Ketik disini

Headline Oase

Zaman Halal Narkoba

Bagikan

Seorang pria ceking, berselonjor kaki di sebuah bilik bale-bale bambu. Rambutnya terurai, matanya sayu, pipinya kempos. Ia, mengisap asap candu dari pipa yang ujungnya dibakar lampu templek. Sementara di depannya nampak gadis pelayan montok dengan kemban setengah dada. A�A�Sedang di pojok ruang ada pria lain yang sudah teler, meringkuk dimabuk madat, melayang ke awang-awang. Inilah sedikit gambaran suasana kedai-kedai candu yang tersebar seantero Jawa dalam novel Baboe Delima karangan MTH Perelaer sekitar tahun 1880-an.

Pengguna Opium di Jawa sekitar tahun 1870 (COLLECTIE_TROPENMUSEUM via Wikipedia)

Pengguna Opium di Jawa sekitar tahun 1870 (COLLECTIE_TROPENMUSEUM via Wikipedia)

Di permulaan abad-16, getah Opium ini adalah narkoba yang lazim dikonsumsi di nusantara. Para pedagang Arab, Cina maupun India telah hilir mudik memasoknya. Dari Asia Tengah candu mengalir ke tepian teluk Benggala atau semenanjung Malaya sebelum dipasarkan ke pedalaman. Para raja hingga sultan-sultan mendulang pundi-pundi harta dari izin monopoli peredaran opium.

Ketika Kongsi Dagang Hindia (VOC) tiba, gulipat untung dari peredaran madat ini tak disia-siakan.A� Tahun 1677 VOC mendapat izin mengedarkan opium di wilayah Kerajaan Mataram dari Raja Amangkurat II. A�JC Baud menyebut inilah tonggak awal bagaimana Belanda mengorganisir peredaran opium di Pulau Jawa hingga berabad-abad kemudian.

Setelah VOC tumbang, Belanda lebih memaksimalkan peredaran narkoba ini. Khusus di Pulau Jawa dimana kekuasaan Belanda telah dikukuhkan, izin peredaran candu dibagi dalam wilayah-wilayah konsesi Pak Opium (opiumpacht). Wilayah itu dapat meliputi sebuah distrik atau keresidenan. Dalam periode tertentu wilayah tersebut dilelang kepada kongsi-kongsi dagang yang sanggup memberi keuntungan (pajak opium) tertinggi bagi pemerintah.

Pak Opium ini tumbuh menjadi kelompok-kelompok berkuasa dengan kekuatan pengaruh dan finasialnya. Sebagian besar mereka adalah warga Tionghoa. Misalnya tahun 1870, nilai Pak Opium di Semarang ditaksir bernilai 26 juta gulden, angka ini mampu menyumbang nyaris satu juta gulden pajak ke kas negara. Jumlah yang sangat besar untuk zaman itu. Kelak dari uang narkoba A�inilah jalan-jalan baru dibangun, pelabuhan hingga membiayai perang-perang.

Menghisap opium kemudian menjadi gaya hidup. Sebuah simbol ketinggian status bila dalam acara-acara tertentu tuan rumah menyajikan opium untuk dihisap para tamu. Sementara dalam jamuan yang lebih mewah tuan rumah akan mengadakan pesta candu bagi tamu-tamu terhormat. Mabuk madat ini tentu dilengkapi hiburan penari dan musik pengiring.

Tapi masifnya peredaran candu membuatnyaA� tak hanya dikonsumsi bangsawan dan keluarga kaya. Para bandar tau betul cara mengemas agar masyarakat miskin ikut a�?maboka�?. Sebuah cataan Inspektur Urusan Opium Belanda, Charles TeMechelen menyebut, di Jawa sekitar tahun 1885, para buruh perkebunan bergaji 25 sen perhari dapat menghabiskan 10 sen hanya untuk mabuk candu.

Inilah zaman ketika orang boleh memakai narkoba sesukanya tanpa khawatir dirazia polisi. Asal ada uang kedai-kedai candu yang tersebar di berbagai tempat siap membuka pintu. Selain itu candu menjadi teman setia para penjudi hingga lelaki hidung belang di rumah-rumah pelesiran.

Tapi, dampak kesehatan yang ditimbulkan A�candu telah lama menimbulkan polemik.A� Para pembela tentu punya alibi tersendiri. Suluk Gatoloco sebuah karya sastra Jawa abad 19A� menyebut opium tak sekedar membikin mabuk namun diyakini menambah vitalitas pria. Tapi dalam Wulang Reh, Pakubuana IV penguasa Surakarta mengutuk keras para pemadat.

Candu sendiri bukan tak bermanfaat. Kandungan morfinnya telah lama menjadi bagian dari pengobatan, penghilang rasa sakit paling ampuh. Sebutir tike (racikan candu) murah seharga lima sen di tahun 1889 mengandung mengandung 15 miligramA� morfin.

Para ilmuan awal Islam semisal Muhammad Ibn Zakaria al-RaziA� (845a��930) hingga Abu al-Qasim al-Zahrawi (936a��1013) sejak lama menggunakan morfin pada candu dalam tindakan medis. Maka wajar jika berabad kemudian Thomas Sydenham seorang dokter Inggris di tahun 1680 menyebutA� tak ada obat terbaik yang pernahA� diturunkah tuhan ke bumi selain Opium. Hanya saja penyalahgunaan morfin inilah yang hingga kini jadi soal.

Tapi, seperti lazimnya mafia narkoba moderen, gelimang uang dari peredarannya kerap berujung sengketa. Lengkap dengan intrik-intriknya. Dua babak Perang Opium antara Inggris dan China (1839 – 1842 dan 1856 a�� 1860) adalah buah dari bisnis candu. Serangan Belanda ke Bali dan Lombok di penghujung abad ke-19 boleh jadi karena candu.

Pulau ini adalah rumah bagi para penyelundup opium murah sebelum mengedarkannya ke Pulau Jawa. Para penyelundup adalah musuh bagai penguasa. Misalnya Oei Soen Tjioe adalah seorang penyelundup opium ternama yang mendapatkan izin menggunakan Karangasem sebagaiA� basis usaha dari Raja Lombok. Darisini candu ilegal itu diselundupkan ke sejumlah pelabuhan di pesisir utara Jawa. Karena itu wajar jika di tahun 1890, impor candu menjadi sumber penghasilan terbesar ketiga bagi Kerajaan Lombok-Karangasem setelah beras dan tembakau.

Janji keuntungan dari penyelundupan narkoba masih menggiurkan hingga kini. Candu hadir dalam berbagai varian. BNN menyebut hingga 2016 jumlah penguna narkoba di Indonesia mencapaia 4,2 juta orang, 1,8 juta diantaranya kecanduan. Angka ini adalah pasar menggiurkan bagi para penyelundup. A�Ketika kini para penyelundup dari semenanjung Malaya ramai, tentu tak mengherankan. Ini adalah jalur transaksi tua yang telah dilalui berabad silam.A� Jadi mungkinkah candu kembali dilegalkan?

*Penulis :Zulhakim, Jurnalis, co founder Semeton Ampenan

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka