Ketik disini

Headline Metropolis

Obat Keras, Teror Nyata di Mataram!

Bagikan

MATARAM – Sebenarnya bukan info baru. Obat keras daftar G dimanfaatkan sejumlah orang untuk mengalami sensasi mabuk sampai teler. Tetapi, tulisan Dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram Widodo Dwi Putro dalam kolom Opini Lombok Post, seperti menyentak banyak pihak. Widodo menyebutkan, peredaran obat keras daftar G sudah marak dan meresahkan masyarakat.

Widodo melengkapi tulisannya dengan kasus anyar. Pada hari Selasa, 30 September 2016, sejumlah anak berseragam sekolah kedapatan mengonsumsi obat keras daftar G. Kepala Lingkungan Gomong Lama Misbah akhirnya melakukan pembinaan terhadap anak-anak tersebut.

Ketika dikonfirmasi kemarin, Misbah membenarkan adanya kasus tersebut. “Benar, kita memang lakukan penggerebekan di sebuah rumah dan saya ikut menyaksikan (penggerebekan itu),” tutur Misbah saat dikonfimasi Lombok Post melalui sambungan telpon.

Namun yang menarik dari informasi itu, disebutkan jika obat keras daftar G, ternyata beredar dengan mudah. Termasuk, di Lingkungan Gomong Lama Mataram. Misbah sampai mengupayakan sejumlah pembinaan agar warganya tidak menjual atau mengedarkannya.

Pertanyaan yang paling menggelitik adalah dari mana para penjual dan pengedar mendapatkan obat itu? apakah dari apotik?

Koran ini kemudian melakukan penelusuran secara acak. Mencoba menanyakan dan membeli obat keras daftar G, jenis Tramadol di beberapa apotik. Hasilnya, dari tiga apotik yang coba didatangi, antara lain, apotik Kimia Farma dan Apotik Lily Farma di Jalan Sriwijaya, serta apotik Surya di jalan AA Gede Ngurah Mataram, rata-rata mengaku tak menjual obat keras.

“Ada (obat jenis itu), tapi harus menggunakan resep dokter,” kata seorang pelayan di Apotik Surya.

Namun, seperti dua apotik yang didatangi sebelumnya oleh koran ini, apotik Surya tegas mengatakan jika obat keras itu tidak ada stoknya di tempat mereka.

Apa itu Obat Keras daftar G?

Sebelumnya koran ini juga menerima pesan broadcast dari sejumlah kepala lingkungan. Isinya dalam waktu dekat Kepala Lingkungan dan masyarakat Gomong akan melakukan deklarasi perang terhadap peredaran ilegal obat keras daftar G.

“Besok (hari ini, red), sekitar jam 9, lokasinya di Masjid Al Awabien, Gomong Lama,” ungkap Misbah.

Ada sanksi tegas yang ditimpakan bagi para pelaku yang kedapatan menjual dan mengedarkan obat keras yang diatur dalam Undang-Undang (UU) nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Jika mereka kedapatan menjual atau mengedarkan berarti melanggar pasal 197 UU no 36/2009 dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

Untuk diketahui, Obat keras daftar G (Gevaarlijk = berbahaya) adalah obat yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter. Ditandai dengan lingkaran merah, bergaris tepi hitam. Dilengkapi tulisan huruf ‘K’ di dalamnya.

Obat-obat yang masuk dalam kategori ini adalah, obat untuk antibiotik. Seperti, Tetrasiklin, Penisilin, Amoksisilin dan sejenisnya. Atau obat yang mengandung hormon, seperti penyakit diabetes, obat jantung, obat penenang, obat alergi dan lain sebagainya.

Konon obat-obat itu sering disalahgunakan. Bahkan dari sejumlah sumber menyebutkan para pelaku begal, meningkatkan kepercayaan diri dengan mengonsumsi itu, disamping menghirup lem Fox.

“Aroma lem Fox juga bisa bikin kecanduan,” kata sumber yang enggan dikorankan namanya. Namun dari sekian obat keras daftar G yang sering disalahgunakan adalah Tramadol, Trihexyphenidyl (THD), Somadril.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Usman Hadi mengatakan, obat yang dijual di apotik ada dua jenis. Ada obat yang bebas (tanpa resep dokter) dan ada yang harus menggunakan resep dokter. Ia mencontohkan seperti Amoksisilin. Kerap kali, apotik memang menjual obat ini, tanpa ada resep dokter. Bahkan di beberapa apotik, orang bisa mendapatkan obat ini dengan mudah.

“Padahal itu harus menggunakan resep dokter, itu sudah diatur dalam undang-undang,” tegas Usman.

 Sementara untuk obat keras daftar G seperti Tramadol, Trihexyphenidyl (THD), Somadril, Usman masih yakin jika obat itu tidak keluar melalui apotik. Sebab, pada dasarnya, pengawasan ketat juga dilakukan atas tiga jenis obat berbahaya itu. Usman, lebih mencurigai jika itu dilakukan oleh oknum melalui peredaran pasar gelap.

“Makanya dalam kasus anak (seperti yang disebutkan Widodo), saya belum tahu, obat apa yang disalahgunakan. Jika itu sejenis Tramadol dan lain-lain, bukan didapat dari apotik itu, tetapi dari peredaran gelap,” tegasnya.

Namun, Usman menegaskan jika sampai ada oknum dari apotik yang sengaja memperjualbelikan obat-obat itu, tentu itu lepas dari tanggung jawab mereka. Fungsi Dinas Kesehatan hanya meliputi pembinaan. Sementara pengawasan obat dan makanan termasuk izin ada di Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Biasanya, dalam pengawasannya, BPOM-lah yang mengomandoi sidak-sidak dengan menyertakan Dinas Kesehatan, Diskoperindag, Kepolisian dan satpol PP di lapangan.

“Jadi mereka yang ajak kami untuk melakukan pengawasan di beberapa apotik dan toko-toko makanan,” ulasnya.

Sementara itu, Kepala BNN Kota Mataram Nur Rachmat membenarkan maraknya penyalahgunaan obat legal seperti Tramadol, Trihexyphenidyl (THD), Somadril. Pihaknya saat ini masih terus mengintai jalur distribusinya. Namun, Nur yakin sebagian besar obat keras yang beredar, tidak melalui jalur resmi seperti apotik.

“Saya yakin tidak melalui jalur resmi seperti apotik, kemungkinan lewat pasar gelap,” jamin Rachmat.

Obat-obat itu, lanjut dia pada dasarnya adalah obat resmi atau legal. Boleh diperjual belikan pada masyarakat. Namun, lanjut dia, jika sudah mengarah pada penyalahgunaan tanpa resep dokter, BNN bisa bertindak untuk turun melakuan pengawasan.

“Kami dengar kasus itu, makanya kami akan lebih waspada,” terang dia.

Sejauh ini, untuk alur distribusi BPOM memang memiliki peran strategis memotong jalur peredaran obat-obat keras. Memastikan, agar obat tidak sembarangan sampai di tangan masyarakat dan memenuhi syarat-syarat yang telah diatur dalam undang-udang.

“Syaratnya seperti harus ada resep dari dokter, baru bisa didapat obat itu. Tapi saya yakin, tidak melalui apotik ya, sebab mereka juga tidak bisa seenaknya, karena ada pengawasan, (dari Dinas Kesehatan),” tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka