Ketik disini

Metropolis

Kualitas Sekolah Di Mataram Mengkhawatirkan

Bagikan

MATARAMA�– Beberapa sekolah favorit di Kota Mataram ternyata masih kekurangan ruangan. Sebut saja SMAN 1 Mataram, SMAN 2 Mataram, SMAN 5 Mataram hingga SMAN 7 Mataram.

Beberapa sekolah ini masih menggunakan fasilitas seperti laboratorium, musala hingga perpustakaan sebagai ruang belajar. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Jika tidak ditangani segara, kualitas sekolah tersebut menjadi taruhannya.

a�?Iya memang masih banyak yang kekurangan (ruang belajar, Red). Ini sudah kami sampaikan ke Pak Wali,a�? kata Kabid Dikmen Dikpora Kota Mataram HL Abdul Hamid.

Dikpora, kata Abdul Hamid, tak dapat berbuat apa-apa. Lantaran tak ada anggaran di Dikpora untuk menyelesaikan persoalan kekurangan ruang belajar ini.

Bahkan, ia mengungkapkan Dikpora bukan kekurangan anggaran lagi. Tapi, sudah tidak memiliki anggaran sama sekali. a�?Kami saja di Dikmen tahun ini tidak punya anggaran sepeserpun. Ini dikarenakan rencana SMA yang akan diambil alih oleh Dikpora Provinsi, sehingga Bappeda tidak memberikan anggaran ke Dikmen,a�? beber pria berkumis tebal ini.

Ia membenarkan sekolah yang masih kekurangan ruang belajar diantaranya SMAN 1 Mataram, SMAN 2 Mataram, SMAN 5 Mataram dan SMAN 7 Mataram. Tak tanggung-tanggung, sekolah ini butuh empat hingga 12 ruangan untuk mendapatkan proses belajar mengajar yang ideal.

SMAN 1 Mataram misalnya. Hamid mengungkapkan sekolah yang dipimpin Lalu Fatwir Uzali ini butuh empat ruang belajar tambahan. SMAN 5 Mataram juga demikian. Sedangkan SMAN 2 Mataram dan SMAN 7 Mataram dikatakan butuh 12 ruang tambahan.

a�?Ini untuk menampung semua siswa agar bisa masuk pagi. Karena saat ini mereka masih menggunakan double shift. Kelas X masuk sore,a�? kata dia.

Dengan kondisi saat ini, Hamid mengaku banyak laboratorium, musala hingga fasilitas lainnya yang akhirnya terpaksa digunakan sebagai ruang belajar. a�?Tapi saya pikir tidak akan mengganggu proses belajar,a�? kilahnya.

Terpisah, anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram I Gusti Bagus Hari Sudana Putra menganggap ini sebagai masalah klasik. Akibat dari adanya ekpektasi masyarakat yang terlalu berlebihan terhadap suatu sekolah.

a�?Makanya saya paling setuju penerimaan lewat jalur BL itu dihapuskan. Agar ekpektasi masyarakat memfavoritkan sekolah ini bisa dikendalikan,a�? kata dia.

Sekolah negeri maupun swasta yang kurang diminati menurutnya juga harus berinovasi dan meningkatkan kualitas. Agar masyarakat juga bisa menaruh kepercayaan kepada sekolah tersebut.

a�?Lihat saja sekolah swasta seperti SMAK Kesuma Mataram. Mereka bisa berpestasi akademik dan non akademik. Lantas orang tua bisa percaya menyekolahkan anak-anak mereka di sana,a�? paparnya.

a�?Kelola sekolah dengan professional agar masyarakat bisa percaya,a�? sambngnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Dikpora NTB, Muh Suruji mengatakan kemungkinan besar SMA sederajat akan berada dibawah tanggung jawab Dikpora Provinsi per 1 Januari 2017 mendatang. a�?Semula direncanakan Oktober, namun hingga saat ini masih belum ada kejelasan dari pusat. Jadi kemungkinan besar 1 Januari 2017,a�? ujar Suruji. (ton/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka