Ketik disini

Headline Oase

Menimbang Pahlawan

Bagikan

Siapakah pahlawan? Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, pejuang yang gagah berani. Selepas proklamasi, banyak orang dianugerahi gelar pahlawan. Ini terkait keterlibatan mereka dalam A�perjuangan kemerdekaan.

Mereka dikenang dibuatkan tugu atau diabadikan sebagai nama kampus, bandara atau jalan-jalan utama. A�Hingga A�tahun 2015 jumlah mereka yang ditetapkan oleh negara sekitar 168 orang. Lebih banyak lagi yang belum. Puluhan atau bahkan ratusan ribuA� tersebar hingga pedalaman nusantara. Mereka ikut menentang Belanda, menolak Jepang atau menghalau meriam sekutu.

Revolusi memang meminta banyak korban. Terlebih di masa agresi militer, orang-orang yang sudah kadung gandrung merdeka tak rela melepasnya kembali pada Belanda. Lebih dari itu api revolusi demikian menggairahkan. Dengan cepat mereka beradaptasi dengan karabin, mitraliur, pistol, geranat maupun bambu runcing.

Seperti laron yang terpesona dengan api, tua muda mereka menerjang medan juang, terbakar hangus dan kini dilupakan.A� Tak terhitung jumlah mereka yang hilang tak dikenal. a�?Kenang-kenanglah kami, Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu,a�? kataA�A� Chairil Anwar dalam puisi Karawang Bekasi.

 

Apakah semua itu pahlawan?A� Dalam revolusi kemerdekaan, apa motif mereka berperang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Idrus, dalam Surabaya menyebut di masa itu batas antara para pejuang sejati dengan para oportunis yang mencari untung dari kekacauan perang demikian samar. Dua-duanya mengangkat senjata melawan Belanda yang ingin kembali berkuasa.

Tapi sejarah adalah milik mereka yang menang. Merekalah yang menulis ulang dan memolesnya. Para perintis dasar republik dari jalur kiri seperti Tan Malaka, Alimin, Semaoen, Haji Misbach dkk. hampir tak ada dalam lembar sejarah yang diajarkan disekolahan. Jikapun ada sebatas dalam kaitan-kaitan miring dengan purbasangka terhadap kegagalan PKI di penghujung 1965.

Boleh saja Tan yang pandai dalam revolusi sudah dianugerahi gelar pahlawan di masa Orde Lama. Tapi apakah ada jalan-jalan utama ibukota yang mengabadikan namanya selepas rezim ini tak berkuasa?

Politik penguasa memang selalu ikut campur dalam menetapkan siapa yang boleh diberi gelar pahlawan nasional atau tidak.A� Kadar kepahlawanan seseorang ditimbang atas dasar kepentingan-kepentingan rezim yang memimpin. Bahkan Sukarno-Hatta baru mendapat gelar A�Pahlawan Nasional pada 2012 lalu, 67 tahun setelah mereka memproklamirkan kemerdekaan.

Rasanya tak heran jika gelar serupa sulit sekali diberikan kepada Almarhum Soeharto yang jelas ikut mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Masih ada yang harus dihitung dan ditimbang-timbang. Ini seperti sejarah yang berulang entah sampai kapan.

Tapi siapakah Pahlawan? A�Setiap orang tentu punya pahlawan sendiri. Zaman telah meluaskan definisi itu ke segala bidang bukan melulu soal mereka yang hebat di medan perang. Pahlawan disematkan untuk musisi, guru, penemu hingga istri-istri para pejabat negeri. Kumandang Indonesia Raya ketika Owi dan Butet A�meraih Emas di Olimpiade, Rio de Janeiro, Brazil (17/8) kemarinA� membuatnya dielu-elukan sebagai pahlawan.

Tapi pahlawan bagi sekelompok orang boleh jadi musuh bagi lainnya. SemisalA� Raymond Westerling bagi Pemerintah Belanda dan Warga Sulawesi yang dibantainya. Dia adalah dua sisi yang berlawanan.

Dalam konteks lainnya para pemuka Sasak Timur yang mengundang Belanda datang untuk menyerbu Lombok di tahun 1894 boleh jadi adalah pahlawan bagi bangsanya. Mereka A�berhasil membebaskan Lombok dari koloni Karangasem, Bali. Tapi dalam kerangka NKRI, hubungan mesra mereka dengan Belanda itu punya makna berbeda. Ini kontra produktif dengan sejarah yang digariskan penguasa yang menentang Belanda.

Ini juga berlaku bagi Arung Palakka (Aru Palaka), kesatria Bone yang berkongsi dengan VOC untuk membebaskan diri dari Kerajaan Gowa. Dalam konstruksi sejarah Republik Indonesia Aru Palaka bukanlah siapa-siapa, justru Sultan Hasanddin Raja Gowa yang ia perangilah yang diabadikan sebagai pahlawan. Tapi demikianlah sejarah bekerja.

A�

Penulis : Zulhakim, jurnalis, co founder Semeton Ampenan

Zulhakim

Zulhakim

Komentar

Komentar

 wholesale jerseys