Ketik disini

Feature

Rindu Tanah Suci, Berharap Kesembuhan dari Ilahi

Bagikan

Menderita penyakit Parkinson dua tahun terakhir, tak menyurutkan niat Sumiati berangkat ke Makkah al-Mukarramah.A� Berteman kursi roda, didampingi suami tercinta, Sumiati mencari ridho Ilahi di Tanah Suci.

***

WANITA di kursi roda itu panik. Wajahnya mengkerut, berlipat-lipat. Tapi bukannya minggir, beberapa orang malah mengerubunginya. Tak terkecuali, beberapa awak media yang penasaran lalu membidikkan kamera.

a�?Minggir-minggir!a�? Lurah Kekalik Jaya Fathurrahman berteriak menghardik. Dia gusar. Apalagi setelah wanita di atas kursi Roda itu, berteriak-teriak, kalap.

a�?Makanya jangan dikerubungi, kasihan ibunya jadi panik. Jangan buat dia tegang,a�? sahut yang lain. Beberapa Satpol PP pun tak kalah sigap. Meminta siapapun yang berniat mendekat, segera menjauh.

a�?Aaaaaa!!!,a�? untuk kali kesekian wanita itu berteriak. Wajahnya sudah antara takut berkalang panik.

Dialah Sumiati. Istri dari Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Mataram, Mahsin. Pria kurus berkacamata itu, tak kalah sibuk. Dia ada di dekat sang istri. Turut serta pada pelepasan Jamaah Calon Haji di Kantor Wali Kota Mataram, kemarin.

Mendapati istrinya seperti itu, suara Mahsin bahkan nyaris habis. Hanya untuk berteriak-teriak agar belahan jiwanya tidak dibuat resah.

Ia mengerti perasaan istrinya. Ia tahu istrinya butuh ketenangan. Karena itu, bukan hanya teriak, Mahsin juga hilir mudik. Bolak-balik pula dia mencari tas khusus jamaah haji milik istrinya yang sempat tertinggal di pintu masuk acara pelepasan jemaah haji.

a�?Isti saya sakit, seperti yang dialami Muhammad Ali, sakit Parkinson,a�? tutur Mahsin kemudian. Suaranya nyaris tinggal tersisa di ujung tenggorokan. Meski sudah setengah berteriak, suaranya tetap terdengar kecil di telinga.

Mahsin lalu menceritakan,A� satu setengah tahun silam, tepatnya bulan Mei 2014, istrinya tengah duduk santai di berugak. Tetapi ketika hendak bergeser, ia malah terjatuh dalam posisi hendak berdiri. Meski kejadiannya tak fatal, lanjut Mahsin justru setelah di periksa ke dokter spesialis, istrinya divonis mengidap penyakit Parkinson.

a�?Ini cobaan yang harus dihadapi dengan sabar dan penuh keikhlasan,a�? ujar Mahsin. Lalu melenguh panjang.

Untuk diketahui penyakit Parkinson adalah degenerasi sel saraf secara bertahap pada otak bagian tengah yang berfungsi mengatur, pergerakan tubuh. Gejala yang paling umum adalah terjadi tremor atau gemetaran.

a�?Tapi dia tidak goyang (gemetar), hanya ada persoalan pada keseimbangan pada saat berdiri,a�? ungkapnya.

Ia juga sempat melakukan pemindaian sinar x pada kaki kanan istrinya. Dari hasil pemeriksaan, ada retakan. Namun setelah diobati, sudah berangsur membaik dan sembuh. Tinggal persoalan, penyakit Parkinson yang masih bersarang di dalam sarafnya. Karena itu, Mahsin akhirnya tetap pagah mengajak istrinya berangkat ke Tanah Suci. Sebab, dia yakin itu tidak akan berbahaya bagi istrinya.

a�?Dia (sumiati) juga pernah ditanya, mau berobat di sini atau di sana (Makkah), istri saya jawab di Makkah,a�? tuturnya.

Sejak itu, Sumiati selalu menanyakan kapan mereka akan menunaikan ibadah haji. Wanita yang kini sudah berusia 49 tahun itu sangat yakin, jika ada obat yang bisa menyembuhkan dirinya di Tanah Suci.

a�?Dia selalu bertanya a�?kapan berangkat?a��, saya bilang, a�?sabar insya Allah sebentar lagia��,a�? terang Mahsin, dengan mata berkaca-kaca.

Selama satu setengah tahun, Mahsin berusaha menggantikan peran istrinya di rumah. Sejak istrinya tidak bisa berbuat banyak karena pengaruh penyakit Parkinson. Tak hanya mengurus persoalan rumah tangga, baik memasak, mencuci dan mengurus anak-anaknya.

a�?Saya tidak punya pembantu, jadi saya sendiri yang urus semua,a�? ungkapnya.

Di samping itu Mahsin punya pekerjaan ekstra. Memandikan, menyuapi menggantikan pakaian dalam hingga popok yang digunakan sang istri yang sudah tidak bisa bergerak bebas. Tapi, sekali lagi Mahsin mengaku ikhas menjalaninya. Di samping, ia memang sangat mencintai sang istri.

a�?Makanya setiap jam istirahat dari kantor sekitar jam 12 siang, saya selalu memilih pulang. Lalu menjemput anak saya paling kecil yang duduk di kelas 5 SD. Setelah itu, memasak, menyuapi istri dan yang terpenting bisa sesering mungkin ada didekat dia, ,a�? ulasnya.

Jika sendirian di rumah, istrinya yang berjalan menggunakan walker, kerap mengalami phobia berlebihan. Merasa takut menjadi-jadi. Jika itu terjadi, Sumiati akan segera membuka pintu, gorden jendela dan menyalakan semua lampu untuk mengusir rasa takutnya.

a�?Pak Wali, Bu Wali, Pak Wakil, Pak Sekda, semua sudah berkunjung. Beliau-beliau berpesan pada saya agar tetap tabah dan sabar. Disamping itu, saya juga diminta menjaga kesehatan, agar bisa menjaga istri dengan baik,a�? ulasnya.

Mahsin mengatupkan kedua tangannya ke mukanya. Ia mengaku berusaha menahan rasa haru, karena akhirnya bisa dipanggil menjadi salah satu tamu Allah, tahun ini. Dia sungguh tabah dengan keadaan yang menimpa sang Istri.

a�?Saya memohon doa, agar istri saya menemukan kesembuhannya di sana, disamping itu mohon dimaafkan segala salah saya dan istri saya, jika ada tutur dan perbuatan, baik disengaja atau tidak, telah menyinggung perasaan orang lain,a�? tutupnya. Semoga mabrur Pak Kabag nggiha��! (L Moh Zaenudin/Mataram/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka