Ketik disini

Headline Metropolis

FDS, Belum Dicoba Sudah Takut

Bagikan

Wacana penerapan system Full Day School (FDS) masih menjadi perdebatan. Namun sebenarnya, FDS sudah diterapkan di sejumlah sekolah swasta di Mataram. Dengan fasilitas yang kadang tidak semewah beberapa sekolah negeri, sekolah ini terbilang berhasil menerapkan sistem tersebut. Lantas mengapa Dikpora masih tetap pesimis?

***

BEBERAPA sekolah di Kota Mataram yang sudah mulai menerapkan sistem FDSA� di antaranya Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Anak Soleh, SDIT Abu Hurairah, Sekolah Dasar Lentera Hati Islmic Boarding school dan SDIT Abata bilingual school, dan sejumlah sekolah lainnya. Lombok Post mencoba berkunjung ke sejumlah sekolah yang sudah mulai menerapkan system FDS ini.

Misalnya seperti di SDIT Abata school. Sekolah yang ada di Jalan Pejanggik ini sejatinya sudah baru berdiri sekitar awal tahun 2016 lalu. Gedung sekolah ini awalnya merupakan eks restoran. Namun kini sudah disulap menjadi gedung sekolah yang sangat indah dan nyaman untuk proses belajar mengajar.

Wartawan Lombok Post yang baru tiba di sekolah ini disambut oleh salah seorang pelajar. Namanya Dito. Itu diketahui setelah ia memperkenalkan dirinya. A�Meski belum kenal, bocah ini menghampiri wartawan. Ia mengajukan tangan untuk meminta berjabat tangan bersalaman. Setelah itu, ia baru mengingatkan untuk tidak boleh menaikkan sepatu di lantai tempat kami berdua berdiri.

Ia kemudian mengarahkan wartawan Lombok Post untuk membuka sepatu dan menaruhnya di dalam lemari yang memang dikhususkan sebagai tempat menyimpan sepatu. Lantas ia mengarahkan wartawan Lombok Post ke ruang guru. Setelah itu ia pun pamit melanjutkan aktivitasnya.

Camellia Susilowati, kepala sekolah setempat mengaku, saat ini siswanya sebanyak 23 orang. Mereka semua masih duduk di bangku kelas satu SD. Sisanya ada lima orang pindahan duduk di bangku kelas 3. Salah satunya adalah Dito, yang menyambut kedatangan wartawan Lombok Post sebelumnya.

SDIT Abata School adalah salah satu sekolah yang menerapkan full day school (FDS). Metode ini diterapkan lebih karena kurikulum pembelajaran ekstra yang ada. Selain menerapkan kurikulum pembelajaran standar Diknas, ada kurikulum tambahan, yaitu karakter Islam. Ada juga kelas ekstrakurikuler sehingga jadwal kegiatan siswa di sekolah cukup padat.

a�?Dalam kurikulum Islam anak-anak harus mengikuti tahfiz Alquran. Mereka ditargetkan menghafal aquran minimal tiga juz. Selain itu, mereka juga harus mengikuti pelajaran life skill dan ektrakurikuler,a�? kata wanita yang akrab disapa Meli itu.

Meli menerangkan rentetan kegiatan di SDIT Abata School. Ketika siswa baru mulai proses pembelajaran, mereka akan mengikuti kegiatan berupa senam yang disebut juga majelis pagi.

Ini sebagai salah satu upaya pemanasan sebelum dimulainya proses pembelajaran. Suasana hati para siswa dijelaskan perlu dibuat ceria terlebih dahulu. Sehingga, ketika proses pembelajaran dimulai nanti, mereka akan memulainya dengan hati yang senang.

Pada awal proses pembelajaran, siswa diwajibkan untuk membacakan hafalan hingga terjemahannya. Dalam proses ini, guru dituntut bagaimana mengajar dengan konsep fun learning. Sehingga proses belajar tahfiz Alquran ini berlangsung menyenangkan.

a�?Itu tantang bagi kami para guru. Bagaimana membuat siswa bisa belajar dengan senang, a�? kata dia.

Setelah itu, kemudian siswa diajak melaksanakan salat dhuha. Baik saat wudhu dan salat, siswa diwajibkan membaca bacaan dengan suara lantang. Sehingga guru bisamengetahui apakah siswa sudah bisa melafalkan bacaan dengan benar atau belum.

Dari pantauan Lombok Post, siswa SDIT terlihat bersemangat untuk melafalkan bacaan wudhu hingga salat. Jika salah satu diantara mereka hanya mengeluarkan suara kecil atau bisisk-bisik, maka guru yang mengawasi akan memintanya bersuara lebih besar lagi.

a�?Ini setiap hari kami lakukan agar mereka terbiasa. Jadi secara tidak sadar mereka akan bisa menghafal nantinya. Bisa karena biasa,a�? ungkap Meli.

Di pintu masuk musala, sandal para siswa terlihat berjejer rapi. Pihak sekolah sudah membuatkan garis hitam berbentuk kotak dekat dinding tempat siswa menaruh sandalnya. Sehingga, barisan sandal ini terlihat berjejer rapi seperti deretan mobil yang sedang parkir. a�?Ini mungkin kelihatan sederhana, tapi untuk membiasakan anak-anak menarus sandalanya dengan rapi ini susahnya luar biasa. Sampai saat ini masih ada beberapa yang harus kami ingatkan,a�? aku Meli.

Usai menjalankan salat dhuha, para siswa baru kan istirahat sejenak menikmati snack. Ini sebelum mereka memulai pembelajaran normal pada umumnya. a�?Setelah ini baru mereka belajar tematik, Bahasa Indonesia atau yang lainnya,a�? sambungnya.

Satu hal yang menarik, saat salah seorang siswa meminta bantuan guru, para guru kompak menjawab a�?no English no servicea�?. Ini dikatakan sebagai salah satu cara untuk membiasakan siswa menggunakan Bahasa Inggris.

a�?Kami ini kan bilingual school. Jadi kami berupaya agar para siswa bisa aktif berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris,a�? terangnya.

Akibatnya, meski masih belum kelihatan fasih salah seorang siswa mencoba berkumunikasi menggunakan Bahasa Inggris. a�?Can you help me please,a�? kata salah seorang siswa dengan suara agak kecil. Beberapa lainnya mengatakan a�?I want go toilet,a�? untuk meminta guru mengantarkannya ke kamar kecil.

Yang tak kalah penting pihak sekolah juga mengungkapkan ada beberapa materi life skill yang diberikan kepada siswa. Ini merupakan pembelajaran sehari-hari untuk menanamkan kebiasaan positif saat siswa nantinya berada di rumah.

a�?Kita ajarkan mereka bagaimana menyapu, membersihkan kamar hingga membantu ibu di dapur,a�? kata Meli.

Ada juga sejumlah tugas yang diberi istilah project of the week. Di mana para siswa diminta mengerjakannya bersama para orang tua. Nantinya, siswa akan pentas di depan guru dan orang tua terhadap suatu tugas yang diberikan. Secara tidak langsung, ini diyakini akan membentuk mental yang positif pada kondisi kejiwaan siswa sejak dini.

a�?intinya guru itu setiap saat berupaya memberikan pelajaran dengan konsep fun learning dan fun teaching. Jadi nggak asal ngajar yang selama ini banyak bikin siswa bosan. Malah kita sebagai guru yang lebih giat belajar. FDS ini tantangan tersendiri bagi guru,a�? kata jelasnya.

Inilah yang membuat guru setiap hari harus breaving sebelumpulang. Proses pembelajaran keesokan hari sudah harus disiapkan sejak sehari sebelumnya. Setiap minggu para guru juga akan diupgrade kemampuannya bagaimana agar bisa membuat proses belajar menyenangkan.

a�?Kebetulan ownernya ibu Ika Shinta Sari adalah psikolog. Jadi setiap minggu atau sebulan sekali kami disegarkan kemampuannya bagaimana bisa memahami kondisi kejiwaan pada anak-anak,a�? jelasnya.

Selain SDIT Abata School, Lentera Hati Islamic Boarding School juga telah menerapkan system FDS ini. Bukan karena arahan menteri, melainkan memang sudah sistem yang dibuat sendiri. Bukan hanya dari jenjang Sekolah Dasar (SD), sejak PAUD hingga TK sudah mulai berlaku sistem FDS. Mereka belajar di sekolah mulai dari pukul 07.00 Wita hingga pukul 16.30 Wita.

Sama seperti SDIT Abata School sekolah ini juga mengajarkan tentang kurikulum ke-Islaman, di luar kurikulum yang diwajibkan Diknas. a�?Anak-anak juga diajarkan belajar membaca dan menghafalkan ayat serta doa pendek,a�? kata salah seorang guru di Lentera Hati Islamic Boarding School, Linar Winstiawati.

Ia nampak sibuk mengajarkan anak-anak mengaji secara bergiliran satu per satu. Di dekatnya, salah seorang guru lainnya yang dipanggil siswa a�?ustada�� juga sedang mengajar. Namanya, Murzazi, ia adalah rekan Linar sesama guru.

a�?Bunda sekarang giliran saya ngaji. Tadi pagi saya belum sempat ngaji,a�? kata Syarifa, salah seorang siswa.

Dengan suara melengking, Syarifa mulai membaca a�?bismillaha�� lantas diikuti bacaan Alquran. Sekilas Syarifa terlihat nakal. Ia terlihat hiperaktif dan tak bisa diam. Giginya yang masih ompong ternyata tidak bisa jadi ukuran untuk menilai kemampuannya. Ia terlihat sangat fasih membaca Alquran.

Kepada wartawan Lombok Post ia mengaku baru berumur 8 tahun. Namun, demikian bacaan Alqurannya sudah cukup lancar. Bocah yang awalnya tidak bisa diam ini seketika berubah tampak seriusA� ketika disimak dan diajarkan mengaji oleh Linar.

Linar sendiri sejatinya bukanlah seorang guru yang berbasis guru agama atau guru ngaji. Ia di sekolah ini adalah guru yang mengajarkan pelajaran teknologi dan sains. Mengingat latar belakangnya sebagai alumni FKIP Uram program studi Fisika.

a�?Karena apapun latar belakangnya, semua guru di sekolah ini adalah mereka harus punya ilmu mengaji. Itu persyaratannya. Sehingga nanti guru bisa mengajarkan anak-anak ngaji,a�? bebernya.

Linar mengungkapkan, setiap anak di sekolah ini diwajibkan setiap hari untuk mengaji. Mereka juga harus megikuti salat sunah dhuha. Ini yang membuat susasana pembelajaran di sekolah layaknya pondok pesantren. Dalam sehari, anak-anak bisa mengaji dua sampai tiga kali.

a�?Tapi kita menerapkan metode pembelajaran yang tidak akan pernah membuat mereka bosan,a�? terangnya.

Ketika azan berkumandang, para siswa diistirahatkan. Mereka kemudian secara otomatis bergegas menuju musala untuk melaksanakan salat berjamaah. Baru setelah selesai salat mereka diperbolehkan istirahat sambil menikmati makan siang bekal yang dibawa.

Menarik diketahui, dalam setiap kelas, ada dua sampai empat guru yang mendampingi siswa belajar. Ada empat kategori guru di sekolah ini yakni guru kelas, guru minat dan bakat, guru bahasa dan guru Al Islam. Pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Konsep pembelajaran tidak hanya mengedepankan kemampuan intelektual, melainkan pendidikan karakter ahlak Islam serta diseimbangkan dengan berbagai kegiatan ekskul.

Setelah istirahat sejak waktu salat dzuhur, pembelajaran kembali di lanjutkan mulai pukul 14.00 Wita. Mengedepankan metode pembelajaran non formal, sistem pembelajaran tetap didukung oleh sarana teknologi informasi. Ini sebagai upaya lebih memudahkan anak-anak untuk memahami pelajaran yang disampaikan. Kegiatan pembelajaran juga tidak dibuat membosankan. Itu diselingi dengan bermain dan berolahraga. Jadwal yang padat mebuat anak-anak tak merasa kalau mereka sudah seharian di sekolah.

a�?Selain pelajaran kognitif, anak-anak juga akan dibekali dengan ekskul mulai dari wushu, pramuka, sempoa, seni dan music serta ekskul lainnya. Ini sebagai upaya menyeimbangkan otak kiri dan kanan,a�? terang Liniar.

Inilah yang menurutnya membuat siswa merasa betah di sekolah. a�?Kadang orang tua capek nunggu anaknya sampai jam 5 karena mereka keasikan beraktivitas di sekolah. Beberapa siswa juga ada yang nggak mau libur dan minta tetap masuk sekolah,a�? sambungnya.

Sekolah ini digagas oleh Dosen FKIP Unram yang juga psikolog, DR Muazar Habibi. Dijelaskannya FDS sejatinya bukan sebuah tujuan melainkan hanya instrument. Karena tujuan itu sendiri adalah bagaimana membuat anak cerdas, berkarakter dan lebih bermartabat.

a�?Anak-anakA� akan dilatih lebih mandiri dengan sistem ini. Tinggal bagaimana konsep pembelajaran didesain menyenangkan dan professional,a�? kata dia.

Sistem pembelajaran ini sebenarnya sangat efentif berdasarkan best practice di negara maju dan berpengalaman. Namun, FDS ini sudah banyak dilakukan di pondok pesantren di seluruh wilayah NTB. Sehingga ia merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan sistem ini.

a�?Syaratnya adalah perlu kajian komprehensif, strateginya dan bagaimana prosesnya. Ini semua perlu didiskusikan secara profesional,a�? paparnya.

Jika, tempat pendidikan sudah sangat siap, pola FDS sebenarnya tidak harus membuat Pemerintah Kota Mataram resah. Karena pada praktiknya, konsep ini memang tidak sulit. Selain itu, terbukti bisa diterapkan oleh lembaga pendidikan. Apalagi, rencana Kota Mataram akan dijadikan pilot project semakin memberi peluang pembentukan karakter bisa lebih masif dan optimal dilakukan.

Namun, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Kota Mataram, H Sudenom cendrung pesimis bisa menerapkan pola FDS. Sistem ini dinilai sulit berjalan karena kurangnya sarana memadai dan SDM guru yang siap memberikan pelajaran seharian penuh.

a�?Meskipun berisi kegiatan menyenangkan, kalau setiap hari begitu, dong bosan mereka,a�? cetusnya.

Meskipun beberapa sekolah terbukti sukses menerapkan FDS, namun bukan berarti dampaknya akan sama pada semua sekolah. Program itu, lanjut Sudenom tentu cocok untuk pola pendidikan yang dikhususkan bagi orang tua yang memiliki tingkat kesibukan tinggi dan menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter dan keilmuan ke pada sekolah.

a�?Persoalannya, banyak anak yang harus juga membantu orang tua setelah sekolah,a�? ulasnya.

Karena itu, ia melihat peluang penerapan FDS di Kota Mataram terbilang sulit. Mungkin untuk beberapa sekolah, masih memungkinkan. Namun pemerintah juga tentu harus mengakomodir keinginan para orang tua yang ingin membentuk karakter anaknya sendiri. Setelah mereka pulang sekolah.

a�?Susah (diterapkan),a�? ketus Sudenom pendek. (ton/cr-zad)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka