Ketik disini

Headline Opini

Biarkan Mimpi Itu Jadi Kenyataan

Bagikan

Saya Bermimpi, jika biaya-biaya itu semua ditanggung pemerintah, tentu anak-anak dari orang miskin bisa menikmati pendidikan berkualitas

KEMARIN, seorang kawan datang curhat kepada saya. Dia memergoki anaknya yang baru kelas 2 SMP tengah merokok di kamarnya. Kawan saya itu kaget sekaget kagetnya. Saking kagetnya, dia sampai tidak bisa berkata-kata ke anaknya. a�?Saya hanya bisa menangis bu,a�? kata kawan saya itu.

Setelah hatinya tenang, dia bertanya kepada sang anak, siapa yang mengajarinya merokok. Ternyata sang anak mengaku belajar merokok setelah melihat kawan-kawan di komplek tempat tinggalnya merokok.

Memang lingkungan kita saat ini sudah mulai kurang kondusif bagi perkembangan anak dan remaja. Kita bisa lihat, anak-anak begitu mudah menemukan orang merokok sembarangan, bahkan melihat orang yang pacaran, dan minum-minum dengan terang-terangan.

Di beberapa lingkungan kabarnya, anak-anak sudah biasa melihat orang yang tengah menghisap ganja. Bukan tidak mungkin, anak-anak kita bakal terpengaruh lingkungannya dan mengikuti pola prilaku seperti itu.

Saya yang kini memiliki tiga anak jujur saja sangat khawatir dengan pengaruh lingkungan ini. Saking khawatirnya, kepada suami, saya meminta agar anak-anak kami langsung a�?diungsikana�? ke pesantren di Jawa selepas tamat SD nanti. Biarlah kami menahan beban rindu dan hanya melihat anak kami setahun dua atau tiga kali, yang penting mereka terbebas dari pengaruh lingkungan yang negatif.

Membebaskan anak dari pengaruh negatif pergaulan di lingkungan ini memang sangat sulit. Sebagian besar waktu anak, dihabiskan bermain bersama teman-temannya di lingkungan tempat tinggal. Karena saya tahu persis kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal saya, saya berupaya membuat anak-anak saya tidak banyak bergaul di lingkungan yang kurang kondusif ini.

Itulah yang membuat saya kemudian menyekolahkan mereka di salah satu sekolah yang menerapkan full day school di Mataram, meski belum 100 persen full day. Saya berharap, sebagian besar waktu anak-anak saya dihabiskan di sekolah, di mana mereka bakal dididik dan diawasi oleh guru-gurunya yang profesional.

Sehingga saya yang bekerja dari pagi hingga sore, bisa lebih tenang meninggalkan anak-anak saya. Karena saya yakin, di sekolahnya dia diajarkan, tidak hanya mata pelajaran A�eksakta, tapi juga budi pekerti dan moral, termasuk Alquran. Saya sangat bersyukur, dalam setahun anak saya sudah hafal satu juz Alquran.

(Terima kasih sebesar-besarnya kepada para gurunya yang dengan sepenuh hati mengajarkan anak-anak saya Alquran. Semoga menjadi amal jariah yang tidak terputus di akherat kelak.)

Yang lebih penting, mereka bisa terbebas dari pergaulan yang tidak baik di lingkungan tempat tinggal kami, terbebas dari aktivitas menonton TV, atau bermain handphone yang berlebihan dan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat lainnya.

Penerapan pendidikan budi pekerti yang baik di sekolahnya membuat saat di rumah, anak-anak saya begitu mudah diajarkan bersikap disiplin, menghargai orang tua dan kawan, serta sifat-sifat baik lainnya.

Karena sejak pagi hingga sore, dia senantiasa diajarkan dan menerapkan konsep tersebut di sekolahnya. Sampai di rumah, mereka menerapkan apa yang diajarkannya itu di rumah dan lingkungannya.

Sayang, belakangan media banyak mengkritik wacana penerapan full day school. Bahkan disebuah media, Mendikbud Muhadjir Effendy, sampai curhat jika dirinya habis di bully akibat melontarkan wacana tersebut.

Banyak pihak yang menolak full day school, dengan berbagai alasan. Seperti konsepnya tidak jelas, anak-anak, guru dan sekolah tidak siap, hingga kurangnya fasilitas yang dimiliki sekolah tersebut.

Alasan seperti ini memang bisa diterima. Karenanya wajar, jauh-jauh hari menteri pendidikan kita menegaskan, tidak semua sekolah negeri wajib menerapkan sistem ini. Namun beberapa sekolah saya kira sudah siap menerapkan sistem ini. Bukankah mereka memiliki anggaran besar untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolahnya.

Bukankan sekolah-sekolah ini memiliki sumber dana besar, baik dari APBD maupun dari dana BOS dan tentunya dana Komite Sekolah.

Soal konsep pendidikan yang menerapkan full day school, yang katanya tidak jelas, sebenarnya sudah terang benerang. Coba study banding ke sekolah-sekolah di daerah yang telah berhasil menerapkan full day school. Saya kira konsep full day school ini tidak jauh-jauh dari itu.

Yang banyak disebut para penolak full day school adalah kesiapan para siswa mengikuti pembelajaran dari pagi hingga sore. Alasan ini bisa dimaklumi, jika sistem pembelajarannya masih konvensional seperti yang kita alami saat masih sekolah dulu. Di mana kita hanya mendengar guru berbicara, mencatat, lalu mengerjakan tugas.

Namun konsep pendidikan kini sudah beda. Di sekolah yang menerapkan full day school, anak-anak belajar sambil bermain. Saya sering memantau bagaimana para guru mendidik siswanya di full day school, khususnya tempat anak saya menimba ilmu.

Tidak ada sekalipun saya mendengar kata-kata kasar, bentakan apalagi makian. Yang ada kata-kata santun, lembut, dan penuh kasih sayang. Termasuk terhadap anak-anak yang hiperaktif (kalau dulu kita sebut nakal).

Cara mendidik yang santun, ditambah lingkungan yang menerapkan moral dan cara pergaulan yang baik, membuat anak yang hiperaktif menjadi terpengaruh, dan mengikuti pola lingkungan seperti itu.

Intinya anak-anak ini belajar, tapi dengan konsep bermain. Jadi mereka merasa berada dalam sebuah lingkungan bermain, bukan lingkungan di mana hanya mendengarkan ceramah dari para gurunya yang tentu membuat bosan dan tentu saja ngantuk.

Tentu lebih baik jika anak-anak ini bermain di tempat seperti ini ketimbang keluyuran di lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan prilakunya. Apalagi tanpa pengawasan orang tua, yang kini lebih banyak waktunya dihabiskan untuk bekerja di luar rumah.

Anak-anak tentu punya fisik yang sangat kuat. Lihat saja, hampir semua anak, setelah pulang sekolah lantas lagsung keluar bermain. Jelang magrib baru mereka pulang. Jika lingkungan permainan mereka ini diarahkan dalam lingkungan sekolah yang lebih kondusif, tentu hasilnya bakal lebih baik bukan?

Kemudian soal fasilitas sekolah. Memang banyak sekolah di negeri ini yang fasilitasnya sangat minim. Dinding masih bedek, atap masih jerami. Namun sebenarnya itu semua bukan kendala, jika kita memiliki konsep yang baik soal pendidikan.

Sebagai contoh, di sebuah SD Islam Terpadu yang cukup ternama di Mataram, gedung sekolahnya dibangun bertahap. Gedung sekolah untuk anak-anak kelas 1 dan 2, masih berdinding triplek, beratap jerami, tanpa meja dan kursi. Bahkan ubinnya, masih berupa semen kasar yang diapisi karpet karet. Gedung sekolah lainnya hanya berupa rumah panggung dari kayu. Jangan di tanya pagarnya. Hanya papan yang dipaku seadanya.

Lokasinya pun cukup terpencil, di belakang perumahan, di pinggir sawah. Jadi jangan bandingkan dengan sekolah-sekolah lain di Mataram yang gedungnya jauh lebih mentereng.

Tapi soal kualitas pendidikannya, jangan ditanya. Makanya tak heran, banyak anak-anak pejabat, sekolah di SD tersebut. Termasuk anak Gubernur kita, pernah mengenyam pendidikan di sekolah a�?bedeka�? itu.

Jadi ketika konsep pendidikannya jelas, maka soal fasilitas sebenarnya bisa mengikuti. Dan saya yakin, sekolah-sekolah negeri di Kota Mataram ini memiliki anggaran yang lebih besar untuk memenuhi fasilitas yang dibutuhkan siswa didiknya.

Nah, jika kemudian yang dijadikan alasan adalah kesiapan gurunya, itu semua kembali kepada peran pemerintah dalam menciptakan guru-guru profesional.

Jangan gaji guru dijadikan alasan lagi. Ingat gaji guru di negeri ini, apalagi dengan adanya sertifikasi, berkali-kali lipat dengan gaji para guru swasta di sekolah-sekolah yang menerapkan full day school.

Tinggal bagaimana sekarang, pemerintah a�?memaksaa�? para guru menerapkan konsep pendidikan yang bermutu, sehingga tidak sampai kalah dengan sekolah-sekolah swasta yang berkualitas.

Kita berharap, sekolah-sekolah negeri ini menerapkan sistem pendidikan yang lebih layak dan berkualitas. Jika tidak memungkinkan, cukup sekolah setengah hari, tidak perlu full day school. Memang di sekolah-sekolah yang menerapkan full day school, biaya yang harus dikeluarkan orang tua siswa sangat besar.Kadang tidak terjangkau orang miskin.

Namun biaya tersebut sudah dirinci pengeluarannya sedetail mungkin. Bahkan untuk membeli buku dan pinsil, sudah dimasukkan dalam anggaran yang harus dibayar orang tua siswa.

Saya bermimpi, jika biaya-biaya itu semua ditanggung pemerintah, tentu anak-anak dari orang tua miskin bisa menikmati pendidikan berkualitas seperti ini. Di mana mereka tidak hanya belajar mata pelajaran umum, tapi yang lebih penting juga belajar berprilaku yang baik.

Sayang, sementara ini, karena pemerintah daerah kita sejak awal sudah berkomentar tidak siap, maka mimpi saya dan mungkin mimpi para orang tua yang lain, masih menjadi mimpi di siang bolong. (*)

A�

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka