Ketik disini

Praya

Di Desa Mertak, Merariq Kodeq Hal Biasa

Bagikan

PRAYA – Hasil survei Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB), di Lombok Tengah (Loteng) menemukan bahwa, keluarga yang rapuh, dapat menimbulkan masalah terhadap anak. Sebut saja, pelecehan seksual dan kekerasan, anak menjadi terlantar, tidak mengenyam pendidikan yang layak. Parahnya lagi, menikah dini alias merariq kodeq.

a�?Potret semacam itu, salah satunya terjadi di Desa Mertak Pujut. Di tempat itu, banyak keluarga yang rapuh,a�? kata Kepala BP2KB Loteng H Omdah pada Lombok Post, kemarin (14/80.

Namun, kata Omdah BP2KB tidak menemukan kasus pelecehan seksual atau kekerasan terhadap anak, di desa yang bertetangga dengan Desa Sukadana tersebut. Hanya saja, tradisi merariq kodeq, terjadi secara turun temurun. a�?Atas dasar itulah, Gugah Nurani Indonesia (GNI) Lombok, turun membantu. Kalau mengandalkan BP2KB, terbentur anggaran,a�? keluhnya.

Kasus semacam itu, kata Omdah terjadi juga di beberapa desa di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Khususnya, desa-desa pinggiran dan desa-desa terpencil. BP2KB dibantu dinas dan instansi lain pun, berkali-kali melakukan penyuluhan, namun tetap saja anak menjadi korban. Parahnya, pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak tidak bisa dihindari.

Sederetan kasus yang satu itu, menurutnya datang silih berganti. Lagi-lagi, penyebabnya adalah keluarga yang rapuh, akibat dililit ekonomi keluarga. a�?Dalam waktu dekat, kami akan melakukan evaluasi program. Kami ingin berusaha, merubah prilaku atau karakter masyarakat,a�? katanya.

Kendati membutuhkan waktu cukup lama, tenaga dan anggaran yang besar, tambah Omdah mau tidak mau, BP2KB harus menjalankannya. a�?Mohon dukungan semua pihak. Dengan cara, tetap menjaga keutuhan keluarga,a�? serunya.

Sementara itu, pengurus GNI Lombok Denok Sari Saputri membenarkan permasalahan yang terjadi di Desa Mertak. Di desa itu, kata Denok-panggilan akrabnya- sudah tidak terhitung berapa banyak anak, yang menjalani merariq kodeq. Sayangnya,hampirA� tidak ada upaya pemerintah untuk menekan.

Hal itu diketahui, setelah pihaknya bersama pengurus GNI lainnya, tengah melakukan survei, sekaligus pembinaan dan pendidikan. Hasilnya pun cukup mengagetkan, ternyata ketika kedua orang tua mereka bercerai, maka anaknya dititip ke nenek, atau kakek dan atau kerabat terdekat lainnya.

Tempat penitipannya pun, kata Denok mengalami kasus yang sama, yaitu keluarga yang tidak utuh. Akibatnya, anak menjadi terlantar, hingga terjadilah yang namanya merariq kodeq. Begitu seterusnya, hingga turun temurun.

a�?Anak-anak yang ingin sekolah di Praya saja dilarang. Karena, dikhawatirkan menikah. Itu yang ada dalam pikiran sebagian warga di Desa Mertak,a�? katanya.

Jalan keluar terbaik, menurut Denok adalah, pemerintah harus melakukan intervensi ekonomi, pendidikan dan kesehatan secara maksimal. Jika tidak, maka akan menjadi bom waktu. a�?Kami pun, berusaha ikut membantu,a�? katanya.(dss/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka