Ketik disini

Feature

Telantar karena Pakai Jasa Joki Kursi Roda Liar

Bagikan

Jamaah haji lansia dan yang berpenyakit menjadi sasaran para joki kursi roda di Tanah Suci. Semenjak tiba di bandara King Abdul Azis mereka sudah jadi incaran. Sementara di Masjidilharam, mereka terjebak memakai jasa joki kursi roda liar. Tak satupun jasa ini gratis.

***

KETUA Sektor 1 Daerah Kerja Airport PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi Mulyo Widodo mengungkapkan, di setiap kloter selalu ada jamaah yang harus didorong dengan kursi roda. Ada yang sejak di tanah air memang menggunakan kursi roda. Ada juga yang menggunakan kursi roda saat di bandara karena sakit.

Petugas kesehatan dari Indonesia sebenarnya sudah menyediakan kursi roda untuk menolong para jamaah seperti itu. Namun, jadwal kedatangan beberapa kloter sering berdekatan. Akibatnya, jamaah yang membutuhkan kursi roda sulit terpantau. Saat itulah para petugas angkut bandara yang biasanya bertugas mengurusi koper langsung mengambil alih peran petugas kesehatan.

a�?Tapi, ujung-ujungnya mereka memaksa minta uang. Tidak banyak. Kadang hanya 5 riyal (sekitar Rp 17.500). Tapi sangat mengganggu,a�? kata Mulyo.

Masalahnya, banyak di antara para jamaah lansia itu yang tidak membawa uang riyal. Tidak jarang pertengkaran terjadi antara para jamaah dengan tukang angkut. Karena itu, Mulyo meminta setiap petugas kloter yang membawa jamaah dengan kebutuhan kursi roda langsung menghubungi petugas berseragam PPIH. Keberadaan mereka sangat mencolok. Lokasinya tepat di depan pintu keluar ruang pemeriksaan dokumen imigrasi dan bagasi.

Kondisi lebih parah terjadi di Masjidilharam. Banyak joki kursi rodal liar yang meminta bayaran mahal. Askar Masjidilharam telah menangkap 10 joki kursi roda liar yang melayani jamaah Indonesia. a�?Mereka ditangkap askar saat prosesi tawaf dan sai jamaah belum selesai. Akibatnya, jamaah tersebut telantar sebelum menyelesaikan umrah,a�? ujar Wakil Kepala Sektor Khusus Masjidilharam PPIH Daker Makkah Harun Al Rasyid.

Sebenarnya ada petugas resmi yang melayani jasa mendorong kursi roda di Masjidilharam. Mereka mengenakan seragam dan mudah dikenali. Untuk tawaf dan sai, tarifnya sekitar 200 riyal atau sekitar Rp 700 ribu. a�?Kalau menggunakan jasa mukimin, tarifnya bisa jauh lebih mahal,a�? terang Harun.

Menggunakan joki kursi roda liar juga sangat berisiko. Apalagi jika ketahuan oleh askar Masjidilharam. Yang menjadi korban adalah para jamaah sendiri. a�?Kalau para joki itu ditangkap, jamaah yang didorong langsung digeletakkan begitu saja,a�? ujarnya.

Kasus jamaah haji Indonesia telantar gara-gara joki kursi roda liar terjadi di Masjidilharam Senin (22/8) sekitar pukul 02.00. Saat itu dua jamaah Indonesia menggunakan jasa mukimin selama tawaf dan sai. a�?Namun, mukimin tersebut ditangkap askar,a�? ujar Harun. Alhasil, dua jamaah itu terlantar. Mereka ditemukan oleh petugas sektor khusus dan akhirnya dibantu menyelesaikan ibadah.

Selang satu jam kemudian, petugas sektor khusus menemukan delapan jamaah haji Indonesia yang terlantar di tempat sai. a�?Penyebabnya sama, joki kursi roda liar yang mengantar mereka ditangkap askar,a�? kata Harun.

A�Jamaah Haji NTB Masih Tertahan

Sementara itu, di Mataram, dua jamaah masih tertahan karena masalah kesehatan. Keduanya diharuskan menjalani perawatan intensif di RSUP NTB sebelum diterbangkan ke Tanah Suci.

Dari kloter pertama, satu orang jamaah tertunda keberangkatannya karena menderita anemia. Namun, kondisinya saat ini dikabarkan mulai membaik. Sehingga, dimungkinkan untuk segera diterbangkan bersama rombongan kloter tiga yang akan berangkat hari ini.

Dari kloter dua, ada pula jamaah asal Kota Mataram yang tertunda keberangkatannya karena menderita gangguan ginjal. Hingga kini, JCH tersebut masih dalam penanganan medis dan belum bisa dipastikan kapan yang bersangkutan bisa terbang ke Tanah Suci.

Sementara, jamaah kloter tiga yang berjumlah 360 orang, berasal dari Lombok Barat sudah memasuki asrama sejak pagi kemarin. Mereka dijadwalkan terbang ke Jeddah dari Lombok International Airport (LIA), pagi ini.

Pantauan Lombok Post, sebanyak dua JCH pada rombongan kloter tiga itu pun harus dirujuk ke RSUP NTB. Mereka harus diperiksa kondisi kesehatannya lebih lanjut karena mengalami gangguan jantung.

Namun, hingga berita ini ditulis, pihak rumah sakit belum memutuskan apakah kedua jamaah yang dirujuk tersebut harus ikut ditunda keberangkatannya atau tidak.

Secara umum, dari 3.596 total JCH asal NTB, sebanyak 21 orang di antaranya memang batal berangkat pada tahun ini. Pembatalan itu dengan berbagai alasan, baik karena meninggal maupun karena jamaah sakit keras.

a�?Tapi, semua JCH yang tertunda keberangkatannya itu sudah dicarikan penggantinya. Sekarang, tersisa 5 visa JCH pengganti yang masih kita urus,a�? kata Kepala Bidang Haji dan Umrah Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) NTB H Maad Umar kepada Lombok Post, kemarin.

Dia mengatakan, kabar baik datang dari Tanah Suci. Hingga kemarin, dua kloter jamaah haji embarkasi Lombok sudah menginjakkan kaki di Jeddah. Seluruhnya tiba dengan sehat.

a�?Alhamdulillah, dua kloter yang berangkat di awal sudah tiba dalam keadaan sehat di Tanah Suci,a�? kata Maad.

Begitu tiba di Tanah Suci, jamaah langsung dihadapkan pada kondisi cuaca ekstrim mencapai 50 derajat celcius.

Untuk itu, sejak sebelum diberangkatkan, jamaah sudah diberikan pembinaan untuk mengantisipasi heat stroke atau serangan terik matahari.

a�?Kita belum terima ada jamaah kita yang dirawat di Tanah Suci sampai saat ini. Mudahan semua jamaah tetap sehat dan bisa menjaga diri dengan baik di sana,a�? imbuh Maad.

Saat ini, seluruh jamaah embarkasi Lombok yang telah tiba di Tanah Suci sudah mulai melakukan rangkaian ibadah seperti tawaf. Mereka tetap diingatkan untuk meningkatkan koordinasi dengan jamaah lain untuk mengantisipasi adanya jamaah yang tersesat. (Rahmatul Furqon/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka