta pemilihan, baik dalam legislatif maupun eksekutif (kepala daerah dan kepala negara).

Semua kekuatan politis dianggap sama dan dilayani sesuai dengan kebutuhan yang mereka perlukan.

Ketika berhadapan dengan masyarakat mereka melayani semua orang dari berbagai kekuatan politik dengan perlakuan yang sama. Entah mereka yang memilih partai banteng, partai bintang, atau partai pohon.

Semua diperlakukan sama sebagai warganegara yang sedang membutuhkan pelayanan dari negara. Pun bila aparat birokrasi tersebut yang memiliki hak politik juga memiliki perbedaan pilihan dengan masyarakat yang dilayaninya.

Itu tataran ideal, dalam kenyataan bisa berbeda. Pelaksanaan berbagai pemilihan di berbagai intansi negara kemudian menyebabkan ideal itu sukar dicapai.

Pemilihan Kepala Dusun atau Kepala Lingkungan kemudian berpengaruh pada masyarakat yang mendapatkan beras miskin.

Tidak jarang kita dengar dan baca penentuan anggota masyarakat yang mendapat beras miskin sebagai balas jasa dan balas dendam sisa pemilihan yang lalu.

Fenomena balas jasa dan balas dendam ini kemudian lebih terlihat pada Pemilihan Kepala Daerah.

Mereka yang berjasa pada kepala daerah terpilih akan mendapatkan jabatan yang dijuluki a�?mata aira�� dan sebaliknya bagi mereka yang mendukung calon lain akan menduduki jabatan a�?air mataa��.

Pada lingkup nasional pun demikian, menteri yang dipilih adalah mereka yang memiliki jasa pada calon pemenang. Meskipun yang terakhir dapat dimaklumi karena menteri adalah jabatan politis, berbeda dengan birokrasi di daerah.

Banyak orang menganggap bahwa korban utama dari pemilihan kepala daerah adalah rakyat. Apa pasal? Pemilihan Kepala Daerah yang berbiaya tinggi kemudian menimbulkan makin sedikitnya anggaran yang dikucurkan pada masyarakat.

Dalam anggaran memang terlihat besar tetapi kenyataan yang langsung dirasakan masyarakat sangat kecil. Anggaran yang besar itu kemudian disinyalir telah memuai di tengah jalan tersebab kewajiban kepala daerah terpilih untuk segera mengembalikan modal yang telah dikeluarkan pada pemilihan yang lalu.

Maka cara yang digunakan dengan melakukan manipulasi terhadap anggaran untuk rakyat dan atau mengurangi kualitas proyek pembangunan yang diberikan pada pengusaha yang telah membantunya pada pemilihan lalu.

Tulisan ini mencoba menawarkan persangkaan lain, korban pertama dari pemilihan kepala daerah sesungguhnya adalah aparat birokrasi. Sejak awal pemilihan atau kampanye mereka memiliki dilema.

Tidak sedikit yang sesungguhnya ingin tetap netral dan tidak memihak salah satu peserta tetapi kondisi tidak mengizinkan. Banyak yang terjebak untuk memihak salah satu peserta berkaitan dengan kelanjutan karier mereka di masa depan.

Harus dimaklumi bila aparat birokrasi menginkan kariernya menanjak terus, ini manusiawi. Idealnya untuk mendapatkan promosi mereka harus bekerja sebaik mungkin.

Tetapi dalam kenyataannya promosi jabatan setelah pemilihan kepala daerah secara langsung menjadikan kedekatan dengan kepala daerah menjadi salah satu faktor penting dalam promosi ini.

Pertanyaannya kemudian, apakah ada yang salah ketika faktor kedekatan menjadi salah satu faktor dalam penentuan promosi aparat birokrasi? Sebuah kewajaran bila kemudian seorang pemimpin mengangkat sosok yang dipercaya mampu membantunya.

Tentu sukar membayangkan pemimpin mengangkat mereka yang tidak mendapat kepercayaannya, atau di kemudian hari menjerumuskannya pada kegagalan pemerintah untuk menangani sebuah pekerjaan.

Kriteria paling penting dari pengangkatan seseorang tentu lah rasa saling percaya satu dengan lain. Itulah modal dasar dalam bekerjanya sebuah organisasi.

Kritikan lain berkaitan dengan kompetensi dari pejabat yang diangkat. Ada pandangan ketidaksesuaian antara kompetensi dan tempat menjabatnya.

Kadang kala ada dilema yang dihadapi seorang kepala daerah, mengangkat pejabat yang dipercaya ataukah yang memiliki kompetensi? Dugaan terbesar kepala daerah akan mempertimbangkan hal yang pertama.

Kepercayaan dulu kompetensi belakangan. Kepercayaan dibangun bertahun-tahun dan butuh waktu yang demikian lama. Sementara kompetensi kemudian dapat dikembangkan dalam waktu yang tidak demikian lama.

Apalagi bila dikaitkan sebuah lembaga birokrasi kemudian dihuni oleh para ahli yang saling membantu satu dengan lain. Kepercayaan dan kompetensi merupakan sebuah status yang diperjuangkan bukan didapatkan secara percuma.

Bedanya kepercayaan membutuhkan waktu yang lebih lama mendapatkannya daripada kompetensi.

Jadi tidak perlu khawatir bila seseorang diangkat berdasarkan kedekatan. Satu yang terpenting di negara ini tentu itu harus sesuai dengan peraturan perundangan.

Negara kita diatur menurut pasal bukan menurut pasar. Selalu akan ada saja yang berteriak menyebabkan kebisingan. Tidak ada kebijakan yang memuaskan semua pihak, selalu akan muncul mereka yang tidak setuju. Selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan dan akal sehat maka silakan jalan terus.

Cukup menengok saja pada seliweran informasi di media sosial yang lebih banyak sampah menyebabkan kita menjadi tuna-trust satu dengan yang lain. Lebih-lebih kepada politisi dan pemerintah yang berkuasa. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka