Ketik disini

Selong

Gunakan Bahasa Isyarat, Penontonpun Terharu

Bagikan

Kendati memiliki sejumlah kekurangan fisik, murid-murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Selong, Lombok Timur (Lotim) bersikeras ikut berpartisipasi dalam kegiatan baris-berbaris menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus mendatang.

Seluruh perintah diberikan dengan bahasa isyarat, menyanyikan lagu kebangsaanpun dilakukan dengan bahasa sandi.

***

Sabtu (13/8) pagi, perempatan Terminal Pancor sudah dijaga aparat kepolisian.

Seluruh kendaraan yang hendak menuju Selong diarahkan melalui jalur alternatif. Arak-arakan peserta lomba-baris berbaris menjadi penyebabnya. Jalan sepanjang dua kilometer tersebut sudah penuh oleh iring-iringan siswa-siswi dari seluruh Selong.

Semua menunjukkan kemahirannya. Tak sekadar gerak jalan, beragam formasi ditampilkan.

Dengan aneka pakaian dan atribut yang dikenakan, jadilah penampilan para pelajar ini makin mengagumkan. Setiap melewati sejumlah juri penilai, mereka unjuk gigi. Berpadu yel-yel dan lagu yang dinyanyikan, semua berharap kemenangan.

Suara lantang sang pimpinan dan anggota yang menjawab terus menyemarakkan suasana. Hingga kemudian satu grup datang dengan hening.

Hanya suara derap langkah kaki saja, tak ada perintah maju jalan atau bentuk formasi, apa lagi perintah bernyanyi dan yel-yel. Makin mendekati panggung kehormatan, mereka makin jadi pusat perhatian.

gayanya yang berbeda penyebabnya. Mengenakan seragam biru berpadu sapu dan kain emas yang melambangkan sebagian pakaian adat sasak, mereka tampak serasi. a�?Mereka dari SLB Selong,a�? kata Sudarti sang guru.

A�22 anak-anak berkebutuhan khusus itu adalah mereka yang termasuk Tuna Grahita dan Tuna Rungu. Mereka tak bisa mendengar dan tak bisa berbicara. Sang pimpinan grup yang juga sama berkebutuhan khususnya memberi perintah dengan bahasa isyarat.

Setiap siswa menjalankan perintah itu dengan saksama. Membuat formasi menghadap panggung kehormatan, mereka lantas menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Juga dengan bahasa sandi yang oleh banyak orang tak dimengerti.

A�Hanya tangan mereka yang bergerak, bernyanyi melantunkan setiap bait. Bibir yang coba menganga pun tak mengeluarkan suara dengan jelas. Namun siswa-siswi ini tak menyerah, mereka terus bernyanyi dengan caranya sendiri.

Sontak para penonton yang memenuhi lokasi memberikan aplaus meriah. Tak hanya itu, meski agak terlambat, mereka juga ikut bernyanyi.

Dengan suara lantang, penonton dan tamu kehormatan mengikuti arahan sang pemimpin grup dan siswa-siswi yang bernyanyi dengan kode.

Suasanapun berubah haru kala itu. a�?Siswa-siswi ini laik mendapat penghormatan,a�? kata Asisten Dua Bidang Ekonomi Pembangunan Pemkab Lotim Nuso Pranoto tampak berkaca-kaca.

Menurut Sudarti, sang guru pengajar Tuna Grahita, mendidik anak berkebutuhan khusus memang tidaklah mudah. Namun dengan penampilan mereka saat ini, menjadi pembuktian kalau tak ada yang tidak mungkin.

Dengan usaha dan kerja keras, anak-anak dengan keterbatasan mampu menunjukkan keahliannya. 22 anak itu mewakili anak-anak berkebutuhan khusus lain yang selama ini kerap diasingkan, dijauhi, bahkan dicibir.

a�?Terimalah mereka sebagai bagian dari anak bangsa yang juga bisa berbuat,a�? katanya memberikan pesan mendalam. (WAHYU PRIHADI, Selong.*/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka