Ketik disini

Tokoh

Demi Si Kombat, Mereka Tidur Dua Jam Sehari

Bagikan

Kompetisi robot menjadi ajang mencari otak-otak jenius di Indonesia. Kemampuan para perancang robot dalam setiap kompetisi seringkali membuat setiap orang geleng-geleng kepala.

***

Di tengah gelapnya malam, beberapa motor masih terparkir di depan gedung Fakultas Teknik Universitas Mataram. Jalanan di sekitar Universitas Mataram hanya diterangi lampu jalan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 Wita. Namun beberapa mahasiswa perancang robot masih terlihat sibuk di dalam gedung berwarna ungu tersebut.

Dua satpam masih berjaga di poskonya sambil menyeruput kopi. Terdengar  samar samar suara tawa dari dalam gedung. Tepat didepan motor  yang terparkir rapi dibasahi embun malam yang semakin dingin.

“Masih dia bangun anak-anak yang buat robot itu ternyata,” kata salah seorang satpam sambil menguatkan resleting jaketnya.

Semakin jauh memasuki gedung, semakin jelas suaranya. Melewati satu per satu anak tangga hingga lantai tiga. Terbentang lorong dengan deretan lampu di setiap pintu masuk masing masing ruangan. Rasanya itu adalah tempat paling terang malam itu.

Tidak ada suara lain terdengar selain dari salah satu ruangan. Seorang pria berkumis tipis asik di depan laptopnya. Sementara dua lainnya mengutak atik sebuah besi setinggi 1,5 meter dengan antena di atasnya.

Supriyadi, Dodi dan Eka memang sengaja mempersingkat waktu dengan candaan. Itulah salah satu cara untuk mempersingkat malam yang harus dilewati bersama robot buatan mereka.

Para mahasiswa ini harus rela mengurangi waktu tidur untuk mengerjakan Kombat (nama robot, Red). Bahkan, tiga mahasiswa semester tujuh ini hanya memiliki waktu dua jam untuk tidur.

Diakuinya, butuh waktu, tenaga dan pikiran untuk membuat tobot. Apalagi itu adalah robot pertama yang berhasil diciptakan dengan tangan mereka sendiri.

“Robot ini nantinya akan diterbangkan dengan balon untuk mengukur tekanan atmosfir pada ketinggian. Sedangkan antena ini berfungsi untuk menunjukkan letak robot yang diterbangkan balon itu,” katanya mengarahkan telunjuk ke robotnya.

Tapi jangan salah, meskipun baru menghasilkan satu robot, mereka sudah bisa menembus 16 besar kompetisi nasional muatan balon atmosfir. Kompetisi yang diselenggarakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tersebut terkenal ketat.

Sebelum menembus 16 besar, tim Falcon 2 (nama tim robot Unram, Red) harus bersaing melawan puluhan Universitas dari seluruh Indonesia.

Dijelaskannya, ada dua tahap seleksi sebelum bersaing dalam kompetisi. Seleksi pertama meloloskan 27 tim. Kemudian pada seleksi yang  kedua dikerucutkan lagi menjadi 16.

“Alhamdulillah tanggal 31 Maret kemarin pengumumannya. Kami lolos seleksi kedua,  saat itu saya langsung sujud sukur. Dan tanggal 22 Agustus besok kami akan berangkat ke Bandung untuk kompetisinya,” ucap Supriyadi yang menjadi Ketua Tim Falcon 2.

Tim Falcon 2 yang berawak tiga orang ini memiliki tugas sesuai dengan kemapuannya masing masing. I Putu Dodi Widi Hartawan sebagai programer antena, Lalu Imam Ade Guna Rinjani sebagai programmer sekaligus pilot robot, dan Supriyadi Tiyansyah Pramudiyah sebagai perakit komponen robot.

“Dalam satu tim kami memiliki tugas masing-masing dan membutuhkan kerja sama yang apik. Kalau salah satu dari kami ada yang salah, ya berantakan,” kata Supriyadi.

Kemampuan mereka membuat robot hingga menjadi kompetitor dalam ajang bergengsi ini bukanlah hal mudah. Supriyadi yang memang lulusan SMKN 3 Mataram jurusan Elektro ini mulai bermimpi membuat robot sejak membantu kakak tingkatnya pada tahun 2014 lalu.

Supriyadi mengaku saat itu mengagumi apa yang dikerjakan oleh para seniornya tersebut. “Bantu bantu senior bikin robot berkaki, tapi sambil diajarin. Padahal waktu SMA cuma belajar nyala nyalain lampu LED dan semacamnya,” guraunya.

Untuk membuat robot Kombat, Supriyadi dan kawan kawan membutuhkan waktu hingga satu bulan. Keterbatasan alat dan bahan menjadi tantangan utama bagi mereka.

Supriyadi harus menyambangi puluhan toko komponen elektro untuk mendapatkan bahan yang sesuai dengan kebutuhan. Bahkan tidak sedikit bahan tersebut ia peroleh dengan memesan dari Jawa.

Namun, kata Supriyadi, berkat dukungan dari kampus dan Himpunan Mahasiswa Tehnik Elektro ia dan dua temannya mampu menyelesaikan robot yang mampu mencapai ketinggian sembilan kilometer tersebut.

Bahkan jurusan lain seperti teknik mesin turut andil dalam mengantarkan tim Falcon 2 ke ajang bergengsi tersebut. “Pihak kampus mendukung kami dengan memfasilitasi tempat, himpunan dan dari teknik mesin juga bersedia meminjamkan alat mereka buat kami,” ucap Supriyadi bersyukur.

Meskipun lolos ke 16 besar sudah cukup membanggakan untuk Universitas Mataram, namun Supriyadi dan kawan kawan memiliki target dalam kompetisi ini. Meskipun diakuinya pesaing yang akan mereka hadapi nanti bukanlah tim sembarangan. Apalagi tim dari Institut Tehnik Bandung yang menyabet juara satu dan dua tahun lalu masih bertahan pada babak 16 besar. “Kita targetkan agar bisa tiga besar,” pungkasnya. (Ivan Mardiansyah – Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka