Ketik disini

Metropolis

Temukan Surat Lontar Ratusan Tahun Berisi Asal Usul Tanah Mataram

Bagikan

Bekerja tanpa kebisingan. Turun ke bawah mengumpulkan dokumen penting yang tercecer. Para pemburu jejak sejarah ini susah payah mejahit kembali benang merah kisah panjang Kota Mataram. 

***

SEBUAH surat lontar ditemukan Hj Nurhaslinda bersama timnya saat turun ke wilayah Cakranegara. Lembaran itu nampak kusam kecoklatan. Sebagian termakan rayap. Permukaan kertas bergelombang dan sangat rapuh bila disentuh. Goresan huruf kejawen pada kertas ini menegaskan usianya yang sudah cukup sepuh.

”Sudah ratusan tahun surat ini disimpan,” kata Nurhaslinda, kepala seksi pengelolaan dan layanan kerasipan, Kator Perpustakaan dan Arsip Kota Mataram.

Surat lontar merupakan surat tanah yang sudah berusia ratusan tahun. Sejak zaman kerajaan!

Meski sepintas surat tersebut hanya berupa tulisan biasa, tapi itu dokumentasi sejarah asal muasal tanah di Kota Mataram. Dari surat itulah, bisa diketahui sejarah panjang pembagian tanah yang ada di Mataram.

Untuk itu, ia memandang penting menjaga dan merawat surat lontar tersebut. Sebab arsip tanah tersebut bersifat statis dan harus tetap ada sampai kapanpun. Meski pun seratus orang berganti kepemilikannya, surat tersebut harus ada.

Saat ini sebanyak 140 arsip surat lontar tanah yang dikoleksi. Meski tidak banyak,  tetapi ini menjadi sebuah bukti bagaimana perkembangan jual beli tanah di zaman dulu.

Surat-surat ini berupa surat gadai tanah, surat jual beli tanah dan sebagainya. Ada yang  dibuat tahun 1921, bahkan ada yang paling tua dibuat tahun 1918.  Sehingga banyak surat yang sudah rapuh.

Meski demikian, tim pemburu arsip bisa memperbaiki dengan sistem laminasi  yakni restorasi dengan menggunakan tisu Jepang. Tisu khusus yang diimpor dari Jepang untuk membersihkan arsip tua tersebut. Setelah dibersihkan dengan tisu, kemudian dilaminasi sehingga rayap tidak akan mau memakan.

”Merawat arsip itu bagi orang-orang merupakan sesuatu yang membosankan,” katanya.

Ideal ruang penyimpanan arsip harus bebas rayap dan AC selama 24 jam dengan kelembaban yang berbeda. Tapi sayang kondisi ruang penyimpanan yang ada saat ini masih memprihatinkan. Ke depan ia berharap, Kota Mataram memiliki ruang penyimpanan yang lebih layak agar bisa mendokumentasikan lebih bayak lagi arsip daerah.

Untuk mendapatkan sebuah arsip, bukan pekerjaan gampang. Mereka harus turun ke kelurahan-kelurahan, lingkungan dan rumah-rumah warga yang memiliki dokumen penting. Ia dan timnya harus berusaha meyakinkan pemilik dokumen untuk diserahkan ke pemerintah daerah.

Biasanya pemilik dokumen merasa ragu menyerahkan warisan sejarah itu kepada pihak lain. Apalagi benda itu dianggap keramat dan penting. Tapi di sinilah para pemburu sejarah ini harus berusha meyakinkan si pemilik. Dan selama ini, tim arsip selalu berhasil, karena ia meyakinkan bahwa dokumen sejarah yang diberikan akan aman dan dirawat dengan baik, sehingga tidak akan mudah rusak.

”Syukur selama ini kami tidak terlalu banyak kesulitan mendapatkan arsip-arsip tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, pekerjaan mengumpulkan arsip bukan pekerjaan gampangan. Sebab dokumen yang dikumpulkan tidak hanya berupa kertas, tetapi bisa berupa foto, audio visual, file dan peta. ”Semua hal yang dapat memberikan informasi itu termasuk arsip,” jelasnya.

Ia memahami belum semua orang bisa memperlakukan arsip sebagai sesuatu yang penting. Padahal arsip merupakan dapur sebiah lembaga atau organisasi. Bila tidak ada pengarsipan, maka generasi selanjutnya tidak akan bisa mengetahui sejarah perkembangan sebuah organisasi dan sejarah daerah. Setiap perusahaan dan organisasi juga bisa meminta bantuan bagian kearsipan bila ingin menata arsip organisasi.

”Kami berharap bagi warga yang memiliki arsip penting, dokumen sejarah dan sebagainya bisa percayakan ke kami untuk merawatnya, kami jamin akan aman,” ujarnya. (Sirtupillaili/Mataram/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka