Ketik disini

Giri Menang

Gara-Gara Hasil Tani, Dijuluki Kampung Haji

Bagikan

Berprofesi sebagai petani penggarap, sering dipandang sebelah mata. Terutama dari segi materi. Tetapi tidak di Kampung Repuk, Desa Labuapi, Kecamatan Labuapi. Dari hasil tani, hampir setiap tahun warga Kampung Repuk berangkat haji ke tanah suci.

***

TIDAK banyak jumlah kepala keluarga (KK) di Kampung Repuk. Hanya terdapat 42 KK saja atau kurang dari 200 jiwa.

Di kampung ini, hampir semua pria yang menjadi kepala keluarga berprofesi sebagai petani. Tapi bukan petani yang mempunyai lahan berhektar-hektar luasnya. Mereka hanya sebagai petani penggarap, menyewa lahan dari para tuan tanah di sekitar wilayah Desa Labuapi.

Meski hanya berprofesi sebagai petani penggarap, tetapi kerja keras mereka patut diacungi jempol. Terutama untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Buktinya, di musim haji tahun ini, sebanyak sembilan petani penggarap berangkat ke tanah suci.

Sembilan jamaah calon haji (JCH) asal Kampung Repuk yang berangkat tahun ini, antara lain Munadi bersama istrinya Rohaniah, Murdan dan istrinya Mariah, Sarah, Fitriah, Musiri, Musil, dan Sara’ah. Seluruhnya berprofesi sebagai petani penggarap di Desa Labuapi.

a�?Itu semuanya yang berangkat punya hubungan keluarga. Ada yang ipar dan saudara misan,a�? kata Muhammad Syukri, tokoh agama di Kampung Repuk.

Sebagai tokoh agama di Kampung Repuk, Syukri tahu betul bagaimana perjuangan petani penggarap untuk dapat berangkat haji. Semuanya dimulai dari nol.

Misalnya saja Munadi. Sekitar medio 1995 silam, Munadi memulai perjuangannya sebagai petani penggarap di Desa Labuapi. Dia bersama istri dan keluarga besarnya, mulai menyewa tanah sawah untuk ditanami sayuran.

a�?Benar-benar mulai dari nol, hingga akhirnya bisa mengembangkan pembibitan pertanian,a�? cerita Syukri.

Setelah 13 tahun menggarap lahan pertanian, Munadi rupanya berniat untuk pergi haji. Hingga akhirnya di 2008, dia bersama istrinya mendaftarkan diri untuk masuk dalam antrean haji. Setelah Munadi mendaftar, menyusul keluarga lainnya yang daftar haji.

a�?Tujuh orang keluarganya ikut daftar juga,a�? jelas pria yang juga ipar Munadi ini.

Menurut Syukri, kepergian sejumlah petani penggarap di kampungnya merupakan bukti kolaborasi usaha dan doa. Ini pula yang membuat kampungnya dijuluki gubuk haji. Karena bila di rata-rata, hampir setiap tahun ada saja yang berangkat haji.

a�?Ini sudah siap-siap 15 orang yang masuk dalam antrean haji,a�? ungkapnya.

Kepada koran ini, Syukri bercerita seperti apa budaya kerja keras petani penggarap di Kampung Repuk.

Setiap pukul 04.00 Wita, di saat orang lain tengah terlelap, para petani penggarap sudah berada di sawah masing-masing. Mereka memetik sayur mayur hasil pertanian, untuk kemudian di bawa ke sejumlah pasar di Lobar hingga Kota Mataram.

Bila musim kemarau melanda, maka jam kerja petani penggarap menjadi lebih lama lagi. Di pukul 01.00 Wita, mereka harus bangun untuk menjaga pintu air. Tujuannya agar pembagian air di sawah mereka bisa merata.

a�?Tapi sekarang di beberapa titik sawah sudah ada sumur, jadi kalau kemaraunya lama, mereka bisa mengandalkan itu,a�? tuturnya.

Kenapa yang ditanam sayuran, bukannya padi? Menurut Fadlun, salah seorang petani penggarap, itulah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan banyaknya petani penggarap berangkat haji.

Pria 55 tahun ini mengatakan, bila menanam padi, masa panennya hanya tiga kali dalam satu tahun. Berbeda dengan sayuran yang masa panennya bisa sampai lima kali dalam setahun. Selain itu, harga jual sayuran pun lebih tinggi dibandingkan padi.

a�?Jagung manis, brokoli, kacang panjang, itu yang paling banyak ditanam di sini,a�? ungkap dia.

Selain itu, lanjut dia, kehidupan petani penggarap tidak pernah neko-neko. Setiap usaha yang dilakukan, diniatkan untuk berangkat haji dan pendidikan anak mereka.

Bukan itu saja, mereka lebih memilih membeli kendaraan second dengan uang tunai, daripada beli kendaraan baru tetapi kredit.

Karena itu, meski memiliki penghasilan yang tidak seberapa, akan selalu disisihkan untuk membayar cicilan haji.

a�?Intinya kesederhanaan dan bagaimana cara mengatur penghasilan untuk bisa berangkat haji. Kalau ada Rp 500 ribu, ya kita tabung untuk haji,a�? kata pria yang saat ini masuk dalam antrean JCH Lobar. (Wahidi Akbar S., Giri Menang*/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka