Ketik disini

Headline Metropolis

Si Kuning Sekarat, Macet Menjerat

Bagikan

Tahun 90-an hingga awal 2000-an, bemo kuning berjaya di Kota Mataram. Kini kondisinya sekarat. Sayang tidak ada upaya menyelamatkannya. Padahal bemo kuning dan angkutan masal, solusi paling pas mengatasi hantu kemacetan yang kini mulai membayangi Kota Mataram.

***

a�?CAKRAa��Cakra,a�? teriak salah seorang sopir dari dalam mobilnya. Teriakan itu diarahkan kepada salah seorang perempuan yang tengah berjalan di trotoar. Sayangnya, perempuan yang tengah berjalan di depan Islamic Center menjawab dengan kode isyarat menggelengkan kepala. Pertanda ia tak ingin menuju Cakranegara atau naik mobil berwarna kuning yang dikemudikan laki-laki yang beteriak tersebut.

Karena tak ada penumpang yang berada di dalam mobilnya, mobil kuning tersebut akhirnya berhenti di Jalan Langko. Tepatnya di jalan raya yang diapit oleh Islamic center dan Masjid Raya Attaqwa mataram. Sang sopir nampak tertunduk ngantuk menyandarkan kepalanya di atas stir.

Sopir bemo kuning ini namanya Junaidi. Ia mengaku berasal dari Gunung Sari Lombok Barat. Ia sudah mencari nafkah di Kota Mataram dengan menjadi supir bemo sejak tahun 2005 lalu. a�?Sekarang sudah sekitar 11 tahun,a�? kata pria ini ramah.

Hari itu dia keluar mencari penumpang sejak pukul 09.00 Wita. Sayang, Junaidi mengaku tak banyak mendapatkan penumpang. Ia hanya mendapatkan kocek Rp 25 ribu. Uang tersebut bukanlah uang bersih yang bakal ia terima dan bawa pulang untuk keluarganya.

a�?Ini masih kotor. Belum buat beli bensin dan harus di setor ke yang punya mobil,a�? akunya.

Setiap harinya, ia mengaku mengoperasikan bemo kuning hingga pukul 18.00 wita. Dengan durasi waktu tersebut, ia bisa meraih pendapatan sekitar 70 hingga Rp 100 ribu. Jumlah ini tak menentu, kadang lebih kadang juga kurang. Itu dibagi untuk beli bensin serta disetor kepada pemilik bemo. Karena mobil yang dioperasikannya ini diungkapkannya milik tetangganya.

a�?Artinya pendapatan saya cuma buat makan saja, kadang tidak cukup,a�? tandasnya.

Kondisi bemo kuning saat ini menurutnya sudah tidak sama seperti dulu lagi. Jika diibaratkan, kehadiran bemo kuning kini sedang koma. Hidup segan mati tak mau. Karena seiring banyaknya kendaraan pribadi yang hadir di Kota Mataram, bemo kuning pun mulai ditinggalkan.

Dulu, dalam sehari para sopir bemo kuning bisa mendapatkan Rp 100 hingga 200 ribu. Namun, sejak tahun 2010, mendapatkan Rp 100 ribu saja per hari, mereka sudah sangat bersyukur.

a�?Itu pun nanti paling bersihnya ke kami sekitar Rp 30-50 ribu untuk dibawang pulang,a�? ungkap Junaidi.

Meski demikian, menjadi sopir bemo seolah menjadi jalan takdirnya. Ia tetap istiqomah menjalani pekerjaan yang sudah ditekuninya puluhan tahun ini. Meski persaingan dari hari ke hari tidak bersahabat seiring makin banyaknya kendaraan pribadi.

Saat ini, penumpang yang masih mau naik bemo diungkapkan Junaidi hanya beberapa ibu rumah tangga yang ke pasar. Selain itu, dikatakannya sangat sedikit warga yang mau naik bemo.

a�?Anak-anak sekolah sekarang mana mau naik bemo. Mereka sudah punya motor sendiri,a�? jelasnya.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan kendaraan pribadi menjadi salah satu pemicu terpuruknya kehadiran bemo kuning di Kota Mataram. Dari data UPTD Kantor Pelayanan Pajak dan Retribusi daerah (KPPRD) atau yang lebih dikenal sebagai Kantor Samsat Kota Mataram, mendata saat ini jumlah kendaraan pribadi di Kota Mataram mencapai 233.224 unit. Terhitung sejak Juli 2016 lalu. Dengan rincian 189.694 kendaraan roda dua dan 43.530 unit kendaraan roda empat.

a�?Setiap bulan rata-rata jumlah kendaraan ini bertambah sekitar 1.500 unit,a�? beber Eva Dewiyani, Kepala KPPRD Mataram.

1500 kendaraan baru setiap bulan ini, dijelaskan 1.375 kendaraan roda dua dan 125 kendaraan mobil. Ini yang setiap bulan semakin membuat padat jalan raya Kota Mataram. Padahal, pertumbuhan jalan melalui pelebaran jalan ataupun dibukanya jalan baru tidak begitu signifikan. Sehingga, mau tidak mau resiko kemacetan tidak dapat dihindarkan akibat membludaknya kendaraan pribadi.

Eva, sapaan akrab perempuan ramah ini menjelaskan, ada beberapa trend yang terlihat dari terus meningkatnya kendaraan pribadi di Kota Mataram. Misalnya saja pertumbuhan dijelaskan meningkat pada bulan-bulan tertentu. Terutama ketika jelang Lebaran, jelang tahun ajaran baru kalender pendidikan hingga di akhir tahun. Di bulan-bulan ini lonjakan kendaraan pribadi diungkapkannya biasanya meningkat.

a�?Kalau Lebaran, dulu biasanya identik dengan baju baru. Tapi sekarang Lebaran sudah identik dengan kendaraan baru,a�? candanya.

Selain itu, kehadiran akses jalan juga diungkapkan Eva sebagai salah satu pemicu terus tumbuhnya angka kendaraan pribadi. Ia memisalkan meningkatnya kendaraan pribadi di kawasan Lombok Tengah dan Lombok Barat sekitar jalur by pass BIL.

a�?Sejak ada jalur tersebut, warga beramai-ramai membeli kendaraan pribadi,a�? terangnya.

Lonjakan kendaraan prbadi inilah yang akhirnya mau tidak mau membuat keberadaan bemo kuning tersisihkan. Hal tersebut diungkapkan oleh akademisiA� Universitas Mataram bidang Transportasi Made Mahendra.

a�?Saat ini ciri-ciri kelumpuhan arus lalu lintas di Kota Mataram sudah mulai terlihat. Saya prediksi 5-10 tahun, akan terjadi kemacetan di titik-titik tertentu pada jam-jam sibuk,a�? jelas pakar Teknik Sipil Transportasi Universitas Mataram ini kepada Lombok Post.

Beberapa ciri yang kini sudah dapat dilihat di Kota Mataram dijelaskan dosen Unram ini yakni arus lalu lintas yang kian hari kian tinggi. Pertumbuhan jalan tidak begitu tinggi sementara pertumbuhan kendaraan sangat pesat. Termasuk angkutan umum yang sudah mulai tidak berfungsi. Hal ini dinilai menjadi tanda bahwa sebentar lagi Kota Mataram akan mengalami kemacetan seperti kota besar yang ada di Indonesia lainnya.

a�?Kalau sudah terjadi kemacetan kemudian bertindak, itu akan sangat sulit,a�? ujarnya.

a�?Kayak orang sakit, Mataram ini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kalau bakal menemui ajal,a�? imbuh pria yang meraih gelar magisternya di ITB tersebut.

Untuk itu, ia berharap pemerintah jangan sampai kebablasan. Salah satu solusi untuk menghindari kemacetan adalah mengaktifkan kembali kendaraan angkutan umum masal, termasuk bemo kuning. Harus ada kebijakan yang dibuat pemerintah sehingga bisa mendukung kehadiran kendaraan angkutan masal.

Karena seperti yang diketahui, arus mobilitas dan fleskibilitas yang tinggi adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan masyarakat. Ini yang tidak dapat diberikan oleh angkutan umum seperti bemo kuning. Mereka harus menunggu penumpang penuh atau minimal terisi setengah baru mau jalan mengangkut penumpang.

a�?Kelembagaan penegakan aturan harus diperkuat untuk mengawasi sistem pergerakan, jaringan dan kegiatan,a�? jelasnya.

Terpisah, Kabid Angkutan Darat Dishubkominfo Kota Mataram Lalu Wirajaya menjelaskan saat ini jumlah bemo kuning yang masih beroperasi di Kota Mataram tinggal sekitar 100 unit. Jumlah ini belum bisa dipastikan karena beberapa bemo kuning ada yang masih belum memperpanjang izin trayeknya.

a�?Banyak juga bemo yang tidak jalan,a�? ujarnya.

Sebenarnya, menurut dia untuk mencegah kematian bemo kuning ini, Pemkot Mataram melalu Dishubkominfo Kota Mataram mengaku sudah menyiapkan beberapa antisipasi. Misalnya saja dengan menjadikan bemo kuning sebagai angkutan sekolah. Sehingga nantinya, sejumlah bemo kuning ini bisa diberdayakan pemerintah. Sayang, keinginan tersebut hanya sekadar wacana dan tidak bisa direalisasikan hingga saat ini. (ton/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys