Ketik disini

Selong

Dewan : Guru Jangan Main Pukul

Bagikan

SELONG – Wacana DPD RI agar tak semua tindakan fisik yang dilakukan guru terhadap murid dikategorikan kekerasan terhadap anak mendapat tentangan. Anggota DPRD Lotim M Yusri mengatakan, kekerasan fisik tetaplah sebuah tindakan salah yang tak bisa dibenarkan. “Kalau anak kelewat batas, ya tugas kita membimbingnya,” kata politisi Gerindra itu.

Menurutnya memberi celah guru melakukan tindakan fisik terhadap anak bukanlah langkah tepat. Dia berpandangan, UU yang melarang kekerasan yang saat ini berlaku sudahlah pas. “Sekarang bukan lagi zaman main pukul,” sambungnya.

Dia khawatir, jika ruang untuk melakukan tindakan fisik kembali dibuka, makin besar masalah yang muncul. Bisa jadi guru tak bertanggung jawab berlindung dibalik aturan tersebut. “Ospek perpeloncoan saja sudah dilarang, apa iya kita mau kembali mundur lagi,” katanya penuh tanya.

Terhadap siswa yang berlebihan, ia mendorong mengefektifkan peran bimbingan konseling. Bisa juga mengajak orang tua duduk bersama membahas tumbuh kembang anak. Namun jikapun ada kasus kekerasa, selama bisa didamaikan, menurutnya menjadi solusi terbaik. “Biarkan saja aturan saat ini, saya kira makin bahaya kalau diganti seperti wacana itu,”tegasnya.

Hal itu dilontarkan menanggapi pernyataan Anggota DPD RI asal NTB Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi (baca Lombok Post kemarin). Dia mengatakan tak sepantasnya guru dipidanakan ketika sedang berupaya mendidik dan mengajar. Jika terus dibiarkan seperti ini, ia khawatir para guru akan terkungkung dalam ketatnya aturan UU Perlindungan Anak. Pada satu sisi, ia mengatakan anak memang harus dilindungi, namun pada lain pihak, memperkarakan guru juga dianggap bukanlah solusi.

”Boleh jadi tindakan fisik itu merupakan bagian dari pembinaan,” ujarnya berargumen. (yuk/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka