Ketik disini

Praya

Keluarkan Bau Menyengat, Andalkan Air Hangat

Bagikan

Murni menceritakan, saat dirinya berobat di RSUD Praya, ia sempat dilarang pulang ke rumah alias ditahan, karena belum menebus biaya laboratorium.

***

“Ternyata benar slogan orang miskin itu dilarang sakit. Apalagi, sakitnya parah seperti saya ini,” cetus Murni saat menunjukkan kanker payudara yang bersarang didadanya.

Tepat pada 5 Mei 2015 lalu, ia dirujuk ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Mataram. Tujuannya, untuk melakukan pengecekan laboratorium kanker payudara yang dideritanya. Biayanya kala itu, sebesar Rp 360 ribu.

Setelah mendapatkan hasil laboratorium, dia dioperasi. Kata Murni, seluruh biaya operasi, obat-obatan dan alat kesehatan tidak dikenai biaya sedikit pun alias gratis. Kecuali, hasil laboratorium itu saja.

Karena itulah selepas operasi petugas setempat melarang dirinya meninggalkan rumah sakit, karena belum menyelesaikan biaya laboratorium. Ia baru boleh pulang setelah keluarga  berusaha mencari uang pinjaman.

Berbagai kejadian yang dialaminya itu pun, membuat Murni mengalami trauma. Ia takut berobat ke RSUD Praya, apalagi Puskesmas yang menolak dirinya. “Mungkin karena gratis, saya diperlakukan seperti ini. Maklum saja orang miskin,” keluhnya.

Untuk bertahan hidup, ia tidak saja menggunakan obat-obatan tradisional. Tapi, setiap harinya ia mengompres dengan air hangat. Dengan harapan bau yang tidak sedap yang timbul dari payudaranya berkurang. Karena, terkadang mengeluarkan nanah dan darah.

“Saya terkadang kasihan melihat anak saya, menutup hidung setiap malam. Karena, baunya cukup menyengat. Tapi, mau bagaimana lagi,” ujar Murni.

Ia mengaku bingung mau berbuat apa, kecuali berdoa dan berusaha. Sudah berkali-kali, ia dan keluarga memohon bantuan kepada Pemkab Loteng.

Namun, tidak kunjung datang bantuan yang diharapkan tersebut. “Saya sebagai ibunya Murni, mohon pemerintah membantu anak saya ini. Mohon,” sambung Sapiah.

 Ibu ber uban itu, ikut membantu anaknya melawan kanker payudara. Namun, sebatas doa saja. Dengan harapan, Sang Maha Pencipta mencabut penyakit anak tercintanya itu.

“Mudah-mudahan, cucu-cucu saya ini tidak menjadi anak yatim piatu. Cukup bapaknya saja yang meninggal dunia, jangan sampai ibunya lagi,” keluh Sapiah sembari meneteskan air mata.

 “Sejak penyakit ini saya derita, saya sudah tidak bisa lagi menjadi pembantu rumah tangga. Saya hanya bisa diam dirumah, memohon keajaiban Allah SWT,” tambah Murni.(Dedi Shopan Shopian/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka