Ketik disini

Headline Opini

Full Day School : Tantangan Baru Bagi Guru ?

Bagikan

Yth. Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan :

a�?Belajar itu sepanjang hayat, bukan belajar sepanjang haria�?

a�?Belajar bukan semata di sekolah, di tengah masyarakat adalah sekolah.a�?

a�?Alamat anak akan jauh dari orangtuanya.a�?

a�? Kan, sebagaian guru telah bersertifikat, apanya yang kurang?a�?

a�?Guru bukanlah pembantu apalagi penjaga anak-anak.a�?

a�?Anak-anak belajar di dunianya, bukan dipasung atas nama masa depan.a�?

a�?Guru sibuk urus anak orang, sedangkan anak sendiri diurus oranglain.a�?

a�?Sekalian saja tinggal bersama guru disekolah, besok kan sekolah lagi sampai sore.a�?

a�?Anak saya bisa stres di sekolah terus.a�?

a�?Kapan ketemu orangtua, keluarga dan teman sepermainan ?

***

Adalah kalimat dan celotehan pedas, sinis dan mengecam dari para facebookers yang melihat rencana full day school bagi siswa SD/MI SMP/MTs. Walaupun masih kajian.

Belum genap dua bulan dilantik, kini membuat polemik.

Walaupun baru sebatas wacana, namun ide tersebut tetap menajadi bola liar bagi guru di Indonesia. Apalagi guru di daerah terdepan, guru dengan status honorer dan tidak tetap.

Diantara alasan rencana full day school oleh Prof. Muhadjir yaitu pertama, sistem ini untuk menyesuaikan jam belajar anak dengan jam bekerja orang tua, sehingga pengawasan terhadap anak jadi lebih maksimal.

Proses pembelajaraan akan dilakukan di dalam dan di luar kelas, tidak sepenuhnya dalam kelas.

Kedua, dengan kebijakan tersebut diharapkan berimbas pada diuntungkannya orangtua terhadap pembengkakan biaya pendidikan anak semisal kursus, les dan privat anak.

Dengan memaksimalkan peran dan fungsi guru. Ketiga, meminimalisir pengaruh negatif dari pergaulan luar yang tidak terkontrol, bahkan akunya untuk dapat memonitoring materi pembelajaran agama yang dikhawatirkan ekstreem.

Beberapa ulasan media cetak dan elektonik juga menyampaikan bahwa alasan usulan tersebut dalam rangka memaksimalkan potensi anak bangsa yang yang berkarakter, bernilai kompetetitif dalam dunia global.

Kehadiran model full day school adalah jawaban kegelisahan tersebut. Ulasnya.

Banyak Sekolah Menjadi Penjara Bagi Kreativitas Anak?

Bayangkan bilamana produk ini diterapkan. Banyak kasus kekerasan di sekolah, yang dilakukan oknum guru dan oknum temannya.

Seakan sekolah bukan tempat yang aman, menggembirakan dan menyenangkan untuk belajar. Banyak oknum guru yang masih menunjukkan sikap tidak profesional. Masih banyak guru yang horor, menakutkan, baik secara verbal maupun non verbal.

Sekolah ibarat hantu yang menakutkan anak-anak. Pola pembelajaran intimidatif. Bahkan banyak oknum guru yang tidak memahami kecendrungan, kelebihan dan kekurangan anak.

Tidak semua guru di sekolah mampu dan siap memegang tugas dan tanggungjawab mendidik sekaligus menjaga kondisi mental dan fisik anak dari pagi hingga sore.

Secara psikologis, kegiatan konsentrasi belajar anak terhitung efektif pada 15 menit pertama mata pelajaran/kegiatan. Selebihnya adalah kelelahan dan inkonsentrasi dan inkonsistensi.

Maka yang muncul kemudian adalah tidak nyaman, tidak betah dan kondisi mental block dan inner hostility, sebuah perasaan yang membenci dirinya akibat dari lingkungan luar yang dipaksa untuk ia terima.

Quality Times bukan Quantity Times

Belajar, menurut Ki Hadjar Dewantara adalah bersumber pada tiga spot yaitu belajar di sekolah, keluarga dan masyarakat termasuk didalamnya adalah media.

Anak-anak belajar pada setiap interaksi dan sendi kehidupan yang dia amati, alami dan rasakan. Model utama, sumber insfirasi dan pusat belajar adalah orangtua, guru dan lingkungan termasuk didalamnya adalah media.

Bukan hanya di Sekolah. Karena di sekolah senyatanya belum mampu menjadi multing pot dari sebuah model universal belajar.

Karena di sekolah belum sepenuhnya heterogen. Heterogenitas ada pada masyarakat. Melalui masyarakatlah anak belajar secara alami tentang vallues.

Semua kita bertanggungjawab sebagai uswah bagi anak-anak. Yang dibutuhkan dalam semua dimensi pembelajaran adalah quality times, seberapa bernilaikah momen-momen tersebut dapat diinternalisasi dengan baik oleh anak dalama rangka kesiapan mental (mental set) anak, dampak kesiapan fisik anak (physical set) dan emotional set dalam melaksanakan tindakannya.

Bukan seberapa lama anak-anak di sekolah, menjadi celaka bilamana di sekolah minim interaksi positif kecerdasan interpersonal- intrapersonal anak dengan lingkungan sekolah. Apalagi minim kecerdasan sfiritual.

Yang diutamakan adalah kecerdasan intelektual semata. Lalu, apakah sekolah sanggup menanggung semua tanggungjawab pada anak-anak yang kuatitasnya banyak?

Membangun nilai karakter anak, tentunya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebaiknya memformat kembali paradigma tenaga pendidik di semua tingkatan akan 4 hal sebagaimana disampaikan Dr. Maimun yaitu seorang guru sebaiknya penebar citra positif, guru idealnya sebagai model dan idola siswa, guru sebagai inisiator dan guru ikhlas, sabar dan empati.

Untuk mencapai ke empat hal tersebut setidaknya eksistensi guru idealnya memiliki pengetahuan yang luas (tsaqafatul fikri), akhlak yang kokoh (matinul khuluq) dan berkpribadian tangguh serta tegas.

Jika inisiasi full day school tersebut jadi impelentasikan, maka setidaknya banyak hal yang dikorbankan, semisal waktu bermain, waktu sitirahat, waktu bersosialisasi dengan teman, makini menghilangya rasa kasih sayang anak dengan orangtua dan lainnya.

Kehidupan dan belajar sepanjang hayat adalah utama, bukan belajar setiap hari.

Pendidikan model full day school di NTB, sejauh ini sekolah negeri di NTB belum mampu melaksanakannnya.

Karena keterbatasan alat belajar, sumber belajar, saranaprasarana bermain, tempat istirahat yang representatif, ketersediaan lingkungan yang representatif, guru yang inspiratif dan menyenangkan, guru yang meneladani, sekolah yang ramah anak, bil khsusus untuk para guru-guru, siapkah mereka mendampingi anak-anak hingga sore hari setiap hari?.

Sebaiknya Menteri Pendidikan dan kebudayaan banyak belajar dari pondok pesantren yang tersebar di polosok negeri yang telah teruji ratusan tahun berjibaku melahirkan sosok-sosok anak negeri.

Semisal NWDI dan NBDI yag tersebar di NTB dan kepulauan lainnya, tidak lupa juga berguru pada pesantren-pesantren dibawah NU yang me-nasional.

Untuk mensukseskan Program Nawacita Presiden Jokowidodo dalam sektor peningkatan karakter anak bangsa adalah dengan bersama-sama bersinergi dengan ragam cara dan upaya untuk melindungi marwah dan maratabat anak.

Menciptakan lingkungan yang dapat membangun seluruh potensi anak.

Orangtua, guru dan sekolah pastilah terbantu bilamana semua stakeholder bekerja seirama. Sehingga sekolah adalah arena untuk untuk sosialisasi diri terhadap apa yang anak-anak konsumsi di lingkungan sosialnya.

Walhasil, kelak diharapkan mampu berkompetisi dengan dunianya, untuk dunia dan akhirat. Amin. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka